imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Warren Buffett mungkin tidak cocok untuk semua orang

Warren Buffett lengser sebagai CEO Berkshire Hathaway pada akhir tahun 2025 setelah hampir 60 tahun menjabat.

Saya hampir tak percaya membaca berita bahwa total return-nya sejak memgambil alih Berkshire pada tahun 1965 mencapai 6 juta persen.

Saya tidak salah baca. Memang disebutkan returnnya mencapai 6 juta persen selama 60 tahun tersebut.

Sebagai perbandingan, pada kurun waktu yang sama, return S&P "hanya" 46.000%.

Sangat jauh bedanya.

Di portal berita lain, disebutkan bahwa CAGR Buffett hampir mencapai 20% selama 60 tahun. Angka ini besarnya hampir 2 kali lipat dari CAGR S&P500.

Setelah saya hitung-hitung, sepertinya kedua informasi tersebut match.

Mencapai CAGR 20% selama 60 tahun itu luar biasa sekali.

Apakah bisa ditiru?

Kalau dibilang sama-sama manusia ya mestinya bisa. Tapi kita harus paham dulu apa yang membuat Buffett bisa memiliki kinerja secemerlang itu.

Nama Warren Buffett sudah lama diposisikan sebagai gold standard di dunia investasi.

Prinsipnya sederhana saja.

Beli wonderful company, pegang selamanya, dan biarkan proses compounding bekerja.

Masalahnya adalah banyak yang mencoba menerapkan strategi Buffett berdasarkan quote-nya yang populer saja

​Kita sering lupa bahwa resep yang membuat Buffett menjadi orang terkaya di dunia akan sulit kita adopsi sepenuhnya.

Mengapa?

Karena strategi tersebut lahir dari sebuah kondisi yang sangat sulit untuk ditiru. Pemahaman yang salah saat mengadaptasi stategi investasi Buffett akan membuat hasil investasi kita tidak sesuai dengan harapan.

Untuk itu, kita harus menyadari beberapa hal sebelum menerapkan strategi investasi Buffett.


​Insight #1: Mitos "One size fits all"

​Banyak yang berpikir bahwa strategi investasi Buffett berlaku secara universal. Padahal keberhasilan Buffett sendiri tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah dan posisinya.

Yang pertama, Buffett hidup di era pasca-Depresi 1929 hingga ledakan pertumbuhan ekonomi Amerika setelahnya. Kondisi ini menciptakan baseline yang sangat rendah bagi pertumbuhan selanjutnya.

Yang kedua, Buffett terus mendapatkan tambahan modal melalui float asuransi. Ini seperti tambahan amunisi jika hendak berinvestasi walaupun tentu saja akan menjadi tantangan tersendiri untuk bisa mendapatkan tingkat pengembalian yang layak dari tambahan modal tersebut.

Yang ketiga, reputasinya membuat manajemen perusahaan membuka pintu untuk dealing tanpa perlu negosiasi panjang. Reputasi ini juga lah yang membuat Buffett seringkali mendapatkan tawaran untuk mengakuisisi perusahaan privat yang tidak bisa didapatkan oleh investor pada umumnya.

Oleh karenanya, meniru Buffett secara mentah-mentah ibarat mencoba balapan Moto GP dengan menggunakan motor bebek. Dan bahkan jika motornya pun sudah layak, belum tentu kita punya "bahan bakar" mental yang sama untuk berpacu di lintasan balap tersebut.


​Insight #2: Agar bisa bersabar itu ada syaratnya

​Banyak yang bilang kunci sukses Buffett adalah kesabaran. Buffett sendiri sering berkata bahwa waktu adalah teman bagi wonderful company.

Itu benar...tapi hanya jika kita memiliki perbekalan yang cukup untuk menunggu selama itu.

Solusinya jelas. Kita harus berinvestasi dengan uang dingin.

Dan punya uang dingin adalah sebuah privilege. Jika tidak memilikinya, kesabaran akan seperti mimpi.


Insight #3: Buffett sudah berada di fase investasi yang berbeda

Hal penting lainnya yang juga harus disadari jika hendak menerapkan strategi investasi Buffett adalah pemahaman terhadap fase investasi.

Saat ini, Buffett harus membeli perusahaan besar dan stabil dan tidak bisa masuk ke saham kecil karena skala modalnya.

Sementara itu, kebanyakan investor ritel justru berada di posisi sebaliknya. Modal masih relatif kecil dan bebas membeli saham apa saja.

Akan menjadi ironi jika kita meniru strategi Berkshire (yang sudah terlalu gemuk) sehingga melewatkan peluang di depan mata.

Kita akan melewatkan saham small/medium caps yang belum dilirik oleh institusi atau saham di growing sector yang terlalu kecil untuk bisa digapai oleh investor sebesar Buffett.

Kita juga bisa membeli atau menjual saham tanpa diiringi kekhawatiran akan menganggu harganya.

Meniru Buffett secara mentah-mentah justru bisa menjadi opportunity cost bagi kita karena tidak memanfaatkan keunggulan alamiah yang dimiliki seorang investor ritel.


Insight #4: "Buy and hold forever" lebih sulit untuk dterapkan di era ini

​Dahulu, moat bisa bertahan puluhan tahun karena perubahan industri berjalan lamban.

Kalau sekarang?

Teknologi bisa meruntuhkan dominasi bisnis mapan hanya dalam hitungan tahun. Prinsip buy and hold forever di tengah badai AI dan disrupsi menjadi jauh lebih berisiko dibandingkan dengan jaman Buffett masih muda.

​Jika terlalu kaku mengikuti doktrin pantang untuk menjual, kita berisiko terjebak dalam value trap, yaitu perusahaan yang terlihat murah padahal sedang menuju kehancuran.

Kita harus realistis sebagai investor. Buy and hold hanya jika memang masih layak.

Harus realistis.


Final thoughts

​Sah-sah saja jika kita belajar dari Buffett.

Walaupun begitu, menjadikan diri kita sebagai "mini Buffett" adalah sebuah ilusi.

Kita bisa mengambil pelajaran dari cara berpikir Buffett yang fokus pada business value dan kedisplinannya dalam berinvestasi. Dan tentu saja selama masih relevan, detail strategi investasinya bisa juga kita adaptasi.

​Yang terpenting adalah menjadi versi paling rasional dari diri kita sendiri.

Buffett sudah menemukan jalannya.

Sebagai investor, tugas kita adalah menemukan jalan sendiri sesuai tujuan kita dengan kejernihan pikiran yang sama.

$IHSG

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy