Ingat: kamu bisa analisis 1001x lipat lebih maju daripada $IHSG, dan return-mu tetap bisa jauh lebih lagging daripada IHSG

Dengan asumsi jika kamu sudah, "buy what you know," leading atau lagging-nya kamu terhadap indeks least likely disebabkan karena salah stockpick, apalagi karena salah timing

Semua itu kembali ke fase keuangan kamu

Kamu bisa stockpick secara fundamentally flawless, kamu bisa beli di timing yang flawless, tapi return-mu akan terbentur paradoks, jika kamu masih berada di fase wealth accumulation, dan terutama lagi kalau kamu adalah working class

Paradoksnya:

1. Kalau timing kamu tepat, kamu beli lalu kurang dari sebulan naik, katakanlah di atas yield SBN. Guess what, next paycheck kamu harus beli lagi, average-mu naik. Kalau harga naik sedangkan saving rate kamu tetap, kamu dapat lebih sedikit lot untuk harga yang sama. Semakin tinggi harga yang kamu kejar, semakin tipis selisihnya sama average kamu, semakin besar probabilitas kamu nyangkut di pucuk, dan semakin jauh kamu lagging dari market

2. Yang secara keuangan paling ideal: saham yang kamu beli sideways, atau diiris tipis-tipis. Kamu nggak akan terlintas pikiran apakah saat kamu kontribusi saving rate, apa yang terjadi sama average kamu, apakah kamu dapat lebih sedikit atau banyak lot, atau apakah kamu dapet best deal of a price

Ketika kamu berhenti nambah muatan, entah karena batasan bobot dalam porto, or better, fase wealth accumulation kamu selesai, kamu udah tinggal melihat asetmu terbang. Holder $JRPT, $DMAS, TOTO, CNMA, dsb. pasti rilet

Terus berapa lama kamu berada di fase wealth accumulation? Setahun? Artinya kamu harus siap lagging indeks market selama setahun. Dua tahun? Lima tahun? Semakin lama masa fase wealth accumulation, semakin kamu akan capek sama bombardir influencers, "yang lebih rugi daripada kehilangan uang adalah kehilangan waktu, mending cut loss pindah ke saham x, dua minggu dapet sekian ratus persen," dan kalau sampai terjerumus, pupus semua strategi dan literasimu

3. Mungkin kamu berpikir, yaudah tiap saving rate, tampung aja di cash dulu, pas koreksi baru beli. Semua pasti pernah terlintas, iya kan? Paradoks yang ketiga ini beranak lagi jadi dua skenario

Skenario 1: nggak crash-crash sampai fase wealth accumulation selesai. Sepanjang akumulasi, 80-90% likuiditas menjadi cash drag, selesai akumulasi kamu cuma punya 10-20% compounder machine, kalau akhirnya mau kamu beliin saham pun, kamu akhirnya dapet average pucuk juga

Skenario 2: beneran ada crash. Sampai sini ada dua lapisan masalah. Pertama, kamu nggak punya kekuatan psikologis untuk buy the dip karena kamu belum terbiasa nyicil koreksi sehari-hari. Kedua kalau ternyata psikologis kamu kuat, timing the bottom itu bukan hanya susah, tapi mustahil kalau kamu punya kehidupan lain di luar market. Yang ada malah karier berantakan, bisnis berantakan, nggak punya waktu untuk keluarga, dll. Kecuali kalau kamu market maker, mungkin kamu nggak akan tertarik baca artikel ini xixixi ngakak abiezz

Ini semua hukum alam. Jadi mau strategi manapun yang kamu ambil, emang buah simalakama. Makanya jangan jadikan return, baik benchmark arbitrary di angka tertentu, maupun indeks, apalagi indeks yang kenaikannya nggak organik, sebagai penilaian kinerja

Kamu bisa punya target 15% CAGR, tapi kalau kamu average up terus, artinya sahamnya harus punya CAGR beberapa kali lipat di atas itu. Saham kamu bisa punya 15% CAGR, kalau kamu average up terus, floating profit kamu bisa jadi di bawah yield RDPU. Semua itu normal, tidak ada yang salah

Di fase ini, penilaian kinerja kamu cuma tiga, diurut dari yang paling penting:

1. Seberapa disiplin konsistensi saving rate kamu

2. Apakah kamu, "buy what you know."

3. Apakah kamu due diligence secara independen, dan dari pendalaman itu, memang perusahaan tersebut tumbuh atau compounding cash flow usahanya, semakin solid neracanya, dll.

Lalu kalau ada influencers yang pamer return porto, cobalah agak kritis dikit, atau tanya sekalian:
1. Seberapa rutin menambah kontribusi?
2. Penambahan kontribusinya berapa persen dari total liquid asset?

Karena amat sangat beda expected return antara yang emang akumulasi dari saving rate dari nol, sama yang udah nggak akumulasi, tinggal menyisihkan sekian porsi dari liquid asset yang dimiliki untuk setup porto baru, lump sum, lalu biarkan berkembang tanpa kontribusi baru

Ini semua hukum alam. Strategi apapun yang diambil, nggak ada benar dan salah. Hanya saja benchmarking itu harus apple to apple sesuai liga masing-masing. Beli saham yang sama, di average yang sama, expected return-nya nggak bisa disamakan kalau sejak awal fase kehidupan finansialnya memang sama sekali berbeda

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy