kontraktor kecil jadi korban BUMN kenapa?
1. Skema pembayaran yang tidak sehat (akar masalah)
BUMN Karya banyak menjalankan proyek dengan pola:
Kontraktor & subkontraktor membiayai dulu
Pembayaran dibayar belakangan (termin)
Bahkan sering ditunda berbulan-bulan hingga bertahun-tahun
👉 Saat arus kas BUMN Karya bermasalah, yang dikorbankan pertama adalah kontraktor kecil.
2. Kejar proyek demi laporan & target politik
Banyak proyek BUMN Karya:
Dikejar untuk target pemerintah / politik
Dipaksakan menang tender dengan margin sangat tipis
Bahkan ada proyek yang sudah tahu akan rugi
Akibatnya:
Kerugian ditutup dengan menahan pembayaran kontraktor
Kontraktor dijadikan “bank berjalan”
3. Dominasi posisi tawar (kontraktor kecil tidak berdaya)
Dalam praktik:
Kontrak baku dibuat sepihak oleh BUMN
Klausul denda ke kontraktor sangat tegas
Klausul keterlambatan bayar dari BUMN lemah atau abu-abu
Kontraktor kecil:
Tak berani protes (takut blacklist)
Sulit menggugat (biaya hukum mahal)
Akhirnya dipaksa terima
4. Rekayasa administrasi & termin
Bentuk yang sering dianggap “penipuan”:
BAST diperlambat → pembayaran tidak cair
Volume kerja diperdebatkan setelah pekerjaan selesai
Revisi gambar mendadak → klaim lama digugurkan
Termin dicicil sangat kecil tapi pekerjaan sudah 90%
Secara hukum abu-abu, tapi secara moral tidak adil.
5. Masalah utang & gagal bayar berantai
Fakta penting:
Banyak BUMN Karya utang besar ke bank & obligasi
Ketika jatuh tempo:
Bank & obligasi didahulukan
Kontraktor jadi kreditur paling belakang
Ini menyebabkan:
Kontraktor bangkrut
Upah pekerja macet
Efek domino ke ekonomi daerah
6. Lemahnya pengawasan & penegakan hukum
BPK biasanya fokus laporan keuangan, bukan korban kontraktor
Aparat hukum jarang masuk kecuali:
Ada suap
Ada kerugian negara besar
Kerugian kontraktor swasta dianggap risiko bisnis
Akibatnya: praktik ini terus berulang.
7. Apakah ini penipuan?
Secara hukum:
❌ Jarang masuk pasal “penipuan murni”
✔️ Lebih sering masuk:
Wanprestasi
Penyalahgunaan posisi dominan
Kontrak tidak seimbang
Namun bagi kontraktor:
Efeknya sama seperti ditipu
Kerja selesai, uang tidak dibayar.
8. Kenapa tetap banyak yang mau?
Karena:
Volume proyek besar
Harapan “nanti dibayar”
Takut kehilangan akses proyek
Banyak kontraktor baru tidak tahu risikonya
Kesimpulan singkat
BUMN Karya bukan sekadar “nakal”, tapi terjebak sistem buruk:
Proyek dipaksakan
Utang besar
Tata kelola lemah
Kontraktor kecil jadi korban
Kalau mau jujur:
BUMN Karya sering “selamatkan diri sendiri” dengan mengorbankan kontraktor.
$WSKT $PPRO $WSBP