Dalam video ini, kami akan membedah Laporan Keuangan Kuartal 3 (LK Q3 2025) PT Midi Utama Indonesia Tbk ($MIDI). Harga saham MIDI anjlok dari 486 ke 380, menimbulkan pertanyaan besar: Apakah harus cutloss MIDI untuk masuk AMRT? Analisis mendalam menunjukkan cerita yang kontradiktif antara harga dan fundamental.
Fakta Kunci MIDI:
1. Laba Bersih Rekor Baru: Laba bersih MIDI yang diatribusikan ke pemilik induk selama sembilan bulan pertama 2025 sekitar 590 Miliar Rupiah, naik tajam sekitar 26,5% dari periode yang sama tahun lalu (467 Miliar). Hipotesis awal bahwa harga longsor karena laba anjlok langsung gugur.
2. Kualitas Laba & Arus Kas Kuat: Arus kas operasi (CFO) sembilan bulan 2025 lebih besar daripada laba akrual. Rasio kas operasi terhadap laba berada di atas 2 kali. Ini berarti setiap 1 Rupiah laba didukung lebih dari 2 Rupiah uang nyata yang masuk ke rekening.
3. Neraca Super Sehat: MIDI telah melunasi seluruh utang bank berbunga per 30 September 2025. Posisi utang berbunga praktis nol. Modal kerja juga rapi, dengan kas naik dari 380 Miliar menjadi 520 Miliar.
4. Ekspansi Agresif: Profil kas terlihat tipis di free cash flow karena MIDI sedang dalam fase ekspansi besar. Capex sembilan bulan pertama 2025 mencapai sekitar 1,1 Triliun Rupiah, digunakan untuk pembukaan gerai baru. Ini adalah ciri perusahaan yang sedang mengorbankan kas jangka pendek demi pertumbuhan di masa depan.
5. Divestasi Lawson: Pelepasan Lawson pada Mei 2025 menghilangkan kerugian yang konsisten di bagian kepentingan nonpengendali, membuat laba bersih pemilik induk lebih bersih dan mudah dibaca.
Konteks Induk ($AMRT):
Sentimen satu grup cenderung menular. Di sisi lain, AMRT menghadapi tantangan berbeda:
• Laba bersih pemilik induk turun sekitar 3,5% (dari 2,40 T ke 2,32 T). Kas dari operasi juga turun dari 5,7 T ke 4,9 T.
• Investasi non-inti (digital) terbukti salah arah, dengan kerugian nilai wajar dari RAENA (8 Miliar) dan kerugian nilai wajar yang belum direalisasi sekitar 260 Miliar dari investasi di $BANK Aladin Syariah. Ini memukul ekuitas dan mengirim sinyal buruk alokasi modal ke pasar.
Valuasi dan Kesimpulan:
MIDI di harga 380 dengan EPS annualised 23-24 Rupiah memiliki PER hanya di kisaran 16 kali. Dengan pertumbuhan laba 26,5%, PEG ratio kasar sekitar 0,6—yang merupakan tanda undervalued bagi value investor. Sementara itu, AMRT dengan laba turun, PER-nya masih di kisaran 24 kali di harga 1.810.
Keputusan cutloss MIDI (bisnis yang labanya tumbuh puluhan persen dan PER belasan kali) demi membeli AMRT (bisnis yang labanya turun dan PER dua puluhan kali) adalah arbitrase rasa takut, bukan arbitrase nilai. MIDI sedang dihukum kolektif pasar karena sentimen grup, bukan karena fundamental yang rusak. Investor rasional cenderung mempertahankan atau mencicil MIDI.
Disclaimer: Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan masing-masing investor. Selalu baca laporan keuangan dan lakukan analisis independen Anda.
Jangan lupa like, comment, dan subscribe ke channel Wawasan Cerdas untuk analisis saham yang lebih mendalam!
https://cutt.ly/Etys9gT5