$SKLT #3 - Tentang Segmen Kerupuk

Kalau sambal dan saus berbicara soal rasa, maka kerupuk berbicara soal kebiasaan. Ia tidak pernah jadi menu utama, tapi hampir selalu ada.

Dari warung kecil, nasi kotak acara, katering aqiqah, sampai meja makan rumah tangga, kerupuk hadir sebagai bagian dr ritual makan itu sendiri. Poin inilah yg menjadikan segmen kerupuk SKLT menarik utk dibedah lebih dalam.

Bagian:
#1 - https://stockbit.com/post/25513717
#2 - https://stockbit.com/post/25622289

Dalam dua bagian sebelumnya, kita melihat bagaimana SKLT membangun bisnis sambal dan saus secara konsisten. Tidak ada loncatan produk yg aneh, tidak ada diversifikasi ke luar lingkaran kompetensi mereka. Menurut sy kerupuk berada di jalur yg sama. Ia dikonsumsi bersamaan, dibeli berulang, dan jarang dipertanyakan mereknya selama rasanya konsisten.

Sejak awal berdiri, SKLT sebenarnya tidak pernah keluar dr satu ruang besar, yaitu pelengkap makanan. Bahkan dr sisi sejarah usaha, SKLT lahir bukan dr sambal atau saus, melainkan dr pengolahan hasil laut dan pertanian sejak 1966, ketika fokus utamanya adalah bagaimana limbah hasil laut seperti cangkang udang bisa diolah menjadi bahan pangan, diawetkan, dan didistribusikan secara efisien.

Kerupuk secara natural muncul sebagai turunan paling logis dr ekosistem tersebut. Produk ini memanfaatkan bahan baku laut, proses pengeringan, pengolahan massal, serta karakter distribusi kering yg stabil dan tahan lama. Semua elemen ini sudah menjadi bagian dr kompetensi teknis SKLT sejak awal.

Karena itu, kehadiran kerupuk bukanlah ekspansi oportunistik yg lahir belakangan. Ia justru mencerminkan fase paling awal dr bisnis SKLT, yaitu ketika perusahaan membangun fondasi kemampuan produksi dan distribusi sebelum akhirnya masuk lebih jauh ke produk berbasis rasa seperti sambal dan saos.

Kerupuk sendiri adalah bisnis volume. Marginnya mungkin tidak setinggi produk premium, tapi perputarannya cepat dan stabil. Dalam laporan keuangan, segmen ini menunjukkan karakter yg khas. Coba perhatikan data pendapatan segmen kerupuk SKLT dr tahun ke tahun:

2019 Rp292 miliar
2020 Rp293 miliar
2021 Rp304 miliar
2022 Rp298 miliar
2023 Rp362 miliar
2024 Rp441 miliar

Dari data tersebut, CAGR segmen ini sekitar 8,6%. Tidak tinggi, tapi stabil dan konsisten mengikuti pola konsumsi harian masyarakat. Penjualannya tidak melonjak drastis seperti produk viral, tapi jg tidak mudah anjlok.

Yang menarik, kerupuk SKLT tidak hanya bermain di pasar konsumen ritel. Justru jejaknya terlihat jelas di kanal B2B. Dari pengamatan lapangan, kerupuk Finna muncul berulang kali di berbagai model katering.

Silakan lihat gambar terlampir, mulai dari paket aqiqah tradisional, nasi kotak modern, sampai tumpeng mini ekonomis, kerupuk yg sama terus muncul. Dan menurut nyubi seperti sy, ini rasanya bukan kebetulan belaka.

Bagi pelaku katering, kerupuk matang yg sudah dikemas rapi bukan sekadar pelengkap. Ia adalah solusi efisiensi. Coba catat:

- Mereka jd tidak perlu menggoreng,
- Mereka jd tidak perlu menjaga kualitas minyak,
- Mereka jg jd tidak perlu risiko kerupuk melempem.

Tinggal beli, simpan, dan sajikan. 🍌

Penghematan proses jauh lebih bernilai dibanding selisih harga per bungkus bagi bisnis katering yg volumenya padat dan waktunya sempit.

Nah, pd titik inilah muncul MOAT berupa switching cost yg sering luput dr perhatian. Bukan switching cost dalam bentuk kontrak, tapi dalam bentuk "kerepotan". πŸ˜…

Begitu katering menemukan pemasok kerupuk yg konsisten rasa dan kualitasnya, insentif utk pindah hampir tidak ada. Kerupuk bukan item yg ingin diuji coba tiap minggu. Ia harus β€œaman”, dan aman artinya dikenal.

Polanya serupa dengan sambal dan saus SKLT di kanal HOREKA. Sambal dalam cup kecil atau plastik polos sering tidak bermerek. Tapi justru di sanalah kekuatannya. Produk itu hadir sebagai fungsi, bukan sebagai identitas saja.

Maka, sangat masuk akal jika sambal tersebut dipasok dalam bentuk bulk atau jerigen besar oleh SKLT, lalu dikemas ulang oleh katering. Perhatikan kembali gambar terlampir, apakah mereka membuat sambalnya sendiri? Bagi sudut pandang dapur produksi, membeli sambal jd jauh lebih efisien daripada mengulek sendiri setiap hari.

Kerupuk dan sambal, dalam konteks ini, bekerja sebagai satu paket efisiensi. Keduanya menghemat waktu, tenaga, dan konsistensi rasa. Dan SKLT berada di posisi yg tepat utk mengisi kebutuhan itu lewat merek dan kapasitas produksinya.

Jika kita geser ke sisi B2C, ceritanya tidak kalah menarik. Pasar kerupuk mentah dan matang di Indonesia memang sangat terfragmentasi. Banyak produsen lokal, banyak merek daerah. Tapi justru karena fragmentasi itu, merek nasional yg konsisten menjadi patokan.

Dari berbagai ulasan konsumen dan peringkat produk, Finna kerap muncul sebagai referensi kerupuk udang standar. Ini penting, karena konsumen kerupuk jarang bereksperimen sejauh konsumen snack modern. Begitu menemukan rasa yg cocok, mereka cenderung bertahan. Dan konsistensi lebih bernilai daripada inovasi rasa yg agresif di pasar seperti ini. SKLT tampaknya memahami ini sejak lama.

Persaingan di segmen kerupuk tentu ada. Tekanan harga, bahan baku, dan UMKM lokal selalu menjadi faktor. Tapi justru di sinilah skala bekerja. Luasnya distribusi, besarnya kapasitas produksi, serta penetrasi pd jaringan ritel membuat pemain seperti SKLT mampu bertahan tanpa harus berperang harga setiap hari.

Teman-teman @stockbit jg bisa melakukan pengecekan sederhana misalnya dgn melihat langsung ke berbagai pasar tradisional, toko sayur, atau kios bahan makanan. Merek kerupuk yg tersedia dan berulang muncul biasanya menunjukkan permintaan yg stabil dan perputaran barang yg cepat. Produk yg bertahan di kanal ini umumnya adalah produk yg jarang bermasalah dan sudah diterima konsumen.

Dari sudut pandang kebanyakan orang, kerupuk mungkin terdengar terlalu membosankan. Tapi justru di situlah nilainya. Produk sederhana, permintaan stabil, dan kebutuhan berulang adalah fondasi bisnis yg tahan lama.

Lihat saja bagaimana dapur katering berproduksi tiap hari, atau coba hitung saja berapa banyak yg mengadakan acara seperti aqiqah, syukuran, atau hanya "rapat kantor" tiap harinya. Hitung jg berapa banyak dr rumah makan dan rumah tangga yg tiap makan terdengar bunyi "kriuukk" yg renyah tersebut.

Jadi, bagi sy tidak semua bisnis harus tumbuh dua digit setiap tahun utk menjadi berharga bagi pemiliknya. Bahkan mungkin kalau dr sudut pandang Peter Lynch, ini adalah tipe bisnis yg sering diabaikan pasar. Tidak glamor, tidak banyak story, tapi angka penjualannya jalan terus. Investor sering terlambat menyadari bahwa bisnis seperti ini sudah bekerja jauh sebelum mereka meliriknya.

Pada akhirnya, segmen kerupuk memperlihatkan satu hal penting tentang SKLT, bahwa perusahaan ini tidak mengejar cerita besar. Mereka mengejar kehadiran konsisten di titik-titik konsumsi harian. Sambal memberi rasa, saus memberi variasi, kerupuk memberi tekstur. Semuanya hadir bersama.

Kemudian, jika SKLT sudah sedekat ini dengan dapur, katering, warung, dan ritel, maka siapa sebenarnya yg mengatur aliran barangnya?

Bagaimana produk-produk ini sampai ke tangan konsumen?

Di sinilah story SKLT belum selesai.

Ternyata, ada satu segmen lainnya yg mungkin jarang dibahas tapi kontribusinya pd pendapatan justru lebih besar. Bukan tentang rasa, tapi tentang distribusi.

Disclaimer: Catatan ini adalah refleksi pengetahuan penulis tentang dunia perkerupukan di Indonesia. Dan catatan ini jg bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Segala kerugian sebagai akibat penggunaan informasi pada tulisan ini bukan menjadi tanggung jawab penulis. Do your own research.

Random Tag:
$AISA
$JPFA

Read more...

1/5

testestestestes
2013-2026 Stockbit Β·AboutΒ·ContactHelpΒ·House RulesΒ·TermsΒ·Privacy