$TBIG Klien Telkomsel
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Perusahaan menara terbesar di Indonesia itu ada tiga, salah satunya adalah TBIG. Yang bikin TBIG menarik itu bukan karena ceritanya heboh, tapi karena karakternya sangat khas. Revenue besar, kontrak panjang, kas operasional deras, tetapi sahamnya super terkunci dan neracanya hidup dari disiplin refinancing. Jadi TBIG bisa terlihat rapi kalau investor fokus ke CFO dan backlog, tetapi bisa terlihat menegangkan kalau investor fokus ke likuiditas jangka pendek. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi profil, TBIG berdiri 8 November 2004 dan IPO 26 Oktober 2010, jeda sekitar 6 tahun. Struktur kepemilikan TBIG juga sangat ketat. PSP BDIA 81,00%, PT Wahana Anugerah Sejahtera 9,51%, publik hanya 8,81%. Ini membuat TBIG bahkan lebih terkunci dibanding $GHON yang publik 13,27% dan jauh lebih terkunci dibanding $TOWR 32,82% atau BALI 40,299%. TBIG hanya sedikit lebih longgar dibanding CENT yang publik 7,73%. Kalau investor peduli likuiditas perdagangan dan ruang publik, TBIG jelas bukan yang paling ramah.
Soal ukuran bisnis, TBIG besar, tapi posisinya berada di bawah TOWR. Revenue 9M 2025 TBIG Rp5,16 triliun, sedangkan TOWR Rp9,69 triliun. TBIG masih jauh di atas CENT Rp1,88 triliun, BALI Rp922,02 miliar, dan GHON Rp159,75 miliar. Dari sisi aset menara, TBIG tidak menyajikan jumlah unit menara secara numerik di data ini, tetapi nilai revaluasi aset menara Rp31,27 triliun. Ini memberi gambaran bahwa skala fisiknya memang kelas besar.
Pelanggan TBIG juga menunjukkan pola khas bisnis menara besar, yaitu bertumpu pada operator utama. Telkomsel Rp1,72 triliun setara 33,28%, Indosat Rp1,30 triliun setara 25,12%, XLSmart Rp988,44 miliar setara 19,15%, XL Axiata Rp371,74 miliar setara 7,20%, Smart Rp271,81 miliar setara 5,26%. Total 5 pelanggan ini sekitar 90,01% revenue. Ini mirip pola TOWR yang 3 pelanggan besar sekitar 88% revenue, dan mirip juga dengan CENT serta GHON yang sama-sama tinggi konsentrasi. BALI relatif lebih menyebar karena 4 pelanggan besar sekitar 63,5% revenue, plus ada porsi pemerintah yang membuat karakter cashflow-nya berbeda. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau bicara growth, TBIG sedang di fase matang dan terlihat stagnan. Revenue growth 0,70%, laba turun 4,96%, tetapi CFO naik 6,78%. Capex turun 22,1% dan utang pendanaan turun 4,0%. Dampaknya, free cash flow naik 39%. Ini pola yang mirip dengan TOWR yang juga sedang memeras efisiensi, bedanya TOWR masih growth revenue 2,52%, laba naik 3,05%, CFO naik 9,14%, capex turun 33,18%, dan utang turun 13,27%, sehingga FCF naik 42,08%. Jadi kalau investor bertanya segrowth apa TBIG, jawabannya bukan kencang, tetapi efisien. TBIG menang di disiplin kas, bukan di top line.
Dari sisi profitabilitas, TBIG terlihat bagus karena tetap laba besar. Laba 9M 2025 Rp1,15 triliun dari revenue Rp5,16 triliun, margin bersih sekitar 22,29%. Ini di bawah TOWR yang sekitar 26,32%, tetapi jauh di atas BALI sekitar 15,04%. GHON paling tebal sekitar 36,90%, namun skalanya jauh lebih kecil. CENT berbeda cerita karena rugi bersih Rp1,47 triliun. Jadi secara laba, TBIG itu masuk kategori bagus dan stabil, hanya saja tidak sedang tumbuh kencang.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian paling meyakinkan dari TBIG adalah kualitas kas. CFO Rp4,24 triliun, sekitar 3,69 kali laba Rp1,15 triliun. Capex Rp1,62 triliun, sehingga FCF Rp2,61 triliun. Secara nominal, FCF TBIG itu besar, lebih besar dari CENT sekitar Rp1,09 triliun, jauh di atas BALI Rp186,53 miliar dan GHON sekitar Rp60,50 miliar. TOWR tetap raja FCF dengan Rp6,28 triliun. Jadi kalau ukuran utamanya mesin kas operasional, TBIG itu salah satu yang paling kuat.
Sekarang sisi jeleknya, TBIG punya risiko yang sangat jelas, likuiditas jangka pendek. Liabilitas jangka pendek Rp16,81 triliun, sedangkan aset lancar Rp2,65 triliun, defisit modal kerja Rp14,16 triliun. Ini defisit yang masif dan artinya TBIG sangat bergantung pada refinancing utang jangka pendek. GHON juga punya masalah likuiditas, tetapi skalanya jauh lebih kecil, defisitnya sekitar Rp212,35 miliar. CENT juga punya gap aset lancar dan liabilitas jangka pendek Rp1,86 triliun. BALI paling tipis defisitnya sekitar Rp19,40 miliar. Jadi untuk aspek risiko likuiditas, TBIG termasuk yang paling menegangkan.
Di sisi leverage, TBIG membawa liabilitas pendanaan Rp30,69 triliun. Ini lebih kecil dari TOWR Rp45,27 triliun, tetapi jauh lebih besar dibanding CENT kalau hanya hitung utang bank Rp12,15 triliun, dan tetap lebih besar dari total CENT jika investor hanya fokus ke satu sisi. BALI Rp3,39 triliun dan GHON Rp473,08 miliar jelas jauh di bawah. Backlog TBIG Rp36,20 triliun menutup 118% utang pendanaan Rp30,69 triliun. Ini bagus, tetapi tidak se-tebal TOWR yang backlog cover 221% atau GHON yang backlog cover 241%. BALI backlog cover 127%. Jadi TBIG ada di level aman, tetapi bukan yang paling nyaman.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Risiko kurs dan bunga di TBIG ada, tetapi terlihat dikelola. TBIG punya eksposur utang USD dan JPY, lalu ada lindung nilai sebesar US$810,5 juta dan juga interest rate swap untuk bunga mengambang. Ini membuat profil risikonya lebih terkontrol dibanding CENT yang terpukul rugi kurs Rp296,50 miliar dan beban keuangan Rp1,27 triliun, ditambah 40% liabilitas dalam USD. Namun jangan salah, hedging itu mengurangi guncangan, bukan menghilangkan ketergantungan pada refinancing.
Jadi TBIG itu salah satu raksasa menara kelas atas, revenue Rp5,16 triliun 9M 2025, backlog Rp36,20 triliun setara 5,26 tahun, CFO Rp4,24 triliun, dan FCF Rp2,61 triliun. TBIG punya kualitas kas yang sangat kuat dan backlog yang memberi visibilitas lebih dari 5 tahun. Sayangnya TBIG sangat rentan di likuiditas jangka pendek karena defisit modal kerja Rp14,16 triliun sehingga refinancing jadi napas utama. TBIG bisa disebut sudah matang dan efisien, karena revenue growth hanya 0,70% dan laba turun 4,96%, tetapi FCF naik 39% karena capex turun dan kas operasional naik. TBIG itu relatif aman kalau pasar pendanaan kondusif dan refinancing lancar, tetapi menjadi cepat riskan kalau likuiditas global mengetat, karena struktur jatuh tempo dan defisit modal kerja membuat ruang salah langkahnya sempit.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/9








