๐ Narasi Investasi #20 (2 Januari 2026)
๐ Perang Dagang & Gejolak Global Tahun 2025 didominasi oleh ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump memicu "Perang Dagang Jilid II" melalui tarif resiprokal yang langsung dibalas oleh China. Meski negosiasi perdagangan akhirnya tercapai, kebijakan proteksionisme ini sempat mengguncang pasar global dan menyasar negara defisit seperti Indonesia. Di tengah ketidakpastian tersebut, instrumen safe haven bersinar terang dengan harga emas melonjak +70% YTD hingga menembus level psikologis US$4.500/oz seiring menguatnya tren de-dolarisasi dunia. ๐
๐๏ธ Transformasi Kebijakan Dalam Negeri Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan struktur ekonomi yang signifikan, termasuk pembentukan Danantara dan pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa. Pemerintah juga menerapkan kebijakan fiskal yang dinamis, seperti revisi royalti pertambangan, aturan ketat DHE SDA, hingga pemberian berbagai paket stimulus ekonomi untuk memperkuat daya beli. Langkah-langkah ini diambil sebagai respons terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional yang sempat menyentuh titik terendah sejak 2021 pada awal tahun. ๐๏ธ
๐ฆ Dinamika Suku Bunga & Rupiah Bank Indonesia mengambil langkah agresif dengan memangkas BI Rate sebesar 125 bps, jauh lebih besar dibandingkan pemangkasan The Fed yang hanya 75 bps. Kebijakan ini bertujuan mendukung pendanaan program strategis seperti pembangunan 3 juta rumah melalui skema burden sharing. Namun, penyempitan spread suku bunga tersebut mengakibatkan nilai tukar Rupiah tertekan hingga sempat mencetak rekor terlemah di level Rp16.957/USD, meskipun indeks dolar AS (DXY) secara umum sedang dalam tren melemah. ๐ธ
๐ Anomali Kinerja Pasar Modal IHSG mencatatkan performa luar biasa dengan kenaikan +22,1% YTD, mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di level 8.776. Fenomena unik terjadi di mana kenaikan ini tidak lagi ditopang oleh saham perbankan raksasa (Big 4 Banks) yang justru terkoreksi akibat aksi jual investor asing sebesar Rp54,7 T. Pendorong utama bursa justru bergeser ke saham-saham konglomerasi besar seperti $DSSA, DCII, dan BRPT, menandai perubahan struktur penggerak pasar modal Indonesia yang paling signifikan dalam satu dekade terakhir. ๐
***
๐ก Disclaimer: Bukan ajakan beli/jual, lakukan riset sendiri.
๐ Follow dan Like, biar gak ketinggalan insight terbaru!
๐ฌ Investasi bukan cuma soal uang, tapi juga soal ilmu!
Random tag
$BBRI $XAU
