imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MIDI LK Q3 2025: Apakah Harus Cutloss?

Pertanyaan salah satu user Stockbit bukan di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Pertanyaan salah satu user Stockbit yang bingung apakah harus cutloss MIDI untuk masuk AMRT. Pertanyaan yang wajar timbul ketika investor tidak tahu apa yang mereka beli. Harga MIDI amblas dari 486 ke 380, AMRT dari 3.170 ke 1.810, layar merah di aplikasi langsung membuat otak pindah ke mode selamatkan diri, bukan mode baca laporan keuangan. Di forum, narasi yang muncul sederhana, mungkin laba ritel sudah hancur, konsumsi lesu, sektor ritel selesai. Padahal kalau angka dibuka pelan, cerita yang muncul justru sebaliknya, terutama di MIDI. Di satu sisi ada anak usaha yang labanya naik puluhan persen, kas operasi deras, utang bank berbunga nol. Di sisi lain ada induk raksasa yang omzetnya masih naik, tetapi laba bersihnya malah turun, cashflow menyusut, plus investasi non-inti digital yang mulai terbukti salah arah. Jadi ketika investor bertanya apakah masuk akal memotong kerugian di MIDI untuk mengejar AMRT, yang sedang dihukum pasar karena drama RAENA dan BANK, pertanyaannya pelan-pelan bergeser menjadi, sebenarnya siapa yang sakit dan siapa yang hanya ikut tertular panik. Pada titik itu, data keuangan berubah dari sekadar angka menjadi alat deteksi siapa korban dan siapa kambing hitam di satu grup yang sama. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Lihat dulu fakta di LK MIDI. Berdasarkan laporan keuangan interim Q3 2025, laba bersih yang diatribusikan ke pemilik induk selama sembilan bulan pertama 2025 sekitar 590 Miliar Rupiah, naik sekitar 26,5% dari periode yang sama tahun lalu yang masih di kisaran 467 Miliar. Laba per saham juga ikut naik, dari sekitar 14 ke hampir 18 Rupiah per lembar. Kalau angka ini diannualkan, laba setahun penuh kira-kira mendekati 800 Miliar. Artinya, di tengah harga saham yang jatuh dari 486 ke 380, bisnisnya justru mencetak rekor laba baru, bukan turun. Untuk kuartal ketiga saja, laba bersih pemilik induk sekitar 200 Miliar, jauh lebih tinggi dibanding Q3 tahun lalu yang hanya sekitar 142 Miliar. Jadi hipotesis awal bahwa harga longsor karena laba anjlok langsung gugur di bab pertama.

Yang membuat cerita MIDI menarik adalah kualitas laba, bukan cuma besarnya. Arus kas operasi sembilan bulan 2025 lebih besar daripada laba akrual. Penerimaan kas dari pelanggan sedikit di atas pendapatan, dan setelah menambahkan kembali beban nonkas seperti depresiasi, kas bersih dari operasi tembus kisaran triliunan Rupiah. Rasio kas operasi terhadap laba di atas 2 kali, artinya setiap 1 Rupiah laba di kertas didukung lebih dari 2 Rupiah uang nyata yang masuk ke rekening. Di sisi neraca, utang bank berbunga sudah dilunasi, sehingga posisi utang berbunga per 30 September 2025 praktis nol. Ini kombinasi yang jarang di ritel, laba naik, kas operasi kuat, utang bank hilang. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Lalu kenapa profil kas kelihatan tipis di free cash flow? Jawabannya, MIDI lagi fase ekspansi gila-gilaan, tapi gila-gilaan yang masuk akal. Capex sembilan bulan pertama 2025 sekitar 1,1 Triliun Rupiah, kalau diannualkan bisa tembus sekitar 1,5 Triliun. Hampir seluruh kas operasi dipompa kembali ke pembukaan gerai baru dan penambahan aset hak-guna. Itu kenapa free cash flow setelah capex terlihat tipis, hanya puluhan sampai ratusan Miliar, meskipun kas operasi sendiri sangat sehat. Ini bukan ciri bisnis yang sekarat, tetapi profil perusahaan ritel yang sedang mengorbankan kas jangka pendek demi menambah mesin uang baru di masa depan.

Satu peristiwa teknis yang sering dilupakan investor adalah divestasi Lawson. MIDI menjual seluruh kepemilikan di PT Lancar Wiguna Sejahtera, pengelola Lawson, ke AMRT dengan nilai transaksi sekitar 200 Miliar Rupiah pada Mei 2025. Sebelum dijual, Lawson secara konsisten mencatat rugi di bagian kepentingan nonpengendali. Di laporan 2024, kerugian KNP ini memakan laba komprehensif grup. Begitu Lawson dilepas, rugi kepentingan nonpengendali itu hilang, laba bersih pemilik induk menjadi lebih bersih dan lebih mudah dibaca. Ada tambahan selisih yang masuk ke tambahan modal disetor, dan ada cash in yang membantu memperkuat kas serta mendanai ekspansi. Jadi kenaikan laba MIDI di 2025 ini adalah campuran antara perbaikan operasional dan efek bersih-bersih portofolio, bukan trik kosmetik semata.

Modal kerja MIDI sendiri cukup rapi. Kas dan bank naik dari kisaran 380 Miliar di akhir 2024 menjadi sekitar 520 Miliar di Q3 2025, sementara persediaan malah turun sekitar 7% menjadi sekitar 2,5 Triliun. Utang usaha ke pemasok pihak ketiga juga turun cukup dalam, dari sekitar 2,3 Triliun ke sekitar 1,9 Triliun. Utang berbunga hilang, jadi sumber pendanaan utama modal kerja adalah utang usaha dan liabilitas sewa. Risiko yang tersisa lebih di sisi operasional ritel klasik, seperti keusangan stok, bukan risiko kebangkrutan karena bunga. Dari kacamata kreditur, ini tipe neraca yang bikin tidur nyenyak, makin jauh dari skenario gagal bayar. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau hanya melihat MIDI, investor mungkin tergoda menyimpulkan bahwa harga 380 ini adalah hadiah. Namun konteksnya tidak bisa dilepas dari induknya, AMRT, karena sentimen satu grup cenderung menular. AMRT pada 9M 2025 membukukan pendapatan sekitar 94,5 Triliun Rupiah, naik sekitar 7 sampai 8% dari tahun lalu yang sekitar 88 Triliun. Laba kotor juga naik tipis, dari sekitar 19,4 Triliun ke 20,3 Triliun. Masalahnya, laba usaha justru turun sedikit, dan laba bersih pemilik induk turun dari sekitar 2,40 Triliun ke sekitar 2,32 Triliun, minus sekitar 3,5%. Kas dari operasi juga turun dari sekitar 5,7 Triliun ke sekitar 4,9 Triliun. Jadi di AMRT, omzet masih naik, tetapi marjin makin termakan beban dan kas operasional turun.

Di atas itu semua, ada dua bom kecil di sisi investasi non-inti yang menghancurkan aura teknologi dan digital yang dulu menempel di AMRT. Pertama, investasi kecil di RAENA, platform reseller produk kecantikan, praktis kandas. RAENA berhenti beroperasi pada Februari 2025 dan AMRT mengakui kerugian nilai wajar sekitar 8 Miliar Rupiah di penghasilan komprehensif lain. Kedua, investasi sekitar 500 Miliar di $BANK Aladin Syariah sekarang tercatat rugi nilai wajar yang belum direalisasi sekitar 260 Miliar. Angka ini tidak memukul laba bersih, tetapi memukul ekuitas lewat penghasilan komprehensif lain dan mengirim pesan ke pasar bahwa bagian digital dan bank kecil ini jauh dari kata sukses. Bagi investor institusi, ini sinyal manajemen alokasi modal yang perlu dikaji ulang. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Secara neraca, AMRT sebenarnya sangat kuat. Utang berbunga juga nol per Q3 2025, kas dan setara kas masih di kisaran beberapa Triliun Rupiah, dan struktur ekuitas kokoh. Namun dari sudut pandang valuasi, pasar sebelumnya memberi premi luar biasa. Di harga 3.170, dengan EPS annualised sekitar 74 Rupiah, PER AMRT sempat bermain di kisaran 40 kali. Wajar kalau ketika pertumbuhan laba negatif, kas operasi turun, dan investasi digital menunjukkan kerugian ratusan Miliar di ekuitas, pasar mulai mencabut premi tersebut. Derating ke level 1.810 sehingga PER sekitar 24 kali lebih terlihat sebagai normalisasi daripada penghancuran.

Bandingkan dengan MIDI. Di harga 380, dengan EPS annualised sekitar 23 sampai 24 Rupiah, PER MIDI hanya di kisaran 16 kali. Net margin sekitar 3,9%, laba naik 26,5%, utang bank berbunga nol, kas operasi dua kali laba, tetapi free cash flow tipis karena ekspansi toko. Di sisi valuasi, PEG ratio kasar sekitar 0,6 (PER 16 dibagi growth laba sekitar 26,5%), yang biasanya dibaca value investor sebagai tanda undervalued. Sementara AMRT dengan pertumbuhan laba minus, PER masih 24 kali, PEG tidak layak dihitung karena growth negatif. Dari sudut angka dingin, sulit menjelaskan logika cutloss dari saham yang tumbuh laba puluhan persen dengan PER belasan kali demi membeli induk yang labanya turun dan PER masih dua puluhan kali.

Poin krusial berikutnya adalah memahami kenapa harga MIDI tetap babak belur meskipun laba naik. Jawaban paling masuk akal bukan di laporan laba rugi MIDI, tetapi di psikologi pasar dan korelasi satu grup. Ketika AMRT dihajar sentimen karena RAENA dan BANK, ketika investor mulai mempertanyakan strategi digital, dana besar yang ingin mengurangi eksposur ke grup cenderung menjual apa saja yang masih bisa dijual dalam satu klaster. MIDI kebetulan masuk keranjang yang sama, sehingga ikut dijual tanpa dibedakan mana yang sedang bermasalah dan mana yang justru membaik. Ini bukan cerita fundamental yang rusak, tetapi cerita satu grup yang sedang dihukum kolektif oleh pasar. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Lalu bagaimana dengan peluang rebound. Dari sisi MIDI, semua sinyal internal memberi harapan. Laba inti naik, kas operasi kuat, utang berbunga nol, bisnis inti ritel menengah terus ekspansi dengan capex besar. Divestasi Lawson menghilangkan sumber rugi di kepentingan nonpengendali, sehingga laba ke depan lebih bersih. Diskrepansi antara fundamental yang membaik dan harga yang turun membuka ruang bagi investor rasional untuk masuk mencicil. Asalkan ekonomi domestik tidak masuk resesi dalam dan daya beli tidak hancur permanen, narasi bahwa harga pada akhirnya akan kembali mendekati nilai wajar punya dasar yang masuk akal.

Di sisi AMRT, harapan rebound juga ada, tetapi ceritanya berbeda. Neraca tanpa utang memberi proteksi besar terhadap skenario buruk. Bisnis ritel inti tetap menghasilkan kas, CFO masih beberapa Triliun per tahun. Namun untuk membuat harga kembali ke kisaran 3.000, laba harus kembali tumbuh, bukan stagnan atau turun. Manajemen harus membuktikan bahwa capex besar di jaringan minimarket menghasilkan return yang layak dan bahwa episode RAENA dan penurunan nilai investasi di BANK adalah pelajaran mahal sekali lewat, bukan pola yang akan berulang. Selama laba bersih belum kembali tumbuh, PER 24 kali di 1.810 masih terasa premium untuk investor value murni, walaupun mungkin terasa wajar untuk investor growth yang percaya pada dominasi jangka panjang AMRT di ritel modern.

Sekarang balik ke pertanyaan awal, apakah rasional cutloss MIDI untuk masuk AMRT. Dari sudut pandang angka, menurut saya jawabannya cenderung tidak. Investor yang cutloss di 380 lalu masuk AMRT di 1.810 pada dasarnya menjual bisnis yang laba bersihnya naik lebih dari 20% dengan PER belasan kali, demi membeli bisnis yang labanya turun dengan PER di kisaran dua puluhan kali, hanya karena label perusahaan besar terasa lebih menenangkan. Itu bukan arbitrase nilai, itu arbitrase rasa takut. Secara risiko, investor memang menukar mid cap dengan large cap, tetapi secara fundamental, MIDI yang sekarang justru terlihat lebih segar, sementara AMRT sedang menjalani masa disiplin valuasi setelah fase euforia digital. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Bukan berarti MIDI tanpa risiko. Ketergantungan pada pemasok dan pihak berelasi dalam ekosistem Alfamart tinggi, risiko keusangan stok selalu membayangi, dan ekspansi agresif berarti perusahaan rela mengorbankan free cash flow sekarang demi pertumbuhan masa depan. Kalau ekonomi mendadak melambat tajam, gerai baru bisa butuh waktu lebih lama untuk balik modal. Sentimen grup juga bisa membuat MIDI lanjut ditekan selama investor masih trauma dengan cerita RAENA dan BANK di level induk. Namun selama angka laba dan kas operasi terus menunjukkan tren naik, tekanan harga lebih terlihat sebagai kesempatan daripada vonis mati.

Jadi posisi rasional yang menurut saya paling sehat adalah begini. Untuk investor yang siap berpikir beberapa tahun, bukan beberapa hari, MIDI di harga tertekan lebih masuk akal untuk dipertahankan atau dicicil, bukan dicutloss demi mengejar induk yang sedang dalam proses koreksi valuasi. Untuk investor yang hanya bisa tidur kalau pegang nama besar, AMRT masih bisa dibela, tetapi harus jujur mengakui bahwa ini beli raksasa dengan pertumbuhan laba yang lagi melambat dan jejak keputusan investasi digital yang bikin kening berkerut. Yang jelas, keputusan paling lemah adalah cutloss MIDI hanya karena panik melihat grafik, tanpa membaca bahwa laba naik, kas operasi kuat, utang bank nol, sementara yang benar-benar sedang diadili pasar justru strategi investasi non-inti di level induk. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau mau nunggu di valuasi PBV < 1 ya monggo. Siapa tahu dikasi. 馃ゴ

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...
2013-2025 Stockbit 路AboutContactHelpHouse RulesTermsPrivacy