imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

1. Kenapa Sumatra belum ditetapkan “darurat bencana”?

Biasanya pemerintah menetapkan status darurat bencana kalau terpenuhi beberapa kondisi:

a. Skala kerusakan & korban

Status darurat dikeluarkan kalau kerusakan meluas, banyak korban, dan fungsi layanan publik lumpuh.
Kalau di Sumatra kondisinya berat tapi masih bisa ditangani pemerintah daerah + BNPB, pusat cenderung menahan status “darurat nasional”.

b. Kapasitas pemda masih mampu

Selama BPBD + Pemda masih mampu menangani, pusat tidak akan “menaikkan level” status, karena begitu status dinaikkan → anggaran pusat otomatis keluar.

c. Dampak ekonomi & sosial belum melumpuhkan

Kalau transportasi, logistik, listrik, dan suplai pangan tidak lumpuh total, pemerintah menilai masih manageable.

Intinya: belum darurat nasional = bukan berarti ringan, tapi secara administrasi pemerintah menilai masih tertangani tanpa status eskalasi nasional.


2. Kalau status DARURAT BENCANA ditetapkan → efek ke INFLASI

Nah ini mulai menarik, karena ini langsung nyambung ke ekonomi makro dan target Menkeu.

Ketika status darurat ditetapkan:

a. Distribusi pangan & logistik tersendat → harga naik

Jalan putus

Pelabuhan terganggu

BBM terlambat

Fresh food (beras, sayur, ayam) sulit masuk


→ Inflasi pangan langsung meledak, terutama volatile food.

b. Panic buying

Orang-orang biasanya menyetok barang.
Permintaan naik tajam → harga naik.

c. Efek psikologis pasar

Investor & pedagang menaikkan harga sebagai “antisipasi” kekurangan barang.
Ini bikin inflasi makin lengket (stickier).


3. Dampaknya ke TARGET PERTUMBUHAN EKONOMI pemerintah & Menkeu

Pemerintah (Kemenkeu & Bappenas) biasanya set target pertumbuhan sekitar 5%.

Kalau status darurat bencana skala besar ditetapkan:

a. Belanja negara harus direalokasi besar-besaran

Dana dialihkan ke:

Bantuan sosial

Rekonstruksi

Infrastruktur darurat

Logistik dan relokasi


Realokasi ini mengganggu program produktif, misalnya:

Infrastruktur strategis

Investasi industri

Hilirisasi

Dukungan UMKM


→ Pertumbuhan ekonomi melambat.

b. Output ekonomi di wilayah bencana anjlok

Sumatra punya kontribusi ekonomi besar:
perkebunan, tambang, energi, pelabuhan, industri CPO, hingga manufaktur.

Begitu wilayah ini lumpuh → PDB provinsi turun → PDB nasional ikut ketarik turun.

c. Inflasi naik → konsumsi masyarakat melemah

Inflasi yang tinggi bikin daya beli turun.
Padahal konsumsi rumah tangga = 54% PDB Indonesia.

Artinya, inflasi tinggi = langsung hantam pertumbuhan.

d. Investor menahan ekspansi

Status darurat, terutama jika nasional, mengirim sinyal risiko tinggi.
Investor asing dan domestik menunda:

Proyek

Ekspansi pabrik

Pembiayaan


→ Pertumbuhan ekonomi makin lambat.


Kenapa pemerintah sering “menahan” status darurat nasional?

Jawabannya kombinasi:

✔ Menghindari inflasi pangan meledak

✔ Menjaga sentimen pasar tetap stabil

✔ Tidak merusak target pertumbuhan ekonomi APBN

✔ Menghindari realokasi belanja besar-besaran yang menghambat program strategis

Semua ini sangat sensitif di tahun politik dan tahun APBN berjalan.

random tag : $BBRI $AMRT $UNVR

Read more...
2013-2025 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy