$SDPC Perusahaan yang Hidup dari Janji Rumah Sakit
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
SDPC ini bisnisnya sangat bergantung pada kepercayaan pada rumah sakit. Karena modelnya wholesaler distribusi obat dan alat kesehatan, SDPC itu hidup dari invoice, bukan dari kas kontan di meja kasir. Begitu rumah sakit telat bayar, SDPC tetap harus kirim barang, tetap harus gaji karyawan, dan yang paling kejam tetap harus bayar bunga bank tepat waktu. Jadi kualitas bisnis SDPC bukan di seberapa besar omzetnya, tapi di seberapa patuh pelanggan membayar dan seberapa murah biaya dananya. Kalau kepercayaan runtuh, piutang menumpuk, bank makin mahal, laba langsung gepeng. Dan itulah kenapa saham seperti ini bisa kelihatan murah, tapi tidak pernah benar-benar terasa aman. Investor tidak sedang membeli toko yang ramai, investor sedang membeli disiplin penagihan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Secara identitas, SDPC sudah tua dan sangat mapan sebagai entitas, berdiri 20 Oktober 1952 dan listing 7 Mei 1990. Gap 38 tahun dari berdiri sampai IPO, lalu sampai 2025 umur usahanya 73 tahun dan sudah 35 tahun jadi emiten. Maknanya, ini bukan startup, jaringan 36 kantor cabang itu hasil puluhan tahun. Karyawannya 1.180 orang dan growth 0% dibanding akhir 2024, ini biasanya berarti perusahaan sedang menjaga efisiensi, bukan sedang ekspansi agresif lewat penambahan SDM.
Dari sisi kepemilikan, SDPC memang milik Malaysia secara kontrol. PSP Pharmaniaga International Corporation Sdn. Bhd. pegang 73,43% dan UBO Boustead Holdings Bhd. Free float 11,63% dengan total saham 1.274.000.000 lembar. Maknanya dua. Pertama, likuiditas publik cenderung tipis dan harga bisa lebih mudah liar saat ada arus beli jual. Kedua, kontrol stabil, jadi arah strategis lebih konsisten, tapi publik harus sadar kepentingan grup bisa lebih dominan daripada kepentingan pemegang saham minoritas. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang masuk ke mesin laba rugi yang bikin SDPC terlihat seperti bisnis volume. Revenue 9M-2025 3,00 triliun Rupiah tumbuh 2,67%, tapi COGS 2,75 triliun Rupiah atau 91,4% dari revenue. Artinya margin kotor kecil, khas distributor, bisnisnya bukan cari spread besar, tapi cari putaran cepat. Gross profit margin 8,56%, operating profit margin 2,66%, dan net profit margin 0,68%. Terjemahan gampangnya, dari setiap 100 Rupiah penjualan, laba bersih yang benar-benar jadi milik pemegang saham cuma 0,68 Rupiah. Ini bukan jelek untuk distributor, tapi bikin ruang salahnya sempit, salah sedikit di biaya atau bunga, laba hilang.
Itulah yang terjadi di 2025. SGA 173,25 miliar Rupiah tumbuh 3,2% dan finance costs 52,26 miliar Rupiah naik 4,4%. Revenue naik, tapi biaya jalan lebih cepat, hasilnya laba bersih pemilik entitas induk 20,39 miliar Rupiah malah turun 0,6%. Jadi SDPC sedang lari di treadmill, capek, tapi posisinya tidak maju-maju karena beban bunga dan biaya operasional menggerus kenaikan omzet.
Yang paling penting untuk memahami SDPC adalah komposisi asetnya. Piutang usaha pihak ketiga 879,79 miliar Rupiah atau 46,2% aset. Persediaan 559,11 miliar Rupiah atau 29,3% aset. Kas cuma 37,82 miliar Rupiah dan turun dari 53,4 miliar Rupiah. Aset tetap 104,75 miliar Rupiah. Sebagian besar aset SDPC adalah aset kerja yang tidak langsung bisa dipakai bayar utang hari ini. Piutang itu janji, persediaan itu barang, tapi bank maunya uang tunai. Jadi ketika kas turun dan piutang naik, itu sinyal squeeze likuiditas.
Rasio perputaran memperjelas kenapa SDPC harus pinjam bank. DSO sekitar 72 hari artinya SDPC rata-rata baru terima uang 72 hari setelah jual. DI sekitar 55 hari artinya barang rata-rata ngendap 55 hari sebelum laku. DPO sekitar 55 hari artinya SDPC bayar vendor rata-rata 55 hari. CCC sekitar 72 hari, inti maknanya SDPC bayar vendor lebih cepat daripada ditagih oleh pelanggan, jadi selalu ada gap kas yang harus dijembatani, biasanya lewat utang bank. Di sinilah kata kepercayaan pada rumah sakit menjadi literal, karena rumah sakit adalah kontributor piutang terbesar 71,7% dari piutang usaha pihak ketiga. Kalau termin makin molor, SDPC makin tergantung pada bank.
Penerimaan kas dari pelanggan 2,85 triliun Rupiah, sedangkan revenue 3,00 triliun Rupiah. Selisih 150 miliar Rupiah itu pada dasarnya penjualan yang belum jadi uang dan masuk ke piutang. CFO 16,2 miliar Rupiah, hampir sejalan dengan laba 20,4 miliar Rupiah, ini bagus karena laba tidak fiktif. Namun capex 30,6 miliar Rupiah membuat FCF negatif sekitar minus 14,4 miliar Rupiah. SDPC memang mulai menghasilkan kas dari operasi, tapi masih belum cukup untuk membiayai investasi, apalagi untuk menurunkan utang bank secara natural. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Utangnya inilah yang bikin SDPC seperti hidup di bawah bayang-bayang bank. Utang bank total sekitar 848 miliar Rupiah, dan seluruhnya floating rate. Ini risiko paling kritikal, karena kenaikan bunga kecil saja bisa menyapu bersih laba bersih yang cuma 20 miliar Rupiah-an. Secara kasar, debt to profit annualized sekitar 31 tahun, artinya kalau laba tidak naik dan semua laba dipakai bayar utang, butuh puluhan tahun. Debt to FCF tidak bisa dipakai karena FCF negatif, artinya SDPC tidak bisa menutup utangnya dari kas bebas saat ini tanpa pembiayaan eksternal. Ada mitigasi berupa letter of comfort dan fasilitas kredit yang diperpanjang, jadi gagal bayar tidak otomatis, tapi tetap menunjukkan ketergantungan.
Capex juga perlu dibaca sebagai dua sisi. Capex dipakai terutama untuk construction in progress 25,7 miliar Rupiah dan peralatan kantor teknis. Lonjakan capex 30,6 miliar Rupiah dibanding 4,6 miliar Rupiah pada 2024 mengindikasikan upgrade fasilitas, gudang, atau sistem. Maknanya, manajemen sedang menyiapkan kapasitas, tetapi ini terjadi saat kas menipis dan utang bank besar, jadi ekspansi ini dibayar dengan menambah tekanan likuiditas, bukan dari surplus kas.
Di operasional, SDPC punya konsentrasi yang bisa jadi senjata atau bumerang. Segmen obat resep menyumbang 69,5% revenue, ini defensif. Tapi obat non-resep anjlok 38% YoY, dari 170 miliar Rupiah jadi 105 miliar Rupiah, dan segmen ini biasanya lebih enak marginnya. Vendor juga terkonsentrasi, PT Lapi Laboratories Indonesia sekitar 33,6% pembelian. Maknanya, SDPC kuat karena punya jalur volume besar ke segmen inti, tetapi rentan kalau kontrak vendor berubah atau segmen yang marginnya lebih tinggi melemah. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Hidden asset SDPC ada, tapi jangan dibesar-besarkan. Ada tanah di Bintara Jaya 9.436 m2 dan surplus revaluasi 4,2 miliar Rupiah. Ini kelihatan miliaran asetnya tapi tidak menyelesaikan masalah utama, yakni piutang yang membengkak, kas yang tipis, dan bunga floating yang mencekik.
Kalau dibandingkan dengan saham lain yang sudah dibahas di Pintar Nyangkut, kontrasnya jelas. $DAYA itu retailer Watsons, bermain di depan, 204 toko per 30 September 2025 naik 25 toko dari akhir 2024, bertaruh pada ekspansi gerai dan O plus O. Risiko utamanya biasanya ada di sewa mall, stok, promo, dan produktivitas toko baru. SDPC kebalikannya, tidak peduli trafik mall, tapi peduli termin kredit dan bunga bank. HERO juga beda, $HERO ritel khusus yang sempat terbantu restitusi pajak besar untuk CFO, sedangkan SDPC CFO baru pulih tipis dan langsung kalah oleh capex. Jadi, DAYA growth play toko, HERO turnaround play format, SDPC ini trust play modal kerja.
SDPC itu bukan pertaruhan omzet, tapi pertaruhan penagihan. Kalau rumah sakit bayar lebih cepat, DSO turun, bank berkurang, bunga turun, laba bisa melonjak tanpa perlu revenue meledak. Tapi kalau piutang terus naik lebih cepat dari revenue, SDPC akan tetap terlihat murah di PBV dan PER, namun murahnya adalah kompensasi risiko, bukan hadiah.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/8







