imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$INPS Perusahaan yang Pernah Bikin Anak $BBCA Minta Ampun

Request member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

INPS adalah salah satu perusahaan yang berhasil membuat anak BBCA minta ampun. Banyak emiten kelihatan dekat dengan negara, dekat dengan energi, dekat dengan rantai pasok besar, tapi kalau neracanya rapuh, kedekatan itu berubah jadi ujian harian. Di atas kertas, bisnis distribusi BBM, LPG, pelumas, plus logistik itu harusnya jadi mesin duit yang stabil karena barangnya selalu dibutuhkan, tapi kenyataannya mesin seperti ini sangat boros modal kerja dan sangat sensitif ke bunga. Investor sering terjebak menilai dari cerita operasional, padahal yang menentukan hidup-matinya justru angka kas, utang jangka pendek, dan beban yang menumpuk diam-diam di beban akrual. Jadi cara paling jujur menilai INPS adalah membandingkan era pra-IPO 2017 dengan kondisi per September 2025, karena di situlah pola naik-turun dan luka lama kelihatan telanjang tanpa perlu drama. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Total aset INPS turun dari Rp434,16 miliar pada 2017 menjadi Rp254,09 miliar pada September 2025, turun 41,5%. Total liabilitas memang ikut turun, dari Rp314,47 miliar menjadi Rp283,96 miliar, turun 9,7%. Masalahnya, penurunan liabilitas itu tidak cukup untuk menyelamatkan ekuitas, karena ekuitas yang dulu masih positif Rp119,69 miliar berubah jadi negatif minus Rp29,87 miliar. Ini bukan sekadar angka jelek, ini status, defisiensi modal artinya kerugian akumulatif sudah memakan modal sampai habis, sehingga setiap hari bisnis berjalan seperti orang yang napasnya ditopang kredit.

Pada 2017, aset tetap bersih masih Rp371,02 miliar, lalu pada 2025 tinggal Rp106,94 miliar, turun sekitar 71,2%. Itu menggambarkan armada dan infrastruktur yang dulu jadi tulang punggung terlihat menyusut besar, entah karena depresiasi, pelepasan aset, atau restrukturisasi yang menyisakan skala operasi lebih kecil. Di saat yang sama, muncul angka yang terasa ganjil buat bisnis distribusi energi yang idealnya cepat-putar, yaitu piutang lain-lain pihak berelasi Rp98,50 miliar, sekitar 38,7% dari total aset Rp254,09 miliar. Buat investor, ini alarm psikologis, karena aset besar berubah bentuk dari alat kerja menjadi tagihan ke pihak berelasi, sementara tagihan seperti ini sering tidak secepat kas untuk membayar kewajiban yang jatuh tempo tiap bulan.

Dari sisi liabilitas, perubahan strukturnya seperti memindahkan masalah dari satu kantong ke kantong lain. Utang bank jangka pendek turun dari Rp80,87 miliar di 2017 menjadi Rp67,99 miliar pada 2025, kelihatannya ada perbaikan. Tapi di 2025 muncul beban akrual Rp108,27 miliar yang besar sekali, dan ini bukan beban operasional biasa. Komposisinya didominasi denda bank Rp49,00 miliar sekitar 45,3% dari beban akrual, lalu bunga Rp46,27 miliar sekitar 42,7%, sisanya lain-lain Rp12,48 miliar sekitar 11,5%, ditambah gaji dan asuransi yang kecil. Buat investor, ini bahasa tubuh neraca yang jelas, beban masa lalu belum selesai, bunga dan denda menumpuk karena pembayaran tidak mulus, sehingga walaupun utang pokok terlihat turun, ekornya masih menggigit. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Tekanan paling nyata terlihat di likuiditas. Pada era IPO, rasio lancar 0,28x saja sudah masuk kategori napas pendek. Pada 2025, aset lancar Rp44,60 miliar harus menghadapi liabilitas jangka pendek Rp249,86 miliar, jadi rasio lancarnya sekitar 0,18x. Ini level yang membuat manajemen wajar menuliskan adanya keraguan signifikan atas kemampuan mempertahankan kelangsungan usaha tanpa dukungan pemegang saham. Investor tidak perlu debat panjang untuk mengerti artinya, perusahaan sedang hidup dari pengaturan ulang tempo pembayaran, dukungan pemilik, dan kemampuan menjaga hubungan kreditur, bukan semata dari keunggulan margin.

Di sisi performa operasi, INPS menunjukkan dua wajah yang bertabrakan. Pendapatan 9M-2025 Rp185,65 miliar turun 15,2% dari Rp218,92 miliar di 9M-2024, jadi top line sedang mengecil. Tetapi laba tahun berjalan 9M-2025 berbalik jadi positif Rp2,83 miliar dari rugi Rp6,85 miliar di periode pembanding, ini sinyal turnaround secara laba-rugi. Masalahnya, arus kas operasi 9M-2025 Rp11,26 miliar justru sedikit turun dari Rp13,99 miliar, jadi perbaikan laba belum otomatis menjadi lonjakan kas. Untuk bisnis energi-logistik yang makan modal kerja besar, kas adalah oksigen, jadi investor harus melihat turnaround ini sebagai langkah awal, bukan garis finish. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Sumber pendapatan INPS sendiri memperlihatkan ketergantungan yang sekaligus jadi kekuatan dan risiko. Segmen keagenan BBM, gas, pelumas menyumbang Rp120,22 miliar, segmen transportasi dan logistik Rp58,74 miliar, dan SPPBE Rp6,67 miliar. Di atas itu, ada konsentrasi ke PT Pertamina Patra Niaga, sebagai pelanggan utama sekitar Rp40,26 miliar dan sekaligus pemasok utama dengan pembelian sekitar Rp86,19 miliar. Artinya INPS ini seperti pipa di antara sumber dan pengguna, volume bisa stabil, tapi posisi tawar dan margin sangat dipengaruhi kontrak, kuota, dan disiplin modal kerja. Bahkan contoh sederhana pembelian persediaan Rp105,88 miliar pada awal 2025 menggambarkan betapa bisnis ini harus punya uang besar dulu baru bisa jalan, sehingga utang jangka pendek Rp67,99 miliar dan pinjaman lembaga keuangan lain Rp18,71 miliar terasa seperti kebutuhan struktural, bukan sekadar pilihan.

Masuk ke sisi historis IPO, investor bisa melihat niat awal perusahaan sebenarnya cukup jelas. Saat IPO 6 April 2018, emisi kotor Rp41,40 miliar, dana bersih Rp38,43 miliar, lalu dipakai untuk akuisisi 99% PT Jono Gas Pejagalan Rp19,73 miliar dan modal kerja Rp18,70 miliar. Secara desain, ini logis, beli kaki tambahan di LPG, dan isi bensin kerja untuk penebusan BBM. Tapi kalau 7 tahun kemudian ekuitas berubah negatif dan defisit akumulasi membengkak, berarti masalah utamanya bukan di ide, melainkan di eksekusi arus kas, struktur utang, dan disiplin pembayaran. Defisit akumulasi rugi yang dulu Rp58,44 miliar pada 2017 membengkak menjadi Rp212,45 miliar pada 2025, naik sekitar 263,5%, ini bukti kerugian bertahun-tahun lebih kencang daripada upaya pemulihan.

Anak BBCA pernah minta ampun sama INPS saking susahnya ditagih utang, akhirnya BCA Syariah ikhlas. INPS pernah membukukan penghapusan utang pokok dan bunga dari Bank BCA Syariah pada 2023, pokok Rp16,64 miliar dan bunga Rp27,90 miliar, total Rp44,54 miliar. Ini bukan prestasi operasional, ini prestasi negosiasi dan restrukturisasi, tapi tetap penting karena langsung menyentuh neraca dan beban masa depan. Ditambah ada skema restrukturisasi lain seperti peluang penghapusan Tranche II sekitar Rp5,65 miliar jika pokok Tranche I dilunasi tepat waktu, maka permainan INPS jelas, memperbaiki neraca bukan hanya lewat jualan, tetapi lewat memotong beban lama yang menempel seperti karat. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau investor mau mencari sisi optimistis tanpa mengkhayal, beberapa titik memang ada. INPS punya niche logistik B3 dengan izin dan armada spesialis seperti iso tank, lorry tank, skid tank, ini barrier to entry yang tidak gampang ditiru pemain baru. Ada juga aset tanah dan bangunan di titik industri seperti kawasan Jababeka dengan lahan 12.028 m2 untuk gudang, kantor, mess, plus aset di Semper, Bandung, Serang, yang nilainya berpotensi menjaga marwah aset saat inflasi berjalan. Bahkan ada cerita menarik dari anak usaha, PT Elpindo Reksa menyetujui dividen Rp9,90 miliar dengan porsi untuk INPS Rp9,80 miliar, ini contoh bagaimana kadang anak usaha bisa jadi mesin oksigen untuk induk yang sedang sesak. Tapi investor tetap harus menempatkan semua itu sebagai pendukung, bukan penyelamat otomatis, karena tantangan utama masih ada di depan mata, likuiditas sempit, liabilitas jangka pendek besar, dan beban akrual Rp108,27 miliar yang menunjukkan bunga dan denda belum sepenuhnya jinak.

Jadi INPS memiliki bisnis yang secara fungsi publik penting, dekat dengan ekosistem Pertamina, dan punya kemampuan bertahan melalui restrukturisasi sampai bisa membalik rugi jadi laba di 2025. Namun secara kualitas neraca, INPS masih berada di fase pemulihan yang rawan, karena rasio lancar sekitar 0,18x dan ekuitas negatif minus Rp29,87 miliar membuat ruang geraknya sempit, sementara piutang pihak berelasi Rp98,50 miliar membuat investor wajar bertanya seberapa cepat aset itu bisa jadi kas. Kalau investor suka tipe saham turnaround yang menangnya bukan karena pertumbuhan top line, tapi karena operasi makin rapih dan utang lama dipangkas, INPS punya bahan cerita. Kalau investor butuh emiten yang neracanya kuat dari awal dan bisa tidur tenang tanpa terganggu jatuh tempo utang, INPS masih harus membuktikan dulu lewat konsistensi kas, bukan lewat narasi.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/9

testestestestestestestestes
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy