$AKPI Penurunan harga saham PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) hingga sekitar 9% (year-to-date) menuju Desember 2025 dipengaruhi oleh kombinasi antara kinerja keuangan yang melemah serta aksi jual oleh orang dalam perusahaan (insider selling).
Berikut adalah ringkasan faktor-faktor penyebabnya:
1. Penurunan Laba Bersih yang Signifikan
Berdasarkan laporan keuangan per Kuartal III-2025, AKPI mencatatkan penurunan performa yang cukup tajam dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya:
Laba Bersih: Turun menjadi Rp3,2 miliar di Q3 2025, dibandingkan dengan Rp6,8 miliar pada Q3 2024.
Profitabilitas Rendah: Margin laba bersih (Net Profit Margin) tercatat sangat tipis (di bawah 1%), yang menunjukkan tekanan pada efisiensi biaya produksi atau penurunan daya beli di sektor kemasan fleksibel.
2. Aksi Jual Saham oleh Komisaris (Insider Selling)
Sepanjang bulan Desember 2025, pasar merespons negatif langkah Henry Liem selaku Komisaris AKPI yang melakukan penjualan saham pribadinya secara bertahap:
16 Desember 2025: Menjual 101.700 lembar saham di harga Rp565.
17 Desember 2025: Kembali menjual 500 lembar saham di harga Rp580.
Aksi jual oleh manajemen sering kali dianggap sebagai sinyal kurangnya kepercayaan terhadap prospek harga saham dalam jangka pendek, sehingga memicu kepanikan atau tekanan jual di kalangan investor ritel.
3. Tekanan Makroekonomi dan Bahan Baku
Industri plastik dan kemasan sangat bergantung pada harga biji plastik yang berkorelasi dengan harga minyak bumi serta nilai tukar Rupiah.
Pelemahan Rupiah: Pada Desember 2025, Rupiah mengalami tekanan, yang berisiko menaikkan biaya impor bahan baku bagi AKPI.
Serbuan Produk Impor: Adanya tantangan dari produk plastik impor yang membanjiri pasar domestik dengan harga lebih murah mempersempit margin keuntungan emiten lokal.
4. Analisis Teknikal
Secara teknis, saham AKPI telah menunjukkan tren menurun sejak pertengahan tahun. Hingga November-Desember 2025, performa year-to-date (YTD) tercatat minus 9,76%. Kurangnya sentimen positif atau ekspansi besar membuat investor cenderung mengalihkan modalnya ke sektor lain yang lebih bertumbuh.