imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Ben Graham bukan (hanya) bapak value investing, tetapi juga bapak fundamental investing

Buffett dan Munger mengadopsi pendekatan lain seperti prinsip-prinsip Phil Fisher untuk melengkapi pendekatan Graham, BUKAN karena pendekatan Graham kurang komprehensif, melainkan karena Berkshire sukses mengimplementasikan prinsip-prinsip Graham sampai titik portfolio mereka TERLALU BESAR sedangkan upside metode cigar butt Graham sudah menipis upside-nya di saham-saham mega cap

Mega cap di sini jangan dibayangkan seperti saham-saham $IDX30 ya. Perusahaan Indonesia di Fortune 500 aja baru dua: Pertamina dan PLN, yang keduanya masih private. Large majority mega cap di Amerika (ketar-ketir) sudah efficiently priced-in, beda sama top market cap di $IHSG yang ah sudahlah

Maka sejak 90an, Munger menyarankan Buffett untuk mengembangkan pendekatan untuk Berkshire modern, yang dikembangkan dari prinsip Graham dan Fisher. Sedangkan prinsip-prinsip Graham purist dipakai untuk investasi di market yang belum efficiently priced-in, mulai dari RRT di awal 90an, hingga Jepang di akhir milenium pertama masehi

Kalau orang yang nggak pernah dengar siapa Graham atau bagaimana sejarah dan mekanisme kerja Berkshire, pasti stigmanya nggak jauh-jauh dari dua:
1. Fundamental hanya untuk yang modalnya udah milyaran
2. Investasi Buffett adalah investasi di perusahaan cash cow yang tidak bisa grow

Padahal konsep Graham itu sesederhana:
1. Metode cigar butt Graham mengeksploitasi inefisiensi market
2. Semakin besar modal, semakin sempit universe yang investable tanpa merusak price discovery, sedangkan mega cap sudah efficiently priced-in, sehingga lebih efektif mencari market internasional yang large cap-nya belum efficiently priced-in

Kelemahan lainnya prinsip-prinsip Graham adalah dia SANGAT intimidating untuk orang yang tidak punya dasar-dasar akuntansi. Tapi untungnya, di pergantian era 80an ke 90an, Peter Lynch mengemas metode-metode analisis fundamental menjadi lebih mudah dicerna orang awam akuntansi dengan mengemasnya ke dalam storytelling

Lalu di pertengahan 2000an, Joel Greenblatt juga menyederhanakan prinsip-prinsip Graham untuk orang awam, sekaligus mematahkan stigma umum tadi: value investing lebih unggul untuk ritel modal kecil, karena mereka bisa mengakses saham-saham yang terlalu kecil untuk masuk universe big money

Dari setebal itu buku Graham, Greenblatt akhirnya berporos pada satu faktor: earnings yield. Kalau kamu melihat banyak orang yang tahunya analisis fundamental itu sesempit naik-turunnya EPS, dan PER multiple, nah sekarang tahu kan siapa yang mempelopori

Peter Lynch yang menggunakan storytelling lebih menekankan bahwa investor ritel bisa menemukan bisnis terdekat (baik secara keahlian maupun geografis) dan memahaminya sebelum dilirik oleh 'smart money'. Caranya mulai dari membeli hanya perusahaan yang kita ketahui, sebisa mungkin analisis langsung ke lapangan (baik secara keahlian maupun fisik), lalu mengategorikannya ke dalam beberapa tipe story yang berbeda

Di sini plot twist-nya. Diantara semua tipe story Lynch, yang rasio upside : downside-nya paling asimetris antara return vs risk-nya, adalah asset play. Apakah ini artinya asset play adalah makan siang gratis? Well yes, but actually no. There's a catch, menurut Peter Lynch: asset play adalah story yang frekuensi priced-in-nya paling jarang, dan jangka waktunya paling panjang, dibandingkan dengan story-story lainnya

Asset play story ini juga menjadi story favorit engkong saya, Lo Kheng Hong. Dari sinilah cikal bakalnya haters LKH. LKH suka asset play karena sebagai investor usia 66 TAHUN, dia merasa masih punya runway waktu yang panjang, sehingga dia merasa nyaman MENUNGGU LAMA sampai asset play dia berubah menjadi turnaround story lalu priced-in

Di sisi lain, investor ritel yang masih usia 25 tahun merasa punya sisa runway yang tinggal sedikit, sehingga MENUNGGU dirasa merupakan dosa terbesar dalam investasi. Mereka nggak bisa menunggu barang 5 tahun saja, seolah-olah ajal mereka tak akan sampai ke usia 30 tahun. Maka muncullah stigma-stigma seperti:
1. Nyangkut bersama LKH adalah opportunity cost terbesar, karena LKH adalah apestor value trap, sedangkan di saham papi konglo yang penting bisa cuan bagger dalam sepekan
2. Fundamental is dead, dll.

Semua berakar dari ritel yang awam dasar akuntansi, terintimidasi dengan segala analisis yang ada dasar akuntansinya terutama Grahamism, lalu dibantu oleh Lynch, Greenblatt, hingga LKH supaya lebih mudah dicerna, tapi itu membuat analisis fundamental jadi disimplifikasi ke dalam scope yang sempit, terutama:
1. Saham cash cow tidak bisa grow
2. Semua value investing adalah asset play saja

Sedangkan fondasi-fondasi dasarnya seperti buy what you know dan circle of competence sama sekali diskip. Padahal kalau kita berangkat dari starting point yang tepat, dan kita tidak terintimidasi sama dasar-dasar akuntansi, prinsip-prinsip Graham itu paling luas dan paling komprehensif, as far as fundamental is concerned

Saya pribadi untuk di saham Indonesia, Lynchist banget, karena merasa diminishing return di Graham, karena effort analisisnya lebih besar, setelah dianalisis belum tentu hasilnya layak investable, dan kalaupun verdict-nya beneran fat pitch, most likely saham yang sama akan tertangkap juga oleh salah satu story Lynch. Saya berbeda dengan Michael Burry yang memang menganalisis sebagai hobi, tak peduli apakah hasilnya investable atau tidak. Walaupun saya Lynchist, story favorit saya pun bukan asset play. Saya cuma punya satu saham asset play yaitu $DMAS, dan itu pun karena turnaround masa depannya sesuai dengan circle of competence saya yaitu neo-cloud data centers

Tapi saya memanfaatkan stream Stockbit untuk follow dan diskusi (baca: curhat tentang porto) dengan user-user aliran Grahamist banget supaya knowledge saya selalu naik level

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy