imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Januari seringkali menjadi bulan yang menjebak di pasar keuangan. Setelah euforia "January Effect" atau semangat baru di awal tahun, banyak trader justru melihat saldo akun mereka merah di minggu ketiga atau keempat.

Kenapa profit yang sudah dikumpulkan susah payah bisa menguap begitu saja? Berikut adalah alasannya dari sisi psikologi:

1. The Fresh Start Effect (Semangat yang Kebablasan)
Awal tahun memicu lonjakan motivasi. Masalahnya, trader sering mencampuradukkan resolusi dengan ambisi. Karena ingin "balas dendam" atas performa buruk tahun lalu atau ingin cepat kaya di tahun baru, trader cenderung mengambil risiko terlalu besar (over-leveraging) di awal Januari. Saat market bergejolak sedikit saja, profit langsung tersapu bersih.

2. Euphoria & Overconfidence
Jika minggu pertama Januari berjalan mulus dan profit, otak mulai memproduksi dopamin berlebih. Kita merasa seolah-olah sudah "menaklukan" market.

Efeknya: Kita mulai meremehkan trading plan.
Logikanya: "Kalau kemarin saja gampang, sekarang pasti bisa lebih besar lagi!" – Di sinilah biasanya entry yang asal-asalan dimulai.

3. The "Gambler’s Fallacy"
Banyak orang merasa jika Januari sudah profit banyak, maka mereka "berutang" pada market untuk terus menang. Sebaliknya, jika sempat rugi di pertengahan bulan, mereka merasa "pasti sebentar lagi balik arah." Keyakinan bahwa market harus mengikuti pola kita adalah resep utama kegagalan.

4. Fear of Missing Out (FOMO) Awal Tahun
Januari biasanya penuh dengan narasi "Tahun ini saham X akan meroket!" atau "IHSG makin All-Time High!". Ketakutan tertinggal kereta membuat trader masuk di pucuk (harga tertinggi) tanpa analisa matang, hanya karena tidak mau ketinggalan momentum awal tahun.

Januari seringkali menjadi bulan yang menjebak di pasar keuangan. Setelah euforia "January Effect" atau semangat baru di awal tahun, banyak trader justru melihat saldo akun mereka merah di minggu ketiga atau keempat.

Kenapa profit yang sudah dikumpulkan susah payah bisa menguap begitu saja? Berikut adalah alasannya dari sisi psikologi:

1. The Fresh Start Effect (Semangat yang Kebablasan)
Awal tahun memicu lonjakan motivasi. Masalahnya, trader sering mencampuradukkan resolusi dengan ambisi. Karena ingin "balas dendam" atas performa buruk tahun lalu atau ingin cepat kaya di tahun baru, trader cenderung mengambil risiko terlalu besar (over-leveraging) di awal Januari. Saat market bergejolak sedikit saja, profit langsung tersapu bersih.

2. Euphoria & Overconfidence
Jika minggu pertama Januari berjalan mulus dan profit, otak mulai memproduksi dopamin berlebih. Kita merasa seolah-olah sudah "menaklukan" market.

Efeknya: Kita mulai meremehkan trading plan.

Logikanya: "Kalau kemarin saja gampang, sekarang pasti bisa lebih besar lagi!" – Di sinilah biasanya entry yang asal-asalan dimulai.

3. The "Gambler’s Fallacy"
Banyak orang merasa jika Januari sudah profit banyak, maka mereka "berutang" pada market untuk terus menang. Sebaliknya, jika sempat rugi di pertengahan bulan, mereka merasa "pasti sebentar lagi balik arah." Keyakinan bahwa market harus mengikuti pola kita adalah resep utama kegagalan.

4. Fear of Missing Out (FOMO) Awal Tahun
Januari biasanya penuh dengan narasi "Tahun ini saham X akan meroket!" atau "Crypto akan All-Time High!". Ketakutan tertinggal kereta membuat trader masuk di pucuk (harga tertinggi) tanpa analisa matang, hanya karena tidak mau ketinggalan momentum awal tahun.

Tips Singkat Agar Profit Tidak "Numpang Lewat":
-Masalah Overtrading: Batasi jumlah trade per hari, meskipun market terlihat sangat bagus.
-Emosi Meluap: Ingat, Market tidak tahu ini bulan Januari. Market tetap bergerak acak.
-Profit Hilang: Gunakan teknik Trailing Stop. Amankan sebagian keuntungan secara bertahap.

Intinya: Januari bukan sprint, tapi maraton. Trader yang gagal biasanya terlalu sibuk merayakan kemenangan kecil hingga lupa mengunci pintu (manajemen risiko).

Berita $KRAS https://cutt.ly/Ftjq3gak
Bukan random tag: $TOWR $ESSA

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy