imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Sumber : Mirae dan Google

MOMENTUM AKHIR TAHUN SEKTOR TELEKOMUNIKASI INDONESIA
Pada November 2025, sektor telekomunikasi Indonesia mengalami jeda singkat setelah beberapa bulan menunjukkan momentum kenaikan harga paket data. Yield industri turun sebesar –0,9% secara bulanan, terutama karena strategi Indosat ( $ISAT ) yang memperbesar kuota paket internet. Pendekatan ini menekan monetisasi jangka pendek, namun mendorong trafik penggunaan data. Sebaliknya, Telkomsel ( $TLKM ) justru menaikkan sebagian harga paketnya sehingga yield naik +0,5%, sementara XL Axiata (EXCL) tetap stabil tanpa perubahan harga yang berarti.

Kondisi ini menunjukkan bahwa secara umum, industri telah beralih dari perang harga agresif menuju upaya stabilisasi pendapatan per pengguna (ARPU). Setelah konsolidasi besar dalam industri, operator kini lebih fokus pada penguatan margin dan monetisasi trafik. Selektifnya kenaikan harga, terutama dari Telkomsel, menjadi sinyal bahwa pasar mobile data berada dalam kondisi lebih sehat menjelang akhir tahun.

Di segmen fixed broadband (internet rumah), pasar juga mulai membaik. Setelah penurunan tajam pada Oktober, yield industri rebound dengan kenaikan +0,5% MoM di November. ICON+, anak usaha PLN, menjadi pendorong utama pemulihan ini setelah menaikkan tarif di Jawa, Bali, dan wilayah timur Indonesia dengan rata-rata kenaikan 5,6%. Kenaikan ini dilakukan tanpa perubahan kecepatan layanan, sehingga berdampak langsung pada peningkatan margin. Operator lain tampak menahan diri setelah promosi besar di Oktober, sambil bersiap menghadapi lonjakan trafik di musim liburan.

Di sisi lain, pasar fixed broadband menghadapi potensi disrupsi dari peluncuran Internet Rakyat oleh $WIFI. Berbekal spektrum 1.4GHz yang baru dimenangkan, WIFI menargetkan jangkauan ke 61% rumah tangga Indonesia. Paket 100 Mbps seharga Rp100.000 menjadi pusat perhatian karena menawarkan harga jauh lebih rendah dibanding pemain fiber optic saat ini. Jika berhasil dalam eksekusi dan kualitas jaringan, produk ini berpotensi mengguncang pemain besar seperti Indihome, MyRepublic, dan First Media. Namun, risiko utamanya adalah apakah layanan ini dapat mempertahankan kualitas yang stabil mengingat cakupan dan teknologi baru yang digunakan.

Secara keseluruhan, Mirae Asset tetap memberikan rating Overweight untuk sektor telekomunikasi Indonesia. Pemulihan yield data, stabilisasi ARPU, serta prospek pertumbuhan yang ditopang pemulihan ekonomi memberikan dasar kuat bagi optimisme jangka menengah. Penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia diperkirakan meningkatkan daya beli masyarakat, terutama segmen mass market yang menjadi basis utama industri. Dalam konteks ini, EXCL menjadi top pick berkat sinergi biaya yang kuat serta potensi pertumbuhan EBITDA yang lebih tinggi dibanding operator lain.

Namun demikian, sektor ini tetap menghadapi beberapa risiko. Tantangan utama adalah lambatnya pemulihan ARPU jika operator kembali agresif memberi kuota besar. Selain itu, kompetisi di fixed broadband akan semakin ketat setelah hadirnya pemain murah seperti WIFI. Bagi Telkomsel dan Indihome, tekanan kompetitif mungkin lebih besar dibanding XL dan ISAT yang cenderung lebih efisien secara operasional.

Walaupun demikian, struktur industri yang lebih rasional setelah konsolidasi membuat prospek jangka panjang tetap menarik. Operator kini lebih fokus pada profitabilitas ketimbang volume semata, sementara permintaan data terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital. Jika dinamika harga tetap terkendali dan pemain baru seperti WIFI tidak memicu perang harga besar, maka tahun 2026 berpotensi menjadi periode ekspansi margin bagi sebagian besar operator telekomunikasi.

Read more...

1/8

testestestestestestestes
2013-2025 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy