"Anything Can Happen in the Market"
Pasar saham sering memberi pelajaran sederhana:
Apa pun bisa terjadi, bahkan pada saham yang kita anggap “aman” terlebih di market seperti Indonesia.
Sejak 2023, saya mulai konsisten membaca puluhan analisis: dari influencer, tokoh pasar, sampai mereka yang perlahan berubah dari analis menjadi penjual kelas sambil menyusun skripsi saya pada saat itu.
Banyak yang memprediksi.
Banyak yang menganalisis.
Sebagian bahkan “mengajak” ritel membeli sebuah emiten,
secara tidak langsung.
Nyatanya?
Beberapa benar.
Mayoritas meleset.
Untungnya saya memilih satu hal:
berinvestasi pada ilmu, bukan pada saham karena saham akan selalu ada baik esok atau tahun depan.
Kadang saya berpikir,
saya diselamatkan oleh sikap skeptis terhadap
narasi, jurus, dan propaganda yang beredar.
Yang membuat saya iba,
adalah ritel yang hingga hari ini
masih minus puluhan persen
karena alasan seperti:
“katanya bagus”,
“bakal diakuisisi”,
atau cerita lain yang terdengar meyakinkan.
Harga saham bisa turun bukan karena bisnis rusak, tapi karena:
– sentimen global
– panic selling
– rotasi sektor
– atau likuiditas pasar
Sebaliknya, harga bisa naik tanpa kabar besar,
hanya karena gabungan ekspektasi dan persepsi.
Bagi saya, market mengingatkan bahwa:
1. Risiko selalu ada
2.Keyakinan harus dibarengi margin of safety
3.Diversifikasi bukan teori, tapi perlindungan
Market tidak wajib sesuai ekspektasi kita.
Tugas investor bukan menebak pasar,
melainkan menyiapkan diri untuk berbagai kemungkinan.
Jika sebuah saham turun,
pertanyaannya bukan “kenapa harga turun”,
melainkan:
“apakah bisnisnya masih relevan?”
Dan yang terpenting saat membeli saham:
bukan karena “katanya bagus”,
tapi karena
“kenapa saya membeli emiten ini?”
Terima kasih.
$PANI $DSNG $IPCC