Bahaya Target Return yang Terlalu Tinggi
Banyak investor memulai perjalanan investasinya dengan target yang terdengar ambisius. Ingin menggandakan uang dalam waktu singkat, mengejar return puluhan persen per tahun, atau berharap pasar selalu memberi hasil di atas rata-rata. Target seperti itu memang bisa memotivasi, tetapi juga bisa menjadi sumber masalah yang serius dalam jangka panjang.
Disadari atau tidak, sikap dan perilaku kita dalam berinvestasi akan dipengaruhi oleh tingginya target return yang kita tetapkan. Bila kita menetapkan target return yang terlalu tinggi, kita akan didorong untuk bersikap agresif dan mencari cara cepat untuk mencapainya. Saham yang stabil dan berkualitas akan terasa membosankan karena pergerakannya terlalu lambat. Perhatian kita pun beralih ke saham-saham yang bergerak agresif, cerita turnaround yang belum tentu jelas, atau sektor yang sedang ramai dibicarakan. Akhirnya, investasi perlahan berubah menjadi spekulasi.
Masalah berikutnya adalah distorsi dalam pengambilan risiko. Demi mengejar target tinggi, kita cenderung mengabaikan downside. Risiko yang sebenarnya besar terasa bisa diterima karena dibungkus oleh potensi keuntungan yang menggiurkan. Ukuran posisi membesar, diversifikasi diabaikan, dan disiplin perlahan menghilang. Selama harga masih naik, semuanya terlihat baik-baik saja, sampai pasar bergerak berlawanan.
Ekspektasi yang berlebihan juga menciptakan tekanan psikologis. Ketika hasil tidak sesuai target, kekecewaan muncul lebih cepat. Kita menjadi tidak sabar, sering keluar masuk saham, dan terus mengganti strategi. Padahal, masalah utamanya bukan pada pasar, melainkan pada target yang sejak awal tidak masuk akal. Alih-alih membangun proses yang konsisten, kita terjebak mengejar angka.
Dalam jangka panjang, pola ini sangat merusak. Return tinggi yang sesekali tercapai sering diikuti oleh kerugian besar yang menghapus hasil sebelumnya. Secara mental, kita menjadi lelah dan sinis. Kepercayaan diri turun, tetapi bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena ekspektasi yang tidak selaras dengan realitas pasar.
Pendekatan yang lebih sehat adalah menurunkan fokus dari target ke proses. Alih-alih bertanya berapa persen return yang ingin kita capai, kita bisa bertanya apakah keputusan yang kita ambil masuk akal, risikonya terukur, dan konsisten dengan tujuan jangka panjang. Pasar tidak bisa kita kendalikan, tetapi proses berpikir dan disiplin bisa.
Ada beberapa tanda bahwa target investasi kita mungkin sudah terlalu tinggi:
1. Keputusan semakin agresif demi mengejar hasil.
2. Saham berkualitas terasa kurang menarik.
3. Kekecewaan muncul meski hasil sebenarnya masih wajar.
4. Strategi sering berubah tanpa evaluasi yang matang.
Investor yang bertahan lama biasanya bukan yang memasang target paling tinggi, tetapi yang mampu menjaga ekspektasi tetap realistis. Mereka membiarkan waktu dan compounding bekerja, sambil fokus menghindari kesalahan besar. Dalam investasi, bertahan dan berkembang sering kali lebih penting daripada menang cepat.
Target seharusnya membantu kita tetap disiplin, bukan mendorong kita mengambil risiko yang tidak perlu. Menurut Anda, berapakah target return yang masuk akal dan realistis dalam konteks investasi saham?
@Blinvestor
Follow my Telegram: https://cutt.ly/Btd6w8CM
Random tags: $BBNI $BRIS $BBTN