Circle of competence itu batasan diri atau alibi kemalasan?
Circle of competence adalah salah satu prinsip investasi yang sangat penting. Intinya, saya tidak akan berinvestasi pada saham yang tidak saya pahami karena saham seperti itu berada di luar circle of competence saya.
Penerapan konsep tersebut bisa membantu kita untuk terhindar dari kesalahan investasi yang fatal.
Namun akan menjadi masalah jika konsep ini bergeser fungsinya dari yang tadinya adalah batasan diri yang sehat menjadi alasan untuk berhenti berpikir.
Kita perlu jujur pada diri sendiri tentang itu.
Konsep circle of competence dipopulerkan Warren Buffett dan Charlie Munger sebagai salah satu prinsip penting dalam pemilihan saham.
Namun kita harus memahami bahwa bagi mereka ini bukan alasan untuk berhenti belajar, melainkan pagar agar tidak membuat keputusan konyol di wilayah yang tidak dipahami dengan baik.
Pernah dengar kalimat seperti ini?
"Wah, gw gak masuk ke saham itu. Itu di luar circle of competence gw."
Terkesan wise banget ya?
Tapi kalau dikulik lagi, sering kali itu hanya kedok untuk kemalasan.
Malas baca laporan tahunan, malas bedah model bisnis baru, atau malas mengakui kalau dunia sudah berubah lebih cepat daripada isi kepala kita.
Dan itu menjadi pelajaran yang penting:
"Lingkaran itu seharusnya meluas dan bukan menjadi fosil."
Circle of competence bukanlah lingkaran permanen yang selamanya tidak akan berubah. Lingkaran ini seharusnya dinamis dan terus membesar seiring dengan jam terbang serta kemauan kita untuk belajar hal baru.
Kalau 1-2 tahun lalu kamu cuma paham sektor perbankan atau consumer goods, itu wajar.
Tapi kalau hari ini masih pakai alasan yang sama untuk menghindari sektor lain tanpa mau mencoba belajar, itu bukan lagi prinsip "kehati-hatian".
Itu namanya stagnasi.
Pemahaman itu dibangun, bukan hanya bergantung pada apa yang kita ketahui selama ini.
Menolak untuk mempelajari sektor baru hanya karena tidak paham itu seperti tidak bisa move on dari masa lalu.
Memang benar bahwa ada bisnis yang telah teruji dari jaman ke jaman dan masih bagus hingga hari ini.
Namun jika kita melihat data historis, pemenang dari dekade ke dekade terus berganti. Dan ada kalanya pemenangnya berasal dari sektor baru yang belum ada sebelumnya.
Apa jadinya jika kita hanya terpaku pada sektor yang itu-itu saja karena tidak mau belajar hal baru?
Bisa jadi kita akan kehilangan peluang untuk berinvestasi pada perusahaan yang akan menjadi raksasa di masa mendatang.
Ada paradoks yang menarik tentang ini.
Kerugian besar sangat mungkin terjadi di dalam lingkaran yang kita anggap sudah kita kuasai.
Kenapa?
Karena kita merasa terlalu nyaman. Terlalu pede. Jadinya jarang bertanya lagi.
Sebaliknya, kita sering menghindari wilayah di luar lingkaran. Dalam beberapa kasus, itu adalah sikap yang benar karena karena risikonya menjadi tidak terukur.
Namun kalau mau jujur, bisa jadi penyebabnya adalah ego kita yang tidak siap menerima untuk menjadi newbie lagi.
Saya pernah di posisi itu dan menganggapnya sebagai sebuah kesalahan yang tidak mau saya ulangi lagi.
Sekarang sudah banyak sumber informasi yang bisa kita manfaatkan untuk memperluas circle of competence. Ada forum dan grup saham. Ada buku, media sosial, youtube, podcast atau bahkan berita di internet.
Come on, kita bukan lagi hidup di jaman ketika informasi susah untuk didapatkan.
"Gw belum ngerti" itu sangat berbeda dengan "Gw nggak mau ngerti"
Seharusnya circle of competence itu berfungsi sebagai filter awal dan bukan penolakan buta.
Selain itu, circle of competence seharusnya juga berfungsi sebagai alarm risiko dan bukan alasan untuk bersikap pasif.
Dan yang jelas, circle of competence lebih tepat berfungsi sebagai peta kemampuan diri dan bukan mental block.
Sebagai catatan penutup:
Dalam investasi, memang susah untuk mengakui bahwa kita tidak paham.
Namun jauh lebih berat lagi untuk mengakui bahwa kita terlalu cepat berhenti belajar.
Sekian sedikit cerita untuk hari ini.
$IHSG