$IHSG Hype Saham Konglo, "Bug" MSCI, dan Ilusi Valuasi Abstrak $KLBF $PANI
Di IHSG belakangan ini lagi kenceng banget narasi saham-saham "Konglo". Market Cap dipompa sampai langit, valuasinya jadi abstrak.
Tapi ingat, Gravity always wins.
Ketika krisis datang, atau ketika likuiditas lagi kering (cash is king), saham-saham dengan valuasi "langit" ini biasanya yang paling perih. Kenapa? Karena pegangannya nggak ada.
1. Back to Basic: CAPM & Risk Premium Konsep valuasi itu sebenernya simpel. Saham itu instrumen berisiko. Secara model CAPM, return ekspektasinya harus di atas Risk Free Rate (Bunga Obligasi/Country Risk).
Kalau lu beli saham yang P/E-nya ratusan kali, dividen yield 0.something%, dan growth-nya cuma based on "story" atau repo—begitu market crash, lu mau pegangan apa?
Beda cerita sama saham defensif yang demand-nya inelastic. Contoh: KLBF pas Covid. Pas lockdown, market hancur. KLBF ikut turun? Iya. Tapi rebound-nya cepet. Kenapa? Karena orang tetap butuh obat. Revenue kuat, cashflow jalan, demand inelastic. Fundamentalnya jadi "lantai" yang nahan harga.
2. Dilema "Average Down" Saham Konglo Ini beda sama Quality Investing a la Terry Smith
Kalau lu beli saham High ROIC, Inelastic Revenue, dan Strong Cashflow (ala Terry Smith), pas harga turun, lu berani average down. Lu tau itu barang bagus yang lagi diskon. Mau itu bisa diskon lagi, ala 1997-1998, udah turun 50%, bisa turun lagi 90%, lu dengan happy lu beli cicil berkala.
Tapi kalau lu beli saham Konglo yang valuasinya abstrak (cuma modal "story" corporate action)? Pas harganya rontok 30-50%, lu bingung. "Ini mau serok, tapi sebenernya valuasinya masih mahal apa udah murah?" Akhirnya cuma jadi penonton atau malah cutloss di pucuk bawah.
3. Fenomena "Bug" di MSCI Dulu, saham gorengan itu mainan bandar lokal. Sekarang, level mainnya udah beda: Exit Liquiditynya Global Index.
Banyak Konglo yang sepertinya nemu "Bug" di sistem MSCI.
Caranya:
Create story.
Kunci float.
Pompa Market Cap.
Goal: Masuk MSCI/FTSE.
Kenapa? Karena kalau masuk MSCI, fund asing (passive money) TERPAKSA beli. Ini jadi exit strategy atau liquidity provider buat mereka. Gorengan "naik kelas" jadi saham index.
4. Pelajaran dari MSTR (MicroStrategy) Liat kasus MSTR. Biasanya market kasih premium MNAV (Market Net Asset Value) 2-4x dari aset Bitcoin yang mereka pegang. Tapi begitu sentimen berubah atau ada isu index (keluar masuk index), premium itu bisa lenyap dalam semalam. MNAV bisa balik ke 1x lagi.
Premium valuasi (bubble) itu barang paling rapuh di market.
Kesimpulan: Apakah saham-saham konglo ini bakal terus naik? Bisa jadi, kalau flow dan narrative-nya masih dijaga. Apakah bakal jadi wild card? Hanya Tuhan yang tahu!
Tapi buat investor ritel, hati-hati terjebak di valuasi abstrak. Jangan sampai pas musik berhenti, kita yang disuruh cuci piring karena "bug" MSCI-nya udah di-patch atau likuiditasnya cabut.