imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Apakah Pasar Ban Lagi Lesu?

Lanjutan dari request member bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Bisnis ban itu butuh vendor dan pelanggan yang mumpuni karena ban tidak bisa laku tiap hari. Ban itu bukan mie instan, permintaannya lebih banyak datang dari siklus, ganti ban, armada logistik, dan order pabrikan, jadi jaringan pelanggan menentukan napas. Di sisi lain, vendor menentukan nyawa produksi karena bahan baku ban itu sensitif, harga bisa naik turun, dan kalau pasokan seret pabrik tetap jalan tapi marginnya bisa tersayat. Investor yang cuma melihat penjualan total sering kelewat satu hal, konsentrasi pelanggan bisa bikin angka terlihat stabil tapi sebenarnya rapuh. Kebalikannya, angka penjualan bisa turun sedikit tapi kualitas pelanggan dan vendor justru makin solid, jadi risikonya menurun diam-diam. Karena itu, yang perlu dilihat bukan cuma siapa jualan paling besar, tapi siapa yang punya pembeli inti yang benar-benar bayar, dan siapa yang punya pemasok yang benar-benar sanggup kirim. Kalau salah pilih pelanggan, piutang menumpuk, diskon membesar, dan kas jadi seret walau revenue tampak ramai. Kalau salah pilih vendor, produksi tersendat, kualitas turun, dan pelanggan bagus pun bisa pindah. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari sisi pelanggan, $GJTL terlihat punya nama besar, tetapi kontribusi pelanggan teratasnya tidak mendominasi sendirian, GITI Tire (USA) Ltd. Rp858,32 miliar setara 6,54% dari penjualan 9M 2025, lalu GITI Tire Global Trading Pte. Ltd. Rp477,18 miliar setara 3,64%, dan PT Speedwork Solusi Utama Rp281,94 miliar setara 2,15%. Secara total, pihak berelasi menyumbang 13% dari penjualan bersih, jadi ketergantungan ke jaringan relasi ada, tetapi tidak sampai membuat seluruh cerita hanya ditopang satu pembeli. Masalahnya, total penjualan GJTL justru turun -2,38% dibanding 9M 2024, dan yang paling terasa adalah GITI Tire (USA) turun -35,4% dari sekitar Rp1,33 triliun menjadi Rp858 miliar. Di tengah penurunan itu, ada satu angka yang mencolok, PT Speedwork Solusi Utama melonjak +2.211%, ini biasanya sinyal pergeseran kanal penjualan atau pergeseran pola distribusi, jadi investor perlu curiga sehat, lonjakan ekstrem itu bagus kalau repeatable, tapi rawan kalau cuma efek base kecil atau kontrak sesaat.

$GDYR ceritanya lebih terkonsentrasi dan lebih berbasis jaringan relasi grup. Goodyear Malaysia Bhd. menyumbang $20,19 juta setara 16,78% dari penjualan 9M 2025, lalu Goodyear Philippines Inc. $8,19 juta setara 6,81%, dan Goodyear (Thailand) Public Co., Ltd. $8,10 juta setara 6,74%. Total pihak berelasi menyumbang 36% dari penjualan bersih, artinya mesin revenue GDYR cukup bergantung pada ekosistem internal regional. Namun total penjualan GDYR turun -7,6% dari $130,1 juta menjadi $120,2 juta, dan penjualan domestik turun -11,08%, sementara Goodyear Malaysia justru naik tipis +0,85%. Ini memberi kesan sederhana, ekspor intra grup lebih tahan, domestik yang lebih mudah goyah, jadi kalau domestik lemah berkepanjangan, GDYR akan makin bergantung pada order relasi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

$BRAM paling bikin kaget karena penurunannya bukan lagi koreksi kecil, tetapi seperti kehilangan volume besar. Kontributor terbesar Kordsa Brazil S.A. $5,54 juta setara 5,89% dari pendapatan bersih, lalu Kordsa Inc. Amerika Serikat $4,87 juta setara 5,18%, dan total pihak berelasi 6,49%. Angkanya terlihat tidak terlalu terkonsentrasi, tetapi total pendapatan BRAM turun -47,8% dibanding September 2024, dengan Kordsa Inc. USA turun -65,2% dan Kordsa Brazil turun -37,3%. Ini lebih mirip masalah demand atau utilisasi pabrik, bukan sekadar geser pelanggan, karena jatuhnya terlalu dalam untuk dianggap normal.

