$IHSG $MYRX $ARTO
Belajar dari Sejarah: Kuburan Saham "Valuasi Langit" Saat Krisis
Melanjutkan post sebelumnya soal "Bug MSCI" dan Valuasi Abstrak. Banyak yang bilang "Kali ini beda, konglonya kuat, duitnya infinity."
Spoiler alert: It’s never different.
Ketika keran likuiditas ditutup (suku bunga naik, krisis global, atau skandal internal), saham-saham yang naik karena "pompaan" tanpa fundamental inelastic adalah yang pertama kali dibantai. Mereka turun bukan 10-20%, tapi 90-99%.
Ini beberapa Hall of Fame saham "Idola" yang rontok ketika realita menghantam:
1. The Legend: BUMI (2008) - "Saham Sejuta Umat"
The Story: Dulu BUMI itu rajanya market (BOBOT TERTINGGI IHSG). Valuasi sempat tembus Rp 8.000-an. Semua orang merasa jenius pegang BUMI. Narasinya? Commodity Supercycle + Bakrie Empire.
The Crash: Krisis finansial 2008 datang + Isu REPO (Gadai Saham) meledak.
Result: Dari 8.000 terjun bebas ke gocap (Rp 50).
Lesson: Saham yang naik karena REPO, turunnya nggak pake rem. Fundamental tambang batubaranya ada, tapi financial engineering-nya yang bikin hancur.
2. The "Asset Play" Illusion: MYRX (Hanson) - Era Bentjok
The Story: Sempat jadi primadona properti dengan landbank raksasa di Maja. Laporan keuangan terlihat profit terus (walau cashflow operasional sering minus/aneh). Harganya dijaga rapi, grafiknya cantik kayak tangga.
The Crash: Kasus Jiwasraya/Asabri meledak. Ketahuan kalau buying power yang menjaga harga sahamnya berasal dari dana-dana institusi yang "diatur".
Result: Suspensi -> Delisting -> Owner masuk penjara. Duit ritel? Hilang 100%.
Lesson: Grafik yang terlalu rapi (dijaga bandar) adalah tanda bahaya terbesar saat likuiditas bandar itu sendiri kering.
3. The Covid Hype: KAEF & INAF (2020-2021)
The Story: Vaksin Covid-19. Narasinya simple: "Vaksin wajib, KAEF yang distribusi, profit bakal meledak." Harga sahamnya terbang ara-ara berjilid-jilid sampai ribuan persen. Valuasi P/E ratio sempat ratusan hingga ribuan kali.
The Crash: Covid mereda, vaksinasi selesai, dan earnings ternyata tidak setinggi ekspektasi gila pasar.
Result: Kembali ke habitat asalnya (turun >80% dari peak).
Lesson: Event-driven rally sifatnya sementara. Ketika beritanya basi, demand hilang seketika.
4. The Tech/Bank Digital Bubble: ARTO (2021-2022)
Disclaimer: ARTO bisnisnya riil dan legitimate, bukan scam. Tapi ini studi kasus "Valuasi Abstrak".
The Story: Bank Digital + Ekosistem GOTO. Market Cap sempat tembus Top 5 Big Caps, menyalip bank-bank BUMN raksasa yang profitnya triliunan. Harga peak di 19.000-an.
The Crash: The Fed naikin suku bunga agresif di 2022. Era easy money habis. Investor global kabur dari aset berisiko tinggi (high growth, high valuation).
Result: Turun sampai ke 1.000-2.000an (Drop >85%).
Lesson: Saham bagus pun kalau dibeli di valuasi yang salah (salah harga), bisa jadi investasi yang mengerikan. Saat krisis, market kembali melihat P/E, PBV, dan Dividend Yield yang masuk akal.
Benang Merahnya? Semua saham di atas punya satu kesamaan saat di pucuk: Valuasi mereka tidak disokong oleh Cashflow yang kuat dan stabil (High ROIC), melainkan oleh NARASI.
Saat krisis, narasi itu sampah. Cash is king.
Saham Konglo/IPO baru yang sekarang Market Cap-nya ratusan triliun tapi profit operasionalnya "imut" atau bahkan rugi? Silakan renungkan, kalau besok krisis datang dan MSCI nge-patch bug mereka, siapa yang mau nampung barangnya di harga segitu?