$IHSG - PENJAGA API KECIL
Pukul 08.58.
Darma mematikan televisi seperti biasa. Bukan karena berita buruk, tetapi karena terlalu banyak suara membuat kepalanya sesak. Di rumah kontrakan yang sempit itu, teriakan analis tentang “bullish” lebih sering terdengar sebagai ejekan daripada kabar baik.
Di jendela, sirih gading merambat pada tali jemuran. Beberapa daunnya menguning. Sudah berhari-hari ia berniat memetiknya, tapi selalu lupa.
Kopi di mejanya sudah dingin. Permukaannya tak lagi beruap, seperti cermin buram. Ia lupa kapan terakhir berdiri. Sisa pahit di dasar cangkir, entah kenapa, membuat pikirannya tetap terjaga.
Di layar laptop, grafik-grafik masih diam. Dua menit lagi, semuanya akan saling menerkam.
Tangan Darma sedikit gemetar. Bukan karena kafein, melainkan karena satu saham yang tak juga pulih sejak dua kuartal lalu. Merahnya bukan lagi sekadar warna, tetapi menyerupai bekas yang tak benar-benar sembuh.
Ia pernah mati dua kali di pasar.
Yang pertama ketika saldonya tinggal ratusan ribu di usia tiga puluh tujuh. Yang kedua jauh lebih sunyi, saat uang masih ada, tetapi setiap pagi ia menatap layar tanpa benar-benar tahu apa yang ia tunggu. Pikirannya seperti rumah dengan lampu menyala, tapi penghuninya tak lagi pulang.
Ia lebih takut mati yang kedua.
Ia masuk pasar modal bukan karena ingin kaya cepat, tapi karena percaya satu kebodohan yang jujur: hidup bisa ditopang oleh akal sehat. Ia bekerja sebagai analis receh di sekuritas kecil dekat rel kereta. Gajinya cukup untuk sekolah anak. Tidak cukup untuk mimpi besar.
Mimpi itulah yang ia titipkan ke saham.
Awalnya, ia membeli seperti semua orang: ikut cerita.
“Ini tahan banting.”
“Ini masa depan.”
“Ini tinggal tunggu waktu.”
Ia ikut. Ia juga ikut hancur.
Saham pertama yang membuatnya nyaris muntah bukan yang jatuh paling dalam, melainkan yang pernah naik lebih dari tiga ratus persen, lalu runtuh tepat setelah ia berani membayangkan melunasi rumah. Di situlah ia belajar: euforia lebih cepat membunuh daripada takut.
-------------------------------------
Pukul 08.59.
Telegram berbunyi seperti pasar burung.
“IPO pecah!”
“Bandarnya sudah naik!”
“Yang ragu silakan menyesal!”
Satu pesan dari Bima, teman lamanya: Masih pegang saham bangke itu? Giliran ini yang panas!
Bima dulu satu kos dengannya, anak yang selalu tidur dengan laptop terbuka di dada seolah mimpi pun harus tentang candlestick. Mereka jatuh dan bangun bersama di awal-awal pasar. Namun Bima memilih menjadi pemburu gelombang. Darma memilih bertahan di dasar.
Darma sempat mengetik satu kata. Lalu menghapusnya.
Ia menutup Telegram tanpa membalas. Ia membuka spreadsheet yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun: arus kas, utang, margin, dan satu kolom terakhir yang ia beri nama sendiri, Etika.
Ada entri lama di baris teratas, tertulis lima tahun lalu, saat ia membeli $CNTA pertama kali: P-TG: Produk Teknologi Tepat Guna. Menanam pada hal yang membantu orang kecil.
Dulu itu cukup membuatnya percaya. Kini ia bahkan tidak yakin teknologi yang sama masih diproduksi.
------------------------------------------
Pukul 09.01.
CNTA langsung jatuh enam persen di menit pertama. Fundamentalnya belum benar-benar runtuh. Kas masih ada. Tapi manajemennya berganti enam bulan lalu. Sejak itu laporan sering terlambat, klarifikasi menggantung, jawaban publik terdengar bersih namun terasa licin.
Seperti orang yang bicara baik-baik tetapi menyembunyikan sesuatu di balik tatapan.
Garis merah di layar bergerak seperti denyut yang melambat.
Kursor berkedip. Jari di mouse. Napas tertahan. Dunia menyempit menjadi satu garis merah.
Tangan kirinya mencengkeram lutut.
Di dadanya, api kecil itu berkedip-kedip redup. Hangatnya menjauh.
Dua suara bertengkar.
Suara pertama, masa lalu:
“Ini saham yang pernah menolongmu bangkit. Ini yang membuat anakmu tetap sekolah.”
Suara kedua, dingin dan mencatat:
“Direktur sulit dihubungi.”
“Tiga laporan terlambat.”
“Kalimat publik selalu menghindar.”
Sunyi memanjang.
Ia menarik napas pelan, seperti meniup sisa keberanian. Napas itu masuk, dan waktu membengkak. Di antara tarikan dan hembusan, ia melihat lima tahunnya: anaknya yang bertambah tinggi, cat motor yang makin memudar, istrinya yang kini mulai beruban di pelipis. Semuanya tertambat pada garis merah yang berkedip itu.
Lalu…Klik.
Suara kecil itu terdengar seperti gembok yang diputar di suatu ruang di dalam tulang rusuknya. Setelah itu tidak ada apa pun selama beberapa detik. Sebuah kehampaan yang tiba-tiba membeku.
Lambat-lambat tubuhnya terasa lebih ringan, dan lebih kosong. Seolah sesuatu dicabut dari dirinya. Sesuatu yang diam-diam telah ia sebut harapan.
Warna di layar berpindah. Angka berubah. Selesai.
Dadanya terasa ringan, tapi di tenggorokan mengganjal sesuatu yang seharusnya ada. Ruangan terasa lebih hening dari biasanya. Hening yang bukan tenang, hening yang sedang belajar bernapas lagi.
Sepuluh menit kemudian, tanpa sadar, ia membuka kembali aplikasi itu. Hanya untuk melihat harga. Tangannya gemetar lagi.
Ia menutup layar keras-keras.
Siang hari, indeks naik.
Grup Telegram tertawa. Saham yang ia jual memantul kecil. Meme beredar. Sindiran berhamburan.
Bima mengirim pesan: Tuh kan. Kalau tahan dikit, cuan.
Status mengetik muncul sebentar lalu hilang. Notifikasi masuk lagi: Gue juga kemarin jual $TMPI terlalu cepet. Salah terus ini hidup.
Darma membalas: Cuan tidak selalu berarti selamat.
Ia mematikan data.
Sore hari ia pulang naik motor tua. Catnya mengelupas seperti kulit yang terlalu lama ingin tampak kuat. Angin dari arah Tanjung Priok membawa bau garam bercampur asap knalpot, seperti pengingat bahwa Jakarta tetap berdenyut, entah seseorang untung atau tenggelam.
Di rumah, anaknya menyambut dengan buku gambar.
“Ayah tadi menang?”
Darma diam sebentar. “Tidak kalah,” katanya.
Anaknya mengangguk, puas.
Di dapur, istrinya mengaduk nasi. Sendok membentur dinding panci, ritme kecil yang membuat rumah terasa nyata. Saat Darma lewat, istrinya menyentuh lengannya sebentar. Gerakan yang nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat napasnya membaik.
Malam itu, sambil menyiapkan teh, istrinya bertanya tanpa menatap,
“Ayah, kalau besok sahamnya naik lagi, Ayah mau beli lagi tidak?”
Darma tersenyum tipis.
“Tidak, Bu. Sudah cukup satu kali salah percaya pada hal yang sama.”
Istrinya hanya mengangguk. Ada helaan napas pendek yang terdengar seperti lega.
Di teras, langit Jakarta memerah seperti tirai yang pelan-pelan ditutup. Ia membuka laptop.
Ia tidak langsung melihat portofolio.
Ia membuka spreadsheet.
Melewati kas, utang, margin.
Berhenti di kolom terakhir: Etika.
Ia mengetik pelan: Hari ini menjual sebelum terlalu yakin. Lebih percaya diri sendiri daripada janji orang lain.
Ia menutup layar.
Keesokan paginya, CNTA melonjak dua puluh persen karena rumor akuisisi. Namanya muncul bersama kata potensi dan harapan baru.
Di kolom komentar seseorang menulis: Yang jual kemarin pasti mental tempe.
Beberapa menit kemudian muncul berita tambahan: akuisisi itu dilakukan oleh perusahaan yang dua tahun lalu pernah diselidiki karena rekayasa laporan. Rumor euforia menutupi kejanggalan itu, tetapi Darma melihatnya.
Ia menatap layar lama. Lalu memetik sejumput garam dari atas meja, menaburkannya pelan ke dalam kopi. Ia menyeruput.
Pahitnya tetap pahit. Tapi kini ada asin.
Ada satu kata melintas di kepalanya: “Sialan.”
Kata itu melayang sebentar, lalu pecah tanpa suara seperti gelembung sabun yang menyentuh tanah.
Tidak ada gemetar.
Tidak ada lonjakan adrenalin.
Tidak ada penyesalan yang membakar.
Darma tak pernah menjadi investor terkenal. Ia tak muncul di podcast. Tak pernah dipanggil mentor.
Setiap pagi ia tetap membuka layar. Bukan untuk berburu keajaiban, melainkan untuk memastikan pikirannya masih miliknya sendiri.
Pagi berikutnya, sebuah stiker bintang kecil menempel di sudut monitor laptopnya.
“Biar Ayah tetap berani,” kata anaknya.
Malam itu, setelah mematikan laptop, Darma berjalan ke jendela. Dengan kuku jempol, ia memotong tangkai daun sirih gading yang paling menguning. Membiarkannya jatuh ke tanah pot. Lalu ia menyentuh satu daun muda yang baru merekah.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia tertidur tanpa mengecek harga lebih dulu.
Dalam tidurnya yang lelap, tidak ada mimpi tentang candlestick hijau atau merah.
Hanya suara air mendidih dari dapur, dan bau tanah usai hujan, dua hal yang tak pernah masuk spreadsheet, dan tak akan pernah bisa diperdagangkan.
