Bos Asuransi Wanaarta yang Rampok Duit Nasabah Pakai Goreng saham BEKS Sudah Tinggal di Properti Hollywood Tapi $PWON Tetap Nyungsep
Dalam setahun terakhir $BKSL dan $DADA itu sudah terbang meroket ke bulan sedangkan PWON malah nyungsep. Padahal mereka sama-sama sektor properti, tapi pasar memperlakukan mereka seperti beda planet. Ini momen yang sering bikin investor salah fokus, karena harga bergerak cepat, sementara kualitas bisnis bergerak pelan tapi konsisten. Kalau investor cuma melihat chart harga saham, orang bisa menyangka BKSL dan DADA adalah raja baru properti dunia akhirat karena harga sahamnya sudah terbang ke langit, lalu PWON terlihat seolah-olah seperti perusahaan yang gagal dan tinggal tunggu waktu untuk bangkrut karena harganya nyungsep terus. Padahal kalau dibedah pakai angka, PWON itu mesin laba yang skala dan efisiensinya jauh di atas dua nama tadi. Jadi pertanyaannya bukan siapa yang paling heboh di bursa, tapi siapa yang paling kuat mengubah aset jadi uang nyata. Dan di sektor properti, selisih kualitas itu biasanya baru terasa saat siklus berganti. Jadi mari cek faktanya, bukan vibes. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di laporan keuangan 2025, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) bermain di kelas yang berbeda dari PT Sentul City Tbk (BKSL) dan PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA, saya singkat DCP). Revenue PWON Rp5,11 triliun, sementara BKSL Rp836,97 miliar, dan DCP Rp9,05 miliar. Dari sisi laba bersih induk, PWON Rp1,72 triliun, BKSL Rp71,94 miliar, dan DCP Rp0,85 miliar. Dari sini saja terlihat, PWON itu bukan sekadar lebih besar, tapi skalanya sudah seperti kapal induk, sedangkan BKSL kapal sedang, DCP perahu kecil. Jumlah karyawannya mengunci cerita ini, PWON 3.274 orang, BKSL 353 orang, DCP 16 orang. Artinya PWON bukan cuma jualan proyek, tapi mengoperasikan ekosistem yang butuh manpower besar untuk menjaga mesin recurring tetap hidup.
Kalau investor mau melihat produktivitas organisasi, angka per karyawan itu tajam. Revenue per karyawan PWON Rp1,56 miliar, BKSL Rp2,37 miliar, DCP Rp0,56 miliar. Sekilas BKSL terlihat lebih produktif di omzet per orang, tapi ujian sebenarnya ada di laba per orang. Laba induk per karyawan PWON Rp527,34 juta, BKSL Rp203,81 juta, DCP Rp53,43 juta. Ini poin yang sering luput, PWON mungkin tidak memeras revenue per orang setinggi BKSL, tapi PWON jauh lebih jago mengubah omzet menjadi laba bersih. Itu biasanya berarti margin lebih tebal, pricing power lebih kuat, dan struktur biaya yang lebih disiplin. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang masuk ke sisi beban utang per kepala, karena ini menentukan seberapa berat napas bisnis saat bunga tinggi atau siklus melambat. Total debt per karyawan PWON Rp1,69 miliar, BKSL Rp8,48 miliar, dan DCP Rp18,15 miliar. Jadi yang paling ringan bebannya justru PWON, sedangkan DCP yang paling sesak karena utang per orangnya paling besar. Di level psikologi pasar, saham kecil bisa terbang karena sedikit aliran dana saja sudah mengangkat harga, tapi di level fundamental, utang per kepala yang berat itu seperti membawa ransel batu saat lomba lari, kelihatan jalan, tapi cepat atau lambat terasa juga.
Perbandingan yang paling telak ada di laba terhadap luas lahan, karena ini mengukur seberapa efektif land bank diubah jadi uang. PWON menghasilkan laba induk sekitar Rp443.742 per m2 dari lahan belum dikembangkan 3,89 juta m2. BKSL hanya sekitar Rp486 per m2 dari lahan pengembangan 147,85 juta m2. DCP sekitar Rp15.325 per m2 dari lahan yang teridentifikasi sekitar 55.788 m2. Artinya PWON itu ahli membuat lahan yang relatif lebih terbatas menjadi laba yang sangat besar, biasanya lewat produk yang lebih padat nilai dan lebih cepat berputar. BKSL itu raksasa lahan, tapi laba per meternya masih kecil sekali, jadi ceritanya lebih mirip opsi masa depan, tanahnya luas, tapi ekstraksi profitnya belum maksimal. DCP ada di kelas mikro, labanya ada, tapi skala dan beban per orang membuat ruang geraknya sempit.
Jadi kenapa bisa beda nasib di bursa dalam setahun terakhir? Karena bandarnya beda. 馃槍
BKSL dan DADA bisa meroket karena bandarnya jago lulusan S3 gorengan, sementara PWON bisa nyungsep karena bandarnya baru lulus SMA馃槍.
Tapi kalau investor kembali ke data, PWON itu tetap yang paling dominan dalam skala, paling kuat dalam laba absolut, paling tinggi laba per karyawan, dan paling efisien menghasilkan laba per meter lahan, plus beban utangnya per kepala paling ringan. BKSL dan DADA itu lebih cocok dibaca sebagai saham narasi dan opsionalitas, sedangkan PWON dibaca sebagai saham mesin laba yang sudah jalan, cuma kebetulan harganya sedang tidak disayang pasar. Perlu Upgrade skill bandar.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10









