$ISSI - Tentang Capital Allocation
Apa yg bisa dilakukan manajemen perusahaan ketika sudah susah payah berusaha dan akhirnya mendapatkan uang kas dr laba hasil usahanya?
Dari yg sy pelajari, ternyata uang tersebut bisa digunakan untuk beberapa hal. Tidak banyak. Tapi dampaknya bisa berbeda-beda. Saya coba uraikan satu per satu.
Hal pertama dan yg paling utama yaitu pembayaran utang. Jika perusahaan memiliki kewajiban berbunga, terutama utang dgn bunga tinggi atau jatuh tempo yg dekat, maka menggunakan kas hasil laba untuk melunasi utang sering kali merupakan alokasi modal paling rasional.
Setiap rupiah utang yg dibayar pd dasarnya memberikan return pasti berupa penghematan beban bunga, sekaligus memperkuat neraca dan menurunkan risiko finansial di masa depan.
Dalam konteks ini, melunasi utang adalah bentuk reinvestasi tanpa risiko. Return-nya memang tidak terlihat spektakuler di laporan laba rugi dlm jangka pendek, tapi dampaknya nyata pd stabilitas bisnis.
Neraca yg lebih bersih memberi ruang manuver lebih luas ketika siklus memburuk, sekaligus membuat perusahaan lebih fleksibel ketika peluang besar muncul. Karena itu, sebelum bicara opsi lain, perusahaan yg bijak biasanya memastikan bahwa struktur permodalannya sudah sehat dan tidak dibebani utang yg tidak perlu.
Nah, lalu bagaimana jika utang sudah terbayarkan?
Pilihan berikutnya, perusahaan bisa melakukan reinvestasi ke dalam bisnisnya sendiri. Bentuknya bisa berupa:
- Ekspansi kapasitas pabrik seperti SUNI, INKP
- Pembelian mesin baru seperti SPMA
- Pembukaan jalur distribusi tambahan seperti SKLT
- Pembangunan gudang seperti $ULTJ
- Perluasan jaringan penjualan seperti AUTO, atau
- Masuk ke segmen yg masih sangat dekat dgn kompetensi inti perusahaan seperti ADMR dan CITA
- Akuisisi seperti yg dilakukan $BUMI jg masuk kategori ini, karena pd dasarnya adalah bentuk reinvestasi modal ke bisnis lain.
Namun perlu diperhatikan bahwa reinvestasi hanya masuk akal jika menghasilkan Return on Invested Capital (ROIC) yg tinggi dan berkelanjutan. Artinya, setiap rupiah tambahan modal harus menghasilkan laba tambahan yg proporsional atau lebih besar dibanding modal yg ditanam.
Jika reinvestasi justru menurunkan ROIC atau hanya mengejar pertumbuhan secara nominal saja, maka itu bukan penciptaan value added atau meningkatkan nilai perusahaan, melainkan menurunkan value yg sudah ada. Dalam kondisi seperti ini, tidak berekspansi malah sering kali jauh lebih bijak ketimbang memaksakan pertumbuhan.
Lalu bagaimana jika ada peluang reinvestasi yg menarik, namun tidak membutuhkan dana yg besar, sehingga masih ada sisa? Atau bahkan mungkin jika tidak ada peluang reinvestasi yg layak, apa yg bisa dilakukan?
Nah, jalan terbaiknya adalah mengembalikan kas tersebut ke pemilik modal melalui dividen.
Pada manajemen yg memiliki track record yg baik, pembagian dividen ini bisa diartikan sebagai pengakuan jujur bahwa manajemen tidak menemukan cara yg lebih baik untuk mengembangkan modal tersebut. Dividen memberi kebebasan kepada investor untuk mengalokasikan ulang modalnya ke tempat lain yg punya potensi ROE lebih tinggi, atau bahkan investasi lagi ke perusahaan yg sama jika valuasinya masih menarik.
Di sinilah muncul karakter owner-oriented dr manajemen yg berpihak pd shareholder. Manajemen tidak memaksakan diri menjadi lebih pintar dr market, tapi membiarkan pemilik modal mengambil keputusan lanjutannya sendiri. Saya rasa EAST bisa masuk sebagai contoh di sini, di mana uang dikuras dan digunakan untuk ekspansi di level pemilik modal.
Pilihan berikutnya adalah buyback saham. Buyback adalah bentuk reinvestasi paling langsung, yaitu perusahaan membeli kembali kepemilikannya sendiri. Tapi perlu dicatat bahwa jalan ini hanya akan menciptakan value jika satu syarat utamanya terpenuhi, yaitu harga saham berada di bawah nilai intrinsiknya.
Dalam kondisi ini, buyback akan meningkatkan kepemilikan relatif setiap pemegang saham yg tersisa, mendorong EPS naik secara sehat, dan memperbesar potensi dividen per saham di masa depan.
Sebaliknya, buyback di harga mahal hanyalah pemindahan kas dr neraca ke market tanpa penciptaan value. Ini sering terlihat bagus di headline pemberitaan, tapi buruk secara ekonomi. Untuk contoh dlm hal ini menurut sy ada LPPF dan JTPE.
Terakhir, ada pilihan menahan kas. Saya pribadi tidak memandang penumpukan kas sebagai sesuatu yg salah, tapi penumpukan kas hanya masuk akal jika punya tujuan strategis. Contohnya seperti menjaga ketahanan neraca dlm periode yg buruk, menunggu peluang besar, atau jg untuk menjaga fleksibilitas.
Namun, kas yg terlalu besar, tanpa arah yg jelas dan menganggur terlalu lama justru menandakan kegagalan capital allocation, karena modal pemegang saham tidak bekerja. Nah, untuk kasus ASGR silakanteman-teman nilai sendiri. Apakah termasuk manajemen yg baik atau tidak dlm hal alokasi modalnya.
Dari semua pilihan ini, capital allocation yg baik menurut sy pribadi itu bukan ditentukan oleh pilihan mana yg diambil, tapi oleh kecocokan pilihan itu dgn kondisi bisnis dan valuasi saat itu. Reinvestasi bisa sangat baik, dividen bisa sangat bijak, buyback bisa sangat cerdas. Tapi, ya semuanya tergantung konteks.
Disclaimer: Catatan ini adalah refleksi pengetahuan dan pemahaman penulis tentang capital allocation serca contohnya yg diperoleh dr berbagai sumber umum. Bukan info A1. Dan catatan ini jg bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Segala kerugian sebagai akibat penggunaan informasi pada tulisan ini bukan menjadi tanggung jawab penulis. Do your own research.