TYRE berbeda sendiri karena seluruh penjualan dilakukan ke pihak ketiga, bukan relasi, dan penjualannya justru tumbuh. Total penjualan naik +5,48% dari Rp428,2 miliar menjadi Rp451,7 miliar, dan segmen ban luar tumbuh +9,85%. Data pelanggan utama yang ditampilkan untuk TYRE adalah berbasis saldo piutang, jadi ini lebih menggambarkan konsentrasi tagihan dan kanal distribusi daripada komposisi revenue. Tiga nama teratasnya PT Wahana Kreasindo Utama Rp14,48 miliar, CV Motorindo Sejahtera Rp12,63 miliar, dan PT Pratama Inti Distribusindo Rp7,66 miliar, ini menandakan ada beberapa distributor yang memegang porsi penagihan besar, sehingga kualitas penagihan dan disiplin kredit jadi krusial. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Masuk ke sisi vendor, di bisnis ban vendor itu bukan sekadar pemasok, tetapi juga penentu stabilitas biaya. GDYR punya vendor bahan baku yang kontribusinya besar, PT Bitung Gunasejahtera menyumbang pembelian bahan baku $11,27 juta dan Junma Tyre Cord Company Ltd. $5,82 juta, keduanya lebih dari 10% total pembelian bahan baku. Total pembelian bahan baku GDYR relatif datar, turun tipis -0,32% dari $64,75 juta menjadi $64,55 juta, jadi penurunan penjualan -7,6% tadi bukan karena belanja bahan baku jatuh drastis, bisa saja ada perubahan mix produk, inventory, atau efisiensi produksi. Ada juga saldo utang ke Goodyear Dalian Tire Co. Ltd. sebesar $1,24 juta, yang menegaskan keterikatan rantai pasok internal masih aktif.

GJTL menampilkan pendekatan yang lebih bankable untuk karet alam lewat approved suppliers di fasilitas SKBDN, dengan PT Bitung Gunasejahtera dan PT Karias Tabing Kencana sebagai pemasok yang diidentifikasi. Biaya bahan baku yang dipakai dalam produksi naik +4,38% dari Rp6,47 triliun menjadi Rp6,75 triliun, ini bisa terjadi walau penjualan turun tipis, karena harga bahan baku, perubahan mix, atau timing pembelian dan pemakaian. Saldo utang pihak berelasi yang disebutkan justru kecil, misalnya ke PT Speedwork Solusi Utama Rp3,44 juta dan ke GITI Radial Tire (Anhui) Co. Ltd. Rp1,68 juta, jadi sisi vendor relasi tidak terlihat mendominasi utang usaha.

BRAM unik karena belanja ke pihak berelasi melonjak +607% dari $1,31 juta menjadi $9,28 juta, sementara COGS turun -39,7% akibat volume produksi yang lebih rendah. Vendor relasi terbesarnya Kordsa Inc. USA dengan pembelian $6,34 juta setara 10,18% total pembelian, serta Kordsa Teknik Tekstil A.S. Turki $2,93 juta setara 4,71%. Total utang ke pemasok pihak ketiga sebesar $19,38 juta, jadi secara operasi, BRAM masih punya beban payable eksternal yang cukup berarti walau volume turun, ini salah satu titik yang biasanya membuat manajemen harus ekstra rapi mengatur kas. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

TYRE lebih berbasis vendor lokal dan bahan penolong, dengan saldo utang usaha terbesar ke PT Sari Sarana Kimiatama Rp4,76 miliar, PT Cabot Indonesia Rp3,70 miliar, dan PT Sumber Cipta Energi Rp2,81 miliar. Pembelian persediaan turun -1,95% dari Rp267,09 miliar menjadi Rp261,89 miliar, sementara penjualan naik +5,48%, ini kombinasi yang menarik karena bisa berarti perputaran inventory membaik atau perusahaan memanfaatkan stok yang sudah ada.

Terakhir, skala organisasi memberi petunjuk seberapa berat mesin operasi dan seberapa fleksibel perusahaan beradaptasi. GJTL adalah yang paling besar, dengan 17.278 karyawan per 30 September 2025 naik dari 17.014 per 31 Desember 2024, ini menggambarkan struktur pabrik dan distribusi yang masif, tetapi juga berarti fixed cost dan kompleksitas tinggi. GDYR relatif ramping 799 karyawan turun dari 805, perubahan kecil, lebih seperti penyesuaian biasa. BRAM turun dari 1.503 menjadi 1.282 karyawan, penurunan ini sejalan dengan pendapatan yang jatuh -47,8%, jadi ada upaya menyesuaikan kapasitas. TYRE turun dari 173 menjadi 100 karyawan, ini memberi sinyal perampingan besar, tetapi penjualannya tetap tumbuh, sehingga investor perlu menilai apakah ini efisiensi yang sehat atau ada risiko operasional yang ditahan dengan beban kerja yang makin padat. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

GJTL masih punya jaringan pelanggan yang tidak terlalu terkonsentrasi, tetapi ada tekanan di pembeli besar GITI USA dan ada pergeseran kanal yang sangat ekstrem di Speedwork. GDYR kuat di jaringan relasi regional, tetapi domestik sedang melemah sehingga ketergantungan ke ekosistem relasi makin besar. BRAM sedang mengalami penurunan demand yang tajam, dan kenaikan pembelian dari pihak berelasi di saat revenue jatuh adalah sinyal yang wajib dipantau ketat. TYRE sedang bertumbuh dan seluruhnya pihak ketiga, tetapi konsentrasi piutang di beberapa distributor berarti disiplin kredit dan kualitas pelanggan menjadi kunci, karena ban memang tidak laku tiap hari, tetapi tagihan bisa menumpuk setiap hari kalau salah pilih kanal.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy