Ringkasan Eksekutif: Prospek Sektor Kesehatan dan Farmasi Indonesia 2026

Sektor kesehatan Indonesia pada 2026 menunjukkan prospek yang cerah dengan alokasi anggaran sebesar Rp244 triliun, meningkat sekitar 15,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Dana ini diarahkan untuk memperkuat layanan kesehatan masyarakat, termasuk pemeriksaan gratis, penanganan stunting, serta revitalisasi rumah sakit. Pemerintah juga menegaskan komitmennya terhadap pembiayaan penuh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi lebih dari 96 juta masyarakat miskin dan rentan. Di sisi lain, digitalisasi layanan kesehatan terus berkembang pesat. Pasar connected healthcare diperkirakan mencapai USD 0,89 miliar pada 2025 dan tumbuh dengan CAGR 28,13% hingga USD 3,09 miliar pada 2030, terutama berkat adopsi telemedicine dan integrasi data melalui platform SATUSEHAT.

Sektor farmasi Indonesia, yang merupakan pasar terbesar di ASEAN dengan nilai sekitar USD 11 miliar pada 2025, diproyeksikan tumbuh dengan laju 8–9% per tahun hingga mencapai USD 27 miliar pada 2035. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya prevalensi penyakit kronis serta cakupan JKN yang semakin luas. Kebijakan pemerintah yang lebih terbuka terhadap investasi asing, termasuk peluang kepemilikan hingga 100%, memberi dorongan tambahan bagi masuknya modal dan teknologi baru. Kemitraan strategis juga mulai terbentuk, seperti kerja sama antara Bio Farma dan Novo Nordisk yang ditandatangani pada 2024 untuk memproduksi insulin di dalam negeri. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku farmasi, yang saat ini masih mencapai sekitar 90%.

Investasi asing langsung (FDI) diperkirakan akan mempercepat transformasi sektor farmasi melalui transfer teknologi, riset dan pengembangan inovatif, serta peningkatan kapasitas ekspor dengan proyeksi pertumbuhan 7,7% per tahun hingga 2028. Perusahaan lokal seperti Kalbe Farma ($KLBF) dan Kimia Farma ($KAEF) memiliki peluang besar untuk memperluas kolaborasi, meski harus menghadapi tekanan kompetitif di segmen obat bermerek. Sementara itu, obat generik tetap menjadi tulang punggung pasar dengan pangsa sekitar 80%, didukung oleh kebijakan pemerintah untuk memperkuat kemandirian produksi.

Meski prospeknya menjanjikan, tantangan masih ada. Infrastruktur kesehatan belum merata, distribusi tenaga medis spesialis masih terkonsentrasi di kota besar, dan ketergantungan pada impor bahan baku menekan daya saing industri. Namun, dengan dukungan kebijakan hilirisasi, digitalisasi layanan, serta masuknya investasi asing, sektor kesehatan dan farmasi Indonesia berpotensi bertransformasi dari pasar yang bergantung pada impor menjadi pemain regional yang kompetitif.

Catatan: Disusun dengan menggunakan bantuan Perplexity dan Microsoft Copilot.
Izin tag: $IHSG

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy