They said salah satu hal yg ketika dibagi tidak berkurang adalah ilmu dan kebaikan. So here I'm trying to document & share my system. Tujuannya sharing aja sih. Btw, bisa jadi sistem saya ga cocok dgn kalian and that's fine. Setiap orang punya background yg berbeda-beda, tujuan yg berbeda-beda, risk tolerance yang berbeda-beda pula. If you can benefit from it, that's good. If you notice something so I can improve mine, I welcome it.
Oke, perkenalan dulu. Saya adalah tipe investor yg berorientasi pada dividend karena mengharapkan:
- cash flow karena saya mau dividend bisa membiayai masa tenang saya
- passive income karena saya ga mau mengurangi capital
- bantalan suntikan cash kalo2 saya butuh, karena capital gain memaksa saya menjual capital kalo saya butuh cash.
- opsi investasi ke tempat lain, karena investasi ke growth stock memaksa saya menjual capital kalo saya butuh opsi lain.
.... now that I'm writing it down, I think I just don't want to be forced to be tied down to several stocks. I like options. But that's fine, that's what I'm comfortable with.
Nah, yg saya bakal share di post ini adalah cara saya mendiversifikasikan saham-saham saya. I call it my Diversification System (DS), because there are other system e.g. stockpick system atau bahkan timing system.
Ngaruhnya apa DS gw ini dengan dividend? Ngaruhnya ada di:
a) gw retail investor. I don't think kepemilikan saham gw bakal gerak dari 0.00% apalagi nyampe angka 1 di depan馃ぃ
b) point (a) otomatis membuat gw ga bisa ngatur emiten sembarangan dan bilang, "hey, bagi dividen dong tiap bulan." which means gw harus siap kalo emiten ga bagi dividen
c) point (b) means that setiap dividen yg gw terima tidak boleh terlalu signifikan karena saya berharap dividen bisa nutup biaya hidup.
Btw, ada dividend investor lain dengan style masing-masing, seperti alm. @HaniPutranto -- may he rest in peace -- dengan kiat JHP-nya, kak @kakdr dengan style short ke diri sendiri, kak @investory yang fokus ke highly yield dividend.
Untuk point (c), gw meminjam ilmu dari Reksa Dana. Para ahli investasi di MI punya aturan: 1 saham max 10% untuk menjaga agar kalo 1 saham tersebut bermasalah, minimal 90% lainnya bisa melindungi hasil investasi. Tentu saja cara ini ga perfect, karena kalo ternyata saham tersebut naik tinggi, return juga jadi tidak maksimal. So this is a trade off dan bagi saya, yg penting adalah opsi yg membuat kita bisa tidur nyenyak tiap malam, because if it can't make you sleep at night, it's too expensive.
Saya ingat saya pernah membaca post kak @skydrugz27 yang lebih extreme lagi: bukan 1 saham max 10% tapi 1 saham max 5%. I like it, so that's what I do with my DS: 1 saham max 5% investasi saja, artinya saya punya minimal 20 saham. Minimal.
Tapi saat itu saya uda ada saham yg kepemilikan lebih dari 5%, so I choose the closest rounding number ke 5% dari saham tertinggi dan stick with it. Misal, kira2 investasi saham saya di $BBRI adalah 9.5 juta pada 7.5%, ya sudah saya anggap 10 jt adalah max 5% saya. Ini angka maksimum exposure saya ke satu saham. I call it grade A. Kalo ntar saya berniat menaikkan limit, ya berlaku ke semua. kalo uda sampe limit, jangan masuk lagi. karena saya masi top up, lama2 angkanya 7.5% ini eventually jd < 5%.
Juga minjem ilmu dari lembaga rating mirip SP500, Finch dan Pelindo, ketika milih stockpick, I put them on a grade. Grade A alokasi investasi max 5%, grade B separuh grade A, grade C separuh grade B dan grade D separuh grade C. This allows me to invest in multiple stocks -- excellent, good and average stocks -- sambil membatasi exposure mereka ke seluruh portofolio saya. Kapan grade A/B/C/D itu part of stockpick system.
Again, it's not for everyone but that works for me. Buat yg mikir saya punya saham berapa banyak, jawabannya ada 50 lebih. Sebagian memang karena dosa masa lalu tapi kalo dikurangi dengan saham yang mau saya keep, jumlahnya minimal 30, mostly range A dan B. Banyak yg nyaman dengan 5-8 emiten, silahkan. Ada yg seneng all-in, silahkan juga. Ga pusing liatnya? Biasa aja sih. Ingat mereka semua apa aja? Kalo disuruh recite, I might miss one or two, but generally I know them, yes. Gw tau mereka siapa, bisnis apa, sektor apa.
So far hasilnya gimana? Dalam return portofolio, agak datar sih, tapi maybe karena kebanyakan stockpick gw stylenya yg sisiran. $IHSG naik ya segituan, IHSG turun ya ikut turun tapi ga jauh2 amat. Dalam dividend talks, beberapa dividen kadang puasa bagi atau berganti jadwal dan efeknya ga terlalu parah. $DMAS puasa bagi dividen di 2024 and I could still reach my dividend target di 2024 meski ngos-ngosan padahal DMAS termasuk major contributor. Sisanya... I think we shall have to wait for the future to prove whether this approach works. Dan btw, bisa saja saya mengubah approach saya tanpa memberi tahu--I don't have any obligation to share all my thoughts to anyone.
That's it, thanks for reading. Any comments and suggestions are welcome.