$TBLA LK Q3 2025: Kok Susah Banget Harganya Naik?
Request member bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Hari ini ada member External Community Pintar Nyangkut di Telegram yang tanya kok ini TBLA ndak bisa naik-naik harganya? Waktu harga sawit dan gula naik, harganya malah nyungsep, ndak seperti saham sawit lain yang meroket. Ini biasanya bukan soal komoditasnya kurang bagus, tapi soal market sudah keburu menilai ada lubang di bawah karpet. TBLA itu kasus di mana laba akrual terlihat sehat, valuasi kelihatan murah, bahkan dividen kelihatan menarik, tapi arus kas operasinya justru berdarah-darah. Di market, CFO negatif itu seperti bunyi alarm, mau harga CPO dan gula setinggi apa pun, investor tetap nanya satu hal. Uangnya beneran masuk atau cuma lewat laporan laba rugi? Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Harga TBLA sekarang Rp 675, dan performa 5 tahun terakhir turun 16%. Padahal sektor sawit secara umum naik. Diskon ini nyaris selalu berarti market tidak percaya kualitas laba atau takut sama utang dan likuiditas. Angkanya mendukung kekhawatiran itu. Di 9M 2025, revenue TBLA Rp 16,38 T, naik 31,21% dibanding 9M 2024 Rp 12,49 T. Laba bersih juga naik 25,66% menjadi Rp 630,17 B dari Rp 501,52 B. Kalau investor cuma baca dua angka ini, harusnya saham terbang. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, karena arus kas operasi berbalik ekstrem. CFO 9M 2025 minus Rp 1,99 T, sementara 9M 2024 masih positif Rp 1,25 T. Jadi TBLA bukan kekurangan laba, TBLA kekurangan kas.
Akar masalahnya ada di modal kerja dan ritme pembayaran. Penerimaan kas dari pelanggan 9M 2025 Rp 15,60 T, tapi pembayaran ke pemasok dan lainnya tembus Rp 15,85 T, ini yang jadi penggunaan kas terbesar dan bikin CFO jatuh. Di saat yang sama, piutang usaha pihak ketiga naik drastis dari Rp 1,47 T ke Rp 2,95 T. Secara sederhana, TBLA banyak jualan, labanya tercatat, tapi kasnya belum balik cepat, sementara kewajiban bayar bahan baku, operasional, dan rantai pasok jalan terus. Ini yang bikin market tidak peduli cerita harga CPO naik, karena perusahaan tetap bisa megap-megap kalau siklus kasnya jebol.
Komposisi bisnisnya juga penting buat menjelaskan perilaku harga. Di 9M 2025, produk kelapa sawit jadi mesin utama, revenue Rp 13,10 T atau 80,08% dari total. Produk gula justru mengecil, revenue Rp 3,28 T turun 36,53% dari Rp 5,17 T di 9M 2024. Kontribusi gula turun dari 41,40% menjadi 20,04%. Ini nyambung dengan cerita persediaan bahan baku gula mentah yang habis, dari Rp 167,84 B akhir 2024 menjadi Rp 0 dan tetap Rp 0 sampai 30 September 2025. Persediaan gula barang jadi juga turun dari Rp 1,71 T menjadi Rp 811,31 B, turun 52,79%. Jadi waktu orang bilang harga gula naik harusnya TBLA ikut meroket, faktanya segmen gulanya lagi menyusut secara tahunan, sehingga sentimen gula tidak otomatis jadi bensin untuk harga saham. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang masuk ke bagian yang bikin investor makin ragu. Utang. Utang bank jangka pendek per 30 September 2025 Rp 8,80 T, naik tajam dari Rp 5,20 T per 31 Desember 2024. Total utang TBLA per 30 September 2025 Rp 17,67 T. Dengan laba bersih annualized sekitar Rp 840,23 B, rasio utang terhadap laba 20,97 kali. Itu artinya kalau cuma mengandalkan laba bersih, butuh hampir 21 tahun untuk melunasi utang, itu pun dengan asumsi laba tidak turun dan tidak ada kebutuhan capex tambahan. Lebih parah lagi, karena CFO dan FCF negatif, utang terhadap CFO dan utang terhadap FCF secara logika sudah tidak bisa dipakai buat narasi aman, karena arus kasnya defisit. Di level psikologis, market akan baca begini. Perusahaan tumbuh, tapi tumbuhnya butuh utang tambahan untuk menutup napas harian.
Capex di sini bukan musuh utama, tapi ikut menambah tekanan. Capex 9M 2025 Rp 1,12 T, relatif stabil dibanding 9M 2024, sehingga sumber masalah utama tetap CFO yang ambruk. Kombinasi CFO minus Rp 1,99 T dan capex Rp 1,12 T bikin FCF 9M 2025 minus Rp 3,11 T. Per kuartal pun konsisten merah. CFO Q1 2025 minus Rp 861,92 B, Q2 2025 minus Rp 230,79 B, Q3 2025 minus Rp 900,00 B. FCF Q1 2025 minus Rp 1,24 T, Q2 2025 minus Rp 570,69 B, Q3 2025 minus Rp 1,30 T. Ini menjelaskan kenapa harga saham tidak bisa ikut euforia komoditas. Karena tiap kuartal, kasnya tetap keluar lebih banyak daripada masuk.
Bagian yang sering bikin investor makin bingung adalah valuasi yang terlihat sangat murah. PER 4,83 kali, PBV 0,45 kali, P/S 0,19 kali, bahkan PEG 0,19 kali. Secara angka, TBLA terlihat seperti diskon besar. Tapi diskon ini bukan hadiah, ini harga ketakutan. Market mendiskon karena laba dianggap low cash quality. P/CFO dan P/FCF bahkan negatif, jadi metrik kas tidak bisa dipakai untuk membenarkan murahnya harga. Ditambah lagi risiko neraca. Net debt per saham Rp 2.782, total utang per saham Rp 2.933, sementara harga saham cuma Rp 675 dan kas per saham Rp 131. Ini kalimat yang langsung nyetrum ke kepala investor. Utang per saham lebih dari 4 kali harga saham. Jadi walaupun nilai buku per saham Rp 1.492, market bilang asetnya tidak dianggap semudah itu jadi uang tunai, karena modal kerja dan utangnya bisa menyedot nilai lebih dulu. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dividen ikut jadi pisau bermata dua. Di atas kertas, dividend yield 6,96% dengan DPR 44,96% terlihat enak. Tapi investor yang fokus kas akan langsung tanya, dividen ini dibayar dari apa? Karena FCF lagi negatif besar. Kalau dividen dibayar saat FCF negatif, sumbernya biasanya kombinasi utang baru atau pengetatan modal kerja yang makin agresif. Itu bisa bikin tekanan kas makin parah di periode berikutnya. Jadi dividend yield tinggi di TBLA bukan otomatis kabar baik, justru bisa dibaca market sebagai tambahan risiko kalau tidak didukung arus kas yang sehat.
Terus kenapa TBLA tidak ikut meroket seperti saham sawit lain? Karena saham lain bisa saja punya CFO positif, utang lebih jinak, atau siklus kas lebih bersih, sehingga ketika harga CPO naik, market langsung percaya itu akan jadi kas, bukan cuma jadi laba di laporan. TBLA sebaliknya, laba tumbuh 25,66% dan revenue naik 31,21%, tapi CFO jatuh ke minus Rp 1,99 T dan FCF jatuh ke minus Rp 3,11 T. Market melihat pertumbuhan yang dibayar mahal dengan leverage dan tekanan likuiditas, jadi harga cenderung ditahan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau investor mau bicara target valuasi ideal Rp 1.400 per saham, syaratnya sebenarnya bukan pertumbuhan laba lagi, karena EPS akrual sudah cukup untuk cerita PER 10 kali. Syarat utamanya cuma satu, CFO harus balik positif dan stabil, lalu FCF minimal positif dan sanggup menutup dividen dan capex tanpa nambah utang. Kalau 2026 masih kejadian pola yang sama, laba bagus tapi kas bocor, kemungkinan besar TBLA tetap jadi saham diskon, nyangkut di area Rp 600 sampai Rp 800, bukan karena komoditasnya jelek, tapi karena market takut perusahaan kehabisan oksigen kas di tengah utang jangka pendek yang membesar.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7






