Seri edukasi beneran serius : legit crash atau profit taking saja?
Trigger utama dari market crash adalah selalu market structure.
Apa sih market structure itu? Pembeli vs penjual. Bull vs bear.
Saat ini kita dapati situasi di mana market US very hype dan overvalued.
Secara shiller PE ratio, udah 40+ dan udah tertinggi dalam sejarah.
Secara Buffett indicator, 220%, dan sekali lagi, tertinggi dalam sejarah.
Baik secara shiller maupun Buffett indicator, valuasi NYSE saat ini lebih tinggi dari pada level dot com bubble.
Juga keduanya punya satu kesamaan, ada fundamental game changer. Dulu dot com, sekarang AI.
Di kondisi di mana market udah rally kaya gini, satu market sudah melewati fase2 di mana mereka berpikir "nyari uang itu ternyata segampang ini?"
Akibatnya, ada kecenderungan bagi pelaku2 pasar buat ignore risk.
Maksudnya?
1. Mereka aware resiko itu ada, tapi mereka pikir itu tidak akan realized dalam waktu dekat.
2. Sekalipun resiko itu akan realized dalam waktu dekat, risk appetite pelaku pasar masih tinggi.
Tanyalah ke orang2 seperti Rawr dan Fajar yang porto 8x lipat taon ini.
Kalo porto YTD +700% harus turun berapa banyak supaya BEP? Jawabannya, -87,5%.
Kalo yield porto 8x lipat berani agresif gak kena drawdown 25% aja yield porto masih 6x lipat.
Pusing gak di posisi ini? Enggak.
3. Dan mereka pikir sekalipun kena, kena nya bareng2, jadi setidaknya yang gede2 bisa ngapa2in.
Kenapa demikian? Karena dunia keuangan itu adalah industri yang hyper competitive.
Dulu pas dot com bubble, banