$IHSG — Catatan Seorang yang Tidak Diperhitungkan Pasar

Ada masa ketika aku percaya bahwa kecepatan adalah segalanya.

Di pasar modal, aku pikir pemenangnya adalah mereka yang paling cepat membaca grafik, bereaksi terhadap berita, mengambil posisi, dan mengaku benar. Aku pernah hidup di fase itu; ingin selalu selangkah lebih dulu dari orang lain, dan selangkah lebih jauh dari rasa takut tertinggal.

Saat itu, pasar tampak seperti perlombaan tanpa henti. Setiap kenaikan terasa seperti panggilan suci, setiap koreksi seperti ancaman pribadi. Aku ingin cepat benar, seakan pasar menuntut kesempurnaan. Padahal, kebenarannya jauh lebih sederhana: pasar tidak memintaku sempurna setiap waktu, ia hanya ingin kita cukup lama bertemu.

Namun sebelum sampai di sana, aku tersesat sangat jauh.

Ada masa ketika pasar terasa seperti panggung penuh sorak-sorai, komentar, dan validasi yang diam-diam kucari. Hingga suatu hari aku sadar: pasar bukan panggung pujian. Ia tak peduli luka atau pembenaran. Yang peduli hanya egoku sendiri, yang ingin terlihat benar bahkan saat seharusnya mengakui salah.

Itulah fase ketika layar bukan sekadar alat, melainkan altar.

Aku menggantungkan ketenangan pada satu figur, satu akun, satu suara yang terdengar sangat yakin. Selama grafik hijau, ia tampak bak pahlawan. Selama narasinya bekerja, ia seolah tidak pernah salah. Dan aku pun menyembahnya, bukan dengan ritual, tetapi dengan kepatuhan yang terlalu mudah diberikan.

Di sanalah aku lupa satu hal penting: aku manusia, bukan alat.

Ketika pasar berbalik arah, luka itu datang bukan hanya dalam bentuk angka merah. Ada malam-malam panjang yang diisi penyesalan, degup jantung yang tak mau tenang, dan rasa malu karena aku tak lagi memakai pikiranku sendiri.

Saat harus cut loss, yang terasa bukan lagi dinginnya angka, melainkan hangatnya malu yang menjalar dari pelipis ke dada. Yang menyakitkan adalah kalimat yang harus kuakui pada diri sendiri: “Keputusan ini keliru adanya.” Dan benar, itu sering lebih perih daripada kehilangan harta.

Di fase itu aku juga belajar cara ego bekerja. Bagaimana yang baik sering dilepas demi harga diri, dan yang buruk ditahan agar tak merasa rugi. Lalu dinamai "manajemen risiko terkini", padahal hanya ego yang dijaga sampai mati.

Pelan-pelan aku harus mengakui satu hal: berhala itu tidak pernah salah, karena ia memang tidak pernah bertanggung jawab. Yang menyerahkan kuasa, yang meletakkan kendali di tangan orang lain, yang membiarkan rasa aman diatur oleh suara asing... semuanya adalah aku sendiri.

Namun, perjalanan batinku tidak berhenti hanya karena grafik berhenti bergerak.

Setelah itu, datang fase yang jauh lebih ironi. Aku menyadarinya bukan sebagai teori, melainkan sebagai getaran kosong di tengah malam ketika pasar tutup dan hanya ada aku, secangkir kopi dingin, dan keheningan.

IHSG tidak berhenti hanya karena aku bingung. Harga tidak menoleh hanya karena aku berharap. Dana besar tidak bergerak seujung napas hanya karena aku ingin dianggap.

Satu kenyataan menampar pelan: Pasar tak pernah bertanya, “kamu ada atau tidak?”. Ia hanya bergerak mengikuti arus yang lebih besar.

Di titik itu, keangkuhanku perlahan runtuh. Yang tersisa hanyalah kenyataan pahit sekaligus membebaskan: analisis adalah ikhtiar, dan harga adalah takdir .

Awalnya pahit, bahkan menyakitkan. Namun perlahan, dari situ datang ketenangan. Ketika aku berhenti pura-pura penting, napas terasa lebih lega. Menjadi kecil berarti tidak punya beban untuk selalu benar.

Meski begitu, perjalanan batinku tidak berhenti pada kesadaran tentang kecilnya diri. Ada luka lain yang jauh lebih diam namun lama mengendap: kesalahan yang tidak tertulis di laporan portofolio.

Kerugian terbesar sering kali bukan yang tercatat di portofolio, tetapi yang tertinggal di ingatan. Tentang satu hari ketika aku memilih menunggu, padahal sebenarnya aku hanya takut. Bukan angka merah yang menghantui, melainkan momen ketika kutahu harus bertindak, tetapi memilih diam lalu menyebutnya "kehati-hatian".

Sering kali, kesalahan paling mahal bukan memilih saham yang salah, melainkan membiarkan diri sendiri berhenti mengambil keputusan. Dan yang paling menyedihkan, keberanian untuk masuk sering kali tidak pernah kembali. Jika tidak dijaga, keberanian bukan sekadar memudar, ia benar-benar bisa mati.

Dan ketika keberanian mati, sebagian dari diriku pun ikut terkubur.

Dari sini aku belajar bahwa bertahan di pasar bukan soal siapa yang paling pintar membaca grafik, melainkan siapa yang paling jujur membaca dirinya sendiri.

Ada hari-hari ketika aku berdiri di tengah pasar yang bising, melihat orang-orang berlari, dan aku memilih diam. Dulu kuanggap itu kelemahan. Sekarang justru itulah kedewasaan. Karena aku akhirnya mengerti satu hal: tidak semua harus dimenangkan.

Hari ini bukan medan tempurku, melainkan ujian kedewasaanku.

Godaan terbesar ternyata bukan saat rugi, melainkan saat punya terlalu banyak peluang. Saat euforia membuat orang merasa kebal risiko. Saat semua orang seperti sedang menang. Namun aku belajar bahwa FOMO hanyalah perasaan rugi atas sesuatu yang sebenarnya tak pernah dimiliki. Dan apa arti peluang yang terlewat jika jiwaku tetap ringan? Karena sering kali, selamat lebih berharga daripada tepat waktu.

Hidup, termasuk di pasar modal, ternyata hanyalah negosiasi panjang dengan ketidakpastian. Dan tugasku sederhana: tidak kalah dari diri sendiri. Sebab pada akhirnya, kadang menang bukan soal angka berkilau di layar, melainkan tentang pulang dengan jiwa yang tetap utuh.

Namun ada bahaya lain yang diam-diam muncul setelah terlalu lama disakiti pasar: mati rasa.

Saat tidak lagi peduli. Saat angka hanya angka. Saat emosi sengaja dimatikan demi terlihat kuat. Padahal, mati rasa lebih berbahaya daripada rugi. Rugi bisa dicari gantinya. Mati rasa melahirkan keputusan yang tampak rapi, tetapi rapuh.

Aku tersentak menyadari satu hal: Aku ceroboh bukan karena bodoh, melainkan karena tak lagi merasa perlu takut.

Sebelum aku benar-benar tenggelam di sana, aku sadar: aku tidak ingin kehilangan kemampuan untuk merasakan. Sebab rasa takut yang sehat sering kali lebih jujur daripada semua analisis. Pasar tidak hidup kalau aku tidak merasakan detaknya. Aku akan menjadi robot jika terus begini. Dan sering kali, rasa sakit itu adalah guru paling jujur.

Karena itu aku memilih tetap menjadi manusia: merasa takut, cemas, ragu, tetapi tetap berjalan. Aku datang dengan rasa takut yang sehat, keberanian yang dihitung, dan sedikit kekacauan di hati, cukup untuk tetap menjadi manusia .

Pada akhirnya, setelah semua perjalanan ini, aku tiba di pemahaman paling sunyi namun paling dalam: aku tidak sedang sekadar belajar tentang pasar. Aku sedang belajar tentang diriku sendiri.

Aku sadar bahwa keselamatan tidak tumbuh di kerumunan yang berisik. Bukan di tengah sorak-sorai. Bukan di panggung para “guru”. Justru sebaliknya, keselamatan tumbuh di tempat yang sepi, di ruang kecil tempat aku berani menanggung risiko sendiri tanpa mencari kambing hitam.

Dan dari kesunyian itu, aku belajar tentang ikhlas.

Ikhlas di pasar bukan pasrah buta. Ia seperti melepaskan anak panah setelah menarik busur sekuat tenaga. Hasilnya urusan angin, target, dan takdir .

Ikhlas bukan membuatku kalah. Ia hanya membuatku berhenti berperang melawan sesuatu yang memang tidak pernah bisa kuperintah. Pasar tidak menuntutku menjadi jenius. Ia hanya menuntutku jujur pada diri sendiri.

Kini aku tahu, di tengah badai pasar, menjadi pahlawan bukan kewajiban. Sering kali, justru menjadi "bukan siapa-siapa" adalah keadaan yang tidak langsung hancur oleh ombak volatilitas . Bukan karena aku hebat. Bukan karena pasar tiba-tiba peduli. Tetapi karena akhirnya, aku berdamai.

Mungkin pasar tidak pernah menatap balik, tapi di balik grafik yang terus bergerak, aku akhirnya melihat diriku sendiri.

Dan itu, mungkin, adalah satu-satunya kemenangan yang tak bisa dicatat di laporan bulanan, tak bisa dipamerkan di linimasa, namun terasa hangat di dada saat lampu dimatikan.

Hari ini mungkin aku kalah angka, tapi aku pulang dengan jiwa yang utuh. Besok stasiun dibuka lagi, tapi aku tahu: aku punya hak untuk sekadar duduk menonton, atau ikut berlari.

Karena aku manusia, bukan angka.

$ICBP $BBKP

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy