$IHSG - Mati Rasa di Lantai Bursa
08.55 WIB.
Lima menit sebelum bel. Mati rasa sudah menempel sejak jam empat subuh, ketika tubuh bangun sendiri tanpa alarm, seperti refleks lama yang lupa cara bermimpi. Aku menatap langit-langit kamar, mencoba mengingat mimpi apa pun. Tidak ada. Kosong. Seperti chart tanpa volume.
Layar monitor hijau-merah berkedip. Tak ada yang “nyangkut”. Dahulu, pergerakan tiga fraksi TLKM saja cukup membuat telapak tangan basah, jantung berdegup seperti hendak meloncat dari rongga dada. Sekarang? Hampa. Sehampa-hampanya. Klik buy terasa seperti menekan tombol lift, sekadar gerak mekanis. Naik-turun sama saja. Portofolio tinggal deretan piksel mati. Batinku sebidang ruang kosong, flat, sideways.
Aku buka Stockbit. Isinya tetap sama, debat backdoor listing yang itu-itu lagi. Saham konglomerasi yang dikunyah berulang-ulang. Bahas right issue yang berseri-seri. Screenshot cuan, entah ini asli atau entah itu editan. Pom-pom gorengan bercampur tawa getir para “korban” yang pura-pura santai.
Selalu saja ramai, tapi sunyi. Lebih gaduh dari lantai bursa, tapi tanpa denyut.
Aku bergerak. Aku membaca. Aku klik. Tapi rasa tak ikut. Bosan.
Pagi tadi masuk WhatsApp dari anak baru:
“Bang, IHSG kenapa bisa merah?”
Jempolku mulai menari: The Fed, yield obligasi, risiko geopolitik, lalu berhenti. Jari-jari menggantung di keyboard. Aku hapus semua, dan menulis ulang:
“Lagi pada takut mungkin… kayak lo waktu pertama kali naik roller coaster.”
Balasannya: “Hahaha iya juga ya. Tapi seru-kan, Bang?”
Aku diam lama. Ia baru saja memberi laporan keuangan paling jujur, rasa takut yang sehat.
09.15 WIB. IHSG turun 0,5%. Tak ada yang bergerak di dalam.
Flashback menyelinap tanpa izin. $TOTL melonjak ARA 30% pasca proyek istana, telapak tangan basah. TBLA rights issue, rasanya seperti menggenggam tiket lotre. $STAA turun 50%, napas tersengal.
Dulu, rugi menampar pipi. Cuan terasa seperti bonus hidup. Segalanya hidup.
Sekarang? Ritual kosong. Bear market batin. Adrenalin terkuras, diganti algoritma: buy, hold, sell, tanpa pernah bertanya “kenapa?”.
Portofolioku mencapai all time high kemarin. Aku menatapnya seperti foto lama di dompet. Ada kenangan, tapi emosinya absen. Mati rasa lebih berbahaya daripada rugi. Rugi bisa dicari gantinya. Mati rasa melahirkan keputusan yang tampak rapi, tapi rapuh, seperti saham gorengan yang indah di chart, busuk di dasar.
Aku keluar dari semua grup Telegram. Dulu bikin jantung berdegup. Sekarang hanya pengulangan. Kita mengajari pemula menjadi dingin. Ironisnya, pelajaran itu mengeringkan emosi. Intuisi melemah. Kita saling melatih jadi mesin.
10.30 WIB.
Aku beli saham BMRI. Tapi harganya serasa di pucuk, meski laporan keuangan solid dan risiko terukur. Tapi batin tetap beku. Tangan bergerak, mata membaca. Rutinitas mengalahkan refleksi. Aku telah menjadi algoritma yang mengira dirinya manusia.
Dahulu, membongkar laporan tahunan terasa seperti petualangan intelektual, menganalisis margin, menelusuri arus kas, menafsirkan teka-teki catatan kaki (CLK).
Sekarang? Hambar. Informatif, tapi tanpa getaran.
Bahaya kini ada di depan mata. Batin yang mati rasa tak lagi membunyikan alarm. Kita ceroboh bukan karena bodoh, tapi karena tak lagi merasa perlu takut.
Aku iri pada mereka yang masih bisa menahan napas melihat chart, berdiskusi panas, merasakan campuran percaya diri dan gentar. Aku iri pada jarak antara tindakan dan rasa mereka.
Mati rasa itu penjara yang picik. Tidak menyakitkan, malah menenangkan. Aku tetap klik, tetap patuh. Tapi tak ada suara dari dalam. Pasar mungkin menyukai trader seperti ini. Tapi di titik itu, aku tahu, aku berhenti jadi manusia.
12.00 WIB.
Ingatan melayang ke galeri sekuritas tua di Harmoni.
Si Om di pojokan. Tiga monitor tabung. Kopi sachet. Rokok kretek. Bau asap menetap.
Ia menunjuk grafik CUAN.
“Yang ini berdetak, Dik. Coba rasain.”
Dulu aku tertawa. Sekarang aku paham.
“Pasar nggak hidup kalau kita nggak ngerasain detaknya. Kita bakal jadi robot.”
Obrolan selalu sederhana: kopi, rokok, kebenaran kecil. Kadang ia menyindir, kadang mengomel sambil melempar print-out grafik:
“Hati-hati… lu ikut, lu mati!”
Atau teriak, “Jangan sok ikut-ikutan pom-pom, emangnya lu bandar!”
Flashback lain: portofolio melonjak 50%. Adrenalin. Sedikit sombong. Kini angkanya sama, tapi sunyi. Inflasi pengalaman memudarkan sensasi, detik demi detik, seperti chart yang bergerak datar tak berujung.
13.30 WIB.
Grup WhatsApp bergetar.
“Bang, saham X aman nggak?”
Aku jawab pelan,
“Gue juga nggak tahu. Tapi rasain dulu takutnya.”
Mereka heran. Tapi memang begitu, rasa takut yang sehat sering lebih jujur dari semua analisis.
Aku diam. Membiarkan batin merasa, takut, ragu, hidup. Untuk kembali bernapas di bursa, aku harus berani merasakannya.
14.10 WIB.
Pesan lain masuk.
“Bang, gue baru coba beli TLKM, nyangkut nih.”
Aku tertawa spontan. Tawa pertama sejak lama.
“Santai bro. Itu bagian dari belajar. Rasain sakitnya, jangan cuma baca chart. Sakit itu guru paling jujur.”
Dia balas emoji nangis sambil tertawa. Cukup. Batin hidup kembali. Sedikit. Lebih baik daripada mati total.
14.45 WIB.
Monitor berpendar merah-hijau. Dada bergetar tipis. ICBP naik sedikit. Mungkin kopi. Mungkin bukan. Tapi ada sesuatu yang kembali.
Aku tak sampai pada kesimpulan besar hari ini. Hanya napas yang kembali terasa setelah lama tertahan. Pasar tetap angka. Trading tetap untung-rugi. Tapi ada sesuatu yang pelan-pelan bergerak lagi.
15.30 WIB.
WhatsApp berbunyi.
“Bang, gue nyangkut di GGRP. Gimana dong?”
Aku tertawa lagi, tulus tapi jenuh. Pola pasar selalu berulang, maka jawaban template pun meluncur tanpa sengaja:
“Tenang bro, gue juga pernah ngalamin, anggap aja itu bagian dari belajar"
Dia balas emoji hormat. Ada rasa hangat yang menjalar pelan. Ternyata, berbagi luka jauh lebih menghidupkan daripada sekadar pamer angka.
15.45 WIB.
Pasar tutup. Monitor gelap. Ruangan senyap, tapi tidak kosong.
Aku menyeduh kopi tubruk. Tanpa gula. Pahit. Nendang.
Dan anehnya, aku senang bisa merasakannya lagi.
Kopi meninggalkan jejak yang bertahan lama. Seperti si Om yang tak menjanjikan apa-apa, tapi jujur apa adanya.
Besok market buka jam sembilan.
Aku datang bukan sebagai algoritma yang mati rasa.
Aku datang dengan rasa takut yang sehat, keberanian yang dihitung,
dan sedikit kekacauan di hati, cukup untuk tetap menjadi manusia,
di dunia yang perlahan ingin mematikannya.
