imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Menari di Atas Puing Geopolitik

Dunia sedang tidak waras dan harga $XAU adalah buktinya. Melihat harganya yang melonjak melewati angka empat ribu empat ratus dolar per troy ounce rasanya seperti melihat alarm kebakaran yang terus berbunyi tanpa henti. Semua orang mendadak ketakutan gara gara Amerika mulai main tangan di Venezuela awal Januari ini yang bikin pasar minyak panas dingin. Tapi anehnya saat saya membaca laporan ekonomi terbaru kita seolah sedang berada di dimensi lain yang tenang dan penuh optimisme. Ada angka pertumbuhan lima koma empat persen yang dipajang dengan sangat percaya diri untuk tahun dua ribu dua puluh enam ini. Rasanya seperti sedang menonton tetangga bertengkar hebat di luar sana sementara kita sendiri sibuk merapikan taman depan rumah dengan harapan tidak ada pot yang pecah kena lemparan batu.

Saya agak sulit mencerna bagaimana kita bisa begitu yakin dengan angka pertumbuhan setinggi itu saat Tiongkok yang merupakan pelanggan terbesar kita sedang lesu parah. Ekspor kita ke sana merosot tujuh persen lebih dan harga komoditas andalan seperti sawit atau batu bara juga sedang tidak baik baik saja dengan penurunan belasan persen. Narasi tentang surplus perdagangan yang sudah bertahan enam puluh tujuh bulan berturut turut itu sebenarnya punya sisi gelap yang jarang dibahas secara jujur. Kita terlihat surplus bukan karena jualan kita sedang hebat tapi karena kita sedang ngerem belanja barang dari luar. Ini seperti merasa tabungan aman hanya karena kita berhenti jajan padahal pendapatan pokok kita sebenarnya sedang dipotong oleh keadaan. Ada bias narasi yang coba dijual bahwa kita baik baik saja padahal kita hanya sedang bertahan dengan cara yang sangat pasif.

Lalu ada urusan inflasi yang dipatok di angka dua koma enam persen tahun ini. Kedengarannya memang manis di telinga tapi kalau kalian sering mampir ke minimarket atau bayar tagihan bulanan pasti tahu ada yang tidak sinkron antara angka statistik dengan kenyataan di rak toko. Kenaikan harga bensin nonsubsidi dan biaya perawatan diri pelan pelan mulai menggerus daya beli yang sebenarnya sudah terasa pas pasan sejak akhir tahun lalu. Bank Indonesia memang masih berusaha menahan suku bunga di angka empat koma tujuh puluh lima persen supaya Rupiah tidak makin babak belur melewati angka enam belas ribu per dolar Amerika. Ini adalah upaya mati matian menjaga wajah ekonomi kita tetap terlihat cantik di mata investor asing saat dunia luar sedang penuh asap dan ketidakpastian.

Hal yang paling menggelitik adalah bagaimana kita melihat krisis di Venezuela ini sebagai peluang terselubung. Jika Amerika berhasil mempercepat produksi minyak di sana mungkin harga energi global bisa melandai dan beban subsidi kita berkurang di masa depan. Tapi itu adalah sebuah kemungkinan yang sangat besar risikonya. Untuk saat ini satu satunya hal yang membuat saya sedikit lega adalah melihat angka impor barang modal yang naik hampir tiga puluh persen. Setidaknya masih ada pengusaha yang cukup berani beli mesin baru dan berharap pabrik mereka tetap berputar meskipun permintaan dari luar negeri sedang suram. Ini adalah taruhan besar pada konsumsi domestik yang selama ini selalu jadi penyelamat kita di saat saat genting.

Intinya semua ini soal seberapa kuat kita bisa menahan napas di bawah tekanan global. Kita sedang mencoba menjadi pulau stabilitas di tengah samudera yang sedang mengamuk hebat. Apakah kita benar benar kuat atau hanya sedang beruntung karena badainya belum sampai ke sini adalah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh waktu. Pasar mungkin bisa dibumbui dengan narasi manis dan angka proyeksi yang memukau tapi realitas ekonomi tidak pernah bisa dibohongi selamanya. Kita tinggal menunggu apakah stabilitas ini akan bertahan sampai perayaan Imlek dan Lebaran nanti atau kita harus mulai bersiap dengan skenario yang lebih pahit saat peluru geopolitik benar benar mulai menghantam fondasi ekonomi kita secara langsung.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

$ADRO $BMRI

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy