[2025: THE YEAR OF CHANGE]
Happy new year, guys! Semoga tahun 2026 ini performa porto kita semua menjadi lebih baik ya dibandingkan tahun 2025!
Keputusan Investasi Terbaik saya di tahun 2025 adalah All in saham dan cut loss semua saham Big Caps ynag saya punya.
*ALL IN SAHAM
Back story, saya sudah secara aktif berinvestasi sejak tahun 2020. Sejak saat itu, saya mendiversifikasikan capital saya ke beberapa aset seperti saham, reksadana, Peer to Peer (P2P) Landing, emas, crypto, dll.
Saya terinspirasi oleh Ray Dailio yang memiliki porotofolio All Weather, Artinya performance investasinya bisa selalu stabil di semua cuaca, baik cuaca badai atapun cerah, disaat Bull ataupun Bear market.
Pada pertengahan Tahun 2025, saya tersadar bahwa diversifikasi yang saya lakukan malah menjadikan diworsification.
Alih alih mengurangi risiko dan meningkatkan asset growth, performa aset saya sangat tidak memuaskan. Selama hampir 5 tahun, sejak 2020 hingga 2025, performa aset saya nyaris stagnant. Artinya selama 5 tahun, saya salah mengambil strategi investasi.
Saya tersadar, kenapa Ray Dailio melakukan diversifikasi adalah karena total uang yang dikelola sangat amat besar mencapai 136 Miliar USD atau 2.200 Triliun IDR. Jadi yang dia cari adalah kestabilan dibandingkan dengan growth.
Yah namanya juga Hedge Fund. “Hedge” kan memiliki arti melindungi, artinya sebisa mungkin principal melindungi dana kelolaan tersebut se-stabil mungkin, sehingga ketika nasabah ingin menarik uang dalam jumlah besar di kondisi ekonomi apapun, capital tersebut tidak dalam keadaadan negatif. Itulah prinsip Ray Dailio dalam mengelola assetnya.
Sedangkan saya? tentu berbeda. Asset kelolaan saya masih sangat kecil. Dibawah 1 Miliar Rupiah. Dan tujuan investasi saya pun perlahan berubah, dari yang awalnya mencari kestabilan berubah menjadi menggadakan nilai asset.
Pertengahan tahun 2025, saya perlahan menjual satu persatu asset saya, dimulai dari Reksadana Pendapatan tetap, Bitcoin, P2P Landing, Emas, dll. Saya bertekad, All in dan kaya dari Saham.
*CUT LOSS BIG CAPS
Saya adalah pahlawan bursa saham lokal sejak tahun 2023 🤣
Saya menjadi exit liquidaty bagi big fund asing di saham Big Caps macam BBRI, ASII, TLKM.
Saya harus rela menahan perihnya portofolio merah selama bertahun-tahun.
Saya dulu dulu keras kepala dan menutup mata terhadap opportunity yang ada. Saya anti dengan saham gorengan, anti saham yang tidak berfundamental, anti saham konglo, dll. Saya hanya mau Big Caps.
Sampai pada akhirnya saya menemukan strategi investasi yang dimiliki oleh Richard Driehaus, “The Father of Momentum Investing”
Driehaus fokus membeli saham yang small to mid caps. Dia memastikan saham yg dibeli memiliki momentum yang mendukung harga sahamnya naik dengan cepat. Momentum seperti apa? Earnings suprise, corporate action seperti M&A.
Driehaus tidak masalah membeli di harga yg premium, atau sudah naik tinggi. Selama momentumnya masih ada dan potential upside masih ada. Malah kebanyakan dia beli saham yg sedang uptrend.
Saya melihat strategi investasi ini diterapkan oleh Pak @teddyed, bahkan disesuaikan dengan kondisi bursa saham di Indonesia. Worth to read 👍🏻
Pertengahan 2025, saya berani mengambil keputusan untuk merealisasikan loss puluhan juta dari saham Big Caps.
Saham yg saya beli pertama adalah $TOBA karena saya percaya dia akan menjadi proxy terbaik pengolahan sampah. Momentumnya ada dua, 1) Mendapat Project PLTSa Danantara dan 2) Right Issue Triliunan
Well, kedua momentum itu saya rasa tidak dapat tercapai karena manajemen ga jelas mau ikut project danantara apa engga, dan right issue juga masih berdasarkan asumsi. Saya Loss di TOBA.
Nasib saya perlahan berubah ketika saya masuk $INET, momentum Right Issue berhasil mengkerek harga sahamnya. Dan ternyata benar, saya bisa cuan bagger dari INET.
Bahkan berlanjut ke Right Issue BUVA realized profit +20% dan $IRSX floating profit +150%. Semuanya saya dapatkan karena Investasi berdasarkan Momentum.
Ditambah lagi saya mengetahui sesuatu dibalik MGLV yang tidak semua orang tahu. Momentum M&A ini masih sangat menarik dan membuat saya mencapai floating profit +200%.
Dan ini masih belum berhenti, ini masih akan berlanjut dan menjadi semakin tinggi
—————————
Untuk menghitung performa portofolio secara keseluruhan, saya menggunakan cara yg digunakan oleh Manajer Investasi Reksadana yang menggunakan NAB per Unit
Pada Awal Agustus 2025, NAB per Unit: Rp 1.954
Sedangkan akhir Desember 2025, NAB per Unit: Rp 5.099
Dalam waktu 5 bulan, pertumbuhan aset saya mencapai 160.95%.
Lucunya adalah pertumbuhan aset 5 bulan terakhir, jauh lebih besar dibandingkan pertumbuhan aset saya selama 5 tahun terakhir 🤣
Hal gila semacam ini, untung sebesar ini, tidak akan saya dapatkan bila saya tidak berani untuk cut loss big caps dan mengalihkan semua aset saya ke saham.
Saya sangat bersyukur mengambil keputusan ini.
2025: The Year of Change
Tidak sabar menanti tahun 2026
2026: The Year of Corporate Action
