$AMRT Apakah Sudah Bagus Masuk di Harga Sekarang?
Request salah satu member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Ada yang tanya apakah masuk AMRT sekarang sudah menarik. Jawabannya selalu sama, tergantung kemampuan finansial masing-masing investor. Kalau punya dana unlimited, ya tinggal cicil selot selot dari sekarang sampai nanti harga entah di PBV 0,1 dan PER di bawah 10, tinggal main rata-rata terus. Kalau duit terbatas, pilihan realistis cuma dua, siap cut loss kalau salah skenario atau siap keep hold dan berdamai dengan floating merah bertahun-tahun. Di harga 1.810, AMRT bukan lagi saham murah secara textbook value, tapi juga bukan lagi saham euforia seperti waktu masih di 3.000-an. Investor yang masuk sekarang sebenarnya sedang beli kombinasi mesin kas ritel yang sangat kuat plus sejarah investasi digital yang gagal. Pertanyaannya, investor lebih fokus ke mesin kasnya atau trauma investasi non-intinya. Kalau fokus ke mesinnya, harga hari ini terlihat menggoda. Kalau fokus ke lukanya, mungkin masih terasa mahal. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sebagai analis yang mencoba waras, cara menjawab apakah AMRT sudah menarik di sekitar 1.810 adalah dengan menimbang dua sisi. Di satu sisi ada red flag non-inti yang sudah meledak di laporan keuangan, terutama RAENA dan $BANK Aladin. Di sisi lain, ada fundamental operasional inti yang sampai hari ini masih kokoh, mulai dari revenue yang terus naik, arus kas operasi yang dua kali laba, sampai neraca tanpa utang berbunga. Saham ini sekarang bukan lagi cerita murni growth tech, tapi berubah jadi kombinasi ritel defensif dengan bekas luka strategi digital. Profil risiko-imbal hasilnya justru makin menarik buat investor jangka panjang yang cari stabilitas arus kas, meski PER tradisionalnya masih di zona premium.
Kenapa harga bisa amblas dari 3.170 ke 1.810, koreksi sekitar 43% dalam setahun. Bukan karena Alfamartnya sepi atau bisnis inti ritel runtuh. Penyebab utamanya ada di sisi strategi non-inti, terutama investasi digital yang gagal dan devaluasi aset keuangan yang dulu dibeli dengan narasi pertumbuhan tinggi. RAENA, platform reseller produk kecantikan tempat AMRT punya porsi kecil sekitar 1,24 persen, resmi tidak beroperasi lagi sejak Februari 2025. Begitu operasional berhenti, AMRT mengakui kerugian investasi sekitar 8,2 Triliun Rupiah di penghasilan komprehensif lain. Angkanya kecil dibanding skala grup, tetapi dari sudut pandang sentimen pasar, itu adalah pengumuman resmi bahwa satu cabang mimpi digital benar-benar bangkrut. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lebih berat lagi ada di Bank Aladin. AMRT menanam sekitar 500 Miliar Rupiah di sana dengan kepemilikan sekitar 1,99 persen. Per Maret 2025 nilai pasar investasinya turun sehingga yang tersisa sekitar 235 Miliar Rupiah saja. Selisihnya muncul sebagai kerugian nilai wajar yang belum direalisasi di penghasilan komprehensif lain, totalnya sekitar 263 Miliar Rupiah. Kerugian ini tidak menggerus laba bersih langsung, tapi jelas memukul ekuitas dan psikologi investor. Gabungan RAENA yang mati dan Bank Aladin yang turun tajam membuat pasar menghapus kembali premi growth digital yang dulu ditempelkan di harga AMRT ketika orang masih percaya penuh pada narasi ritel plus fintech.
Di atas kertas, laba bersih sembilan bulan pertama 2025 sekitar 2,31 Triliun Rupiah, sedikit turun dari sekitar 2,40 Triliun Rupiah di periode yang sama 2024. Padahal pendapatan neto di periode yang sama naik dari sekitar 88,2 Triliun menjadi kurang lebih 94,5 Triliun Rupiah. Artinya topline membesar, tetapi margin di bawahnya tertekan. Biang keladinya terutama beban penjualan dan distribusi yang naik signifikan, dari kisaran 15 Triliun menjadi sekitar 16,6 Triliun Rupiah. Biaya gaji, promosi, logistik, listrik, dan seluruh ongkos menjalankan jaringan gerai yang makin luas ikut menggerus margin. Dari sisi pertumbuhan laba, ini memang bikin banyak investor value mengernyit, karena revenue naik, tapi laba bersih justru mundur tipis.
Namun kalau berpindah ke arus kas, cerita AMRT jauh lebih menyenangkan. Kas neto dari aktivitas operasi dalam sembilan bulan pertama 2025 sekitar 4,9 Triliun Rupiah, dua kali lebih besar daripada laba bersih yang sekitar 2,3 Triliun Rupiah. Rasio CFO terhadap laba di kisaran 2 kali ini menunjukkan kualitas laba yang sangat tinggi. Ini masih ditopang oleh manajemen modal kerja yang agresif, terutama utang usaha ke pemasok yang mencapai sekitar 12,9 Triliun Rupiah. Dari kacamata cashflow, minimarket Alfamart bukan sekadar toko kecil di setiap sudut kota, tapi mesin kas raksasa yang setiap hari menyedot uang tunai dari jutaan transaksi konsumen dan baru menyalurkannya ke pemasok belakangan.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Neraca AMRT juga termasuk kategori yang banyak investor suka. Rasio utang berbunga terhadap ekuitas tercatat 0,00 pada pertengahan dan akhir 2025, artinya secara praktis tidak ada utang bank berbunga yang menggantung di atas kepala. Memang ada fasilitas pinjaman jangka pendek yang jumlahnya sempat besar, sekitar puluhan Triliun Rupiah sepanjang periode, tetapi pada tanggal pelaporan posisi pinjamannya nol karena sudah dilunasi. Aset lancar sekitar 20,3 Triliun Rupiah menutup liabilitas jangka pendek yang sekitar 19,6 Triliun Rupiah, sehingga secara likuiditas jangka pendek masih aman. Bagi investor yang trauma sama emiten ritel yang bangkrut karena utang, profil neraca seperti ini ibarat sabuk pengaman ekstra.
Sisi yang membuat debat semakin menarik ada di area Capex. Dari sekitar 4,9 Triliun Rupiah kas operasi 9M 2025, sekitar 3,8 Triliun Rupiah dihabiskan lagi untuk belanja modal, baik itu perolehan aset tetap, aset hak guna, maupun beban yang dikapitalisasi. Free cash flow yang tersisa hanya sekitar 1 Triliun Rupiah lebih sedikit, dengan margin FCF di kisaran 1% dari penjualan. Dengan kata lain, hampir 80% kas operasional kembali disedot untuk ekspansi. AMRT juga tidak cuma bangun dan renovasi minimarket, tetapi menambah eksposur ke format convenience store melalui aksi korporasi di Lawson, dengan mengambil sekitar 70 persen saham Lancar Wiguna Sejahtera dari MIDI dengan nilai sekitar 200 Miliar Rupiah. Semua ini menunjukkan manajemen masih berada di mode serang, bukan mode panen.
Dari kombinasi arus kas dan Capex ini lahir gambaran yang agak paradox. CFO kuat, tapi FCF tipis. Bagi investor growth, ini bisa dibaca positif, bahwa perusahaan sedang menanam untuk masa depan. Bagi investor value yang konservatif, ini sinyal hati-hati, karena harga saham di 1.810 jelas tidak mencerminkan saham turn around yang sedang dijual murah berdasarkan free cash flow sekarang. Saat ini, kalau angka-angkanya diannualkan, investor bicara tentang PER sekitar 24 kali, PBV sekitar 4,3 kali, price to sales sekitar 0,6 kali, price to cashflow operasi sekitar 11 sampai 12 kali, dan price to free cashflow di kisaran 45 kali. Jadi secara kas operasi masih reasonable, secara free cashflow masih termasuk mahal.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lalu apakah 1.810 ini menarik. Buat investor realistis yang paham konteks, jawabannya cenderung ya, tapi dengan catatan bahwa yang dibeli itu kualitas neraca dan arus kas, bukan pertumbuhan laba yang langsung meledak tahun depan. Investor tipe ini melihat bahwa harga sekarang sudah menghapus sebagian besar premi digital yang dulu berlebihan. RAENA sudah resmi gagal dan dihantam ke laporan, Bank Aladin sudah turun nilainya ratusan Miliar dan itu sudah nongol di penghasilan komprehensif lain. Neraca sekarang bersih dari utang berbunga, bisnis inti masih mencetak puluhan Triliun revenue dan beberapa Triliun laba, arus kas operasi dua kali laba, dan perusahaan masih agresif memperluas jaringan fisik. Dengan logika ini, 1.810 adalah harga yang mulai masuk akal untuk pemimpin ritel dengan safety neraca sekuat ini, meskipun tetap bukan zona PBV 1 atau PER 10.
Investor optimis yang bertipe growth akan melangkah lebih jauh dan bilang ini salah satu titik entry terbaik setelah pembersihan portofolio digital. Mereka tidak terlalu pusing dengan PER 24 kali di atas kertas saat laba 9M turun tipis. Fokus mereka justru ke Capex yang setara satu setengah kali laba, ekspansi Lawson dan jaringan minimarket yang terus melebar, serta potensi earning jump ketika siklus tanam ini selesai dan gerai-gerai baru masuk fase panen. Dari sudut pandang ini, kerugian RAENA dan devaluasi Bank Aladin itu hanya biaya bersih-bersih satu kali, sementara nilai jangka panjang ada di jaringan toko, brand, dan cash machine yang terus berputar.
Sebaliknya, investor pesimis melihat bilangan yang sama sebagai alasan untuk menjauh dulu. Mereka akan bilang, laba bersih turun, free cashflow tipis, PER 24 kali itu terlalu mahal untuk perusahaan yang laba bersihnya tidak tumbuh, dan P/FCF 40-an kali sama sekali tidak ramah buat value investor. Kelompok ini baru akan menganggap AMRT menarik kalau valuasi turun mendekati standar ritel tradisional, misalnya PER di bawah 15 dan PBV agak mendekati 2 kali, atau ketika manajemen membuktikan bahwa Capex belasan Triliun dalam beberapa tahun benar-benar berubah jadi lonjakan laba, bukan sekadar mempertahankan pangsa pasar.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bandar dan trader pendek juga punya bacaan sendiri. Koreksi 43% dari puncak dianggap sudah cukup dalam untuk menciptakan ruang swing dan technical rebound. Neraca yang bebas utang berbunga dipakai sebagai jaminan psikologis bahwa saham ini tidak akan tiba-tiba bangkrut seperti kasus emiten ritel yang pernah tumbang di masa lalu. Bagi mereka, pertanyaan apakah AMRT fundamentalnya bagus atau tidak hanya penting sejauh bisa menentukan seberapa berani menahan posisi ketika harga goyang.
Kalau ditarik ke angka yang sangat sederhana, untuk membuat harga 1.810 ini tampak murah dalam kacamata value konservatif dengan PER 10, laba tahunan AMRT ke depan harus naik ke kisaran 7,5 Triliun Rupiah, atau sekitar 2,5 kali dari level laba sekarang. Untuk membuat investor yang beli di harga sekarang bisa balik modal dari kas murni dalam 10 tahun, free cashflow per tahun pun harus naik beberapa kali lipat dari kondisi saat ini. Jadi siapa pun yang masuk di harga ini sebenarnya bukan cuma beli blue chip ritel stabil, tetapi ikut memasang taruhan bahwa earning jump dan lonjakan free cashflow akan muncul beberapa tahun lagi.
Jadi kembali ke pertanyaan awal, apakah AMRT di 1.810 sudah menarik. Kalau mindset investor adalah menunggu PBV 0,1 dan PER di bawah 10 seperti yang sering dijadikan bercandaan di forum, jelas ini belum. Tetapi kalau fokus investor adalah mencari bisnis ritel yang kas operasionalnya kuat, neracanya bersih, red flag non-inti besar sudah keluar ke laporan, dan masih punya runway ekspansi fisik yang panjang, maka di sinilah saham ini mulai layak dilirik. Tinggal investor jujur ke diri sendiri, kuat menahan guncangan kalau earning jump datangnya lama, atau sebenarnya hanya ingin masuk karena berharap bandarnya lagi siap menggoreng dari bawah.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
