imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Saham Koleksi Aseng 21 Desember 2025

Banyak saham valuasi murah sedang diam-diam dikoleksi investor asing, dan ini menarik karena hampir semuanya punya PBV (price to book value) di kisaran 0,3–0,9 kali nilai bukunya, artinya saham-saham ini dihargai di bawah nilai aset bersihnya. Fenomena ini biasanya terjadi di fase awal akumulasi sebelum harga bergerak naik. Investor besar cenderung masuk pelan-pelan di saham undervalued yang masih punya arus kas operasional sehat dan yield tinggi, bahkan ketika kinerjanya belum terlalu bersinar di laporan laba rugi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

PRDA misalnya, punya PBV 0,95 dengan PER 14,42 dan dividend yield 7,36% itu rasio yang jarang ditemukan di sektor layanan kesehatan. ROE-nya 8,24% dan NPM 8,52%, tergolong moderat tapi didukung kas operasional positif Rp364,44 miliar dan net debt minus Rp513,71 miliar (kas lebih besar dari utang berbunga). Asing masuk Rp672,32 miliar dengan streak beli 8 hari, tapi flow mingguan baru +4,24 miliar dan bulanan masih minus Rp6,30 miliar. Artinya ada reversal-buy tipis tapi belum masif. Jika EPS stagnan dan payout ratio tetap 100%, potensi yield di kisaran 7–8% masih bisa dipertahankan.

CTRA berbeda, valuasinya masih murah (PBV 0,71, PER 7,54) dengan ROE 10,73% dan NPM 19,83%. Ini sudah melewati ambang fundamental sehat (ROE >10%, NPM >10%). Cashflow operasional Rp1,17 triliun cukup kuat, net debt-nya malah negatif Rp2,04 triliun. Asing masuk deras Rp26,12 miliar dalam seminggu dan Rp27,47 miliar sebulan, konsisten. Dividend yield-nya memang kecil (2,73%), tapi ruang kenaikan harga lebih besar karena valuasi rendah dan balance sheet bersih.

AADI terlihat mencolok. PBV 0,95, PER 4,27, dan yield tinggi 7,63%. ROE 20,32% dan CFO Rp15,29 triliun dengan FCF Rp8,84 triliun, ini powerhouse. Hanya saja flow asing masih minus mingguan Rp1,44 triliun tapi plus besar bulanan Rp47,82 triliun. Ini bisa jadi pola distribusi-akumulasi jangka menengah, bukan jual panik.

BDMN (PBV 0,45, PER 6,34, yield 4,65%) punya kas operasi luar biasa Rp7,55 triliun dan ROE 6,92%. Asing mulai balik masuk Rp1,41 miliar minggu ini setelah sebulan sebelumnya minus Rp3,75 miliar, mengindikasikan fase awal reversal buy.

Sementara SDRA dan GEMA tergolong valuasi ekstrem (PBV 0,30–0,35), tapi masalah utamanya ada di efisiensi dan profit growth. SDRA masih punya PER 211 kali dan ROE cuma 0,56%, sedangkan GEMA laba tumbuh 5,28% tapi NPM hanya 1,26%. Murah tapi tak efisien.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Saham undervalued dengan fundamental bagus dan yield tinggi seperti $PRDA, $CTRA, $AADI, serta BDMN berpotensi menjadi sasaran akumulasi lanjutan jika aliran dana asing konsisten positif selama 3–5 hari berturut-turut dan nilai net buy harian melebihi setengah net sell bulanan sebelumnya. Kombinasi PBV rendah, arus kas kuat, dan yield tinggi inilah yang biasanya memicu fase reversal buy asing nyata sebelum pergerakan harga besar terjadi.

Fundamental bagus dan asing beli itu cuma bikin saham punya support yang lebih kuat, bukan otomatis bikin saham terbang. Yang bikin terbang itu biasanya kombinasi bandar, supply ketat, dan momentum, sedangkan asing seringnya masuk sebagai pembeli yang disiplin, bukan tukang goreng.

Banyak kasus begini, eaham bagus, PBV rendah, yield besar, CFO (cash flow from operations) positif, bahkan net debt minus, tapi harga bisa jalan di tempat berbulan-bulan. Kenapa? Karena bandarnya tidak agresif. Asing beli bisa pelan-pelan, bahkan mereka bisa beli sambil bikin harga tidak naik dulu supaya dapat barang lebih banyak. Kalau tidak ada pihak yang sengaja angkat harga, tidak ada cerita terbang.

Di sisi lain, ada juga saham yang fundamental biasa saja, tapi bisa terbang karena barang dikunci. Ini pola klasik. Bandar bikin supply tipis, antrian beli dibentuk, volume dikontrol, lalu cerita dibangun. Pas ritel mulai FOMO, barulah harga bisa lompat. Jadi yang menentukan bukan cuma nilai intrinsik, tapi juga struktur kepemilikan dan permainan supply demand di orderbook.

Fundamental bagus itu syarat supaya saham tidak gampang ambruk ketika diguyur sell. Ini bikin risk profile lebih enak buat investor yang sabar, apalagi kalau yield tinggi dan kas kuat.

Asing beli itu sinyal ada demand yang nyata, tapi demand ini tidak selalu bertipe agresif. Mereka bisa akumulasi lama tanpa peduli harga naik cepat.

Bandar itu komponen akselerator. Kalau bandar masuk dan barang terkunci, baru potensi terbang jadi besar. Tanpa itu, saham bisa tetap undervalued lama.

Jadi kalau investor mau lebih akurat, jangan cuma lihat fundamental dan foreign flow. Tambahkan satu pertanyaan kunci. Apakah barang lagi dikunci atau masih bertebaran? Tandanya biasanya terlihat dari perputaran barang, pola volume, respon harga saat ada net sell, dan apakah kenaikan harga selalu cepat dipukul balik atau justru dibiarkan naik.

Fundamental bagus plus asing beli itu bikin saham layak dikoleksi dan relatif aman, tapi untuk terbang tetap perlu mesin penggerak, yaitu bandar dan kontrol supply.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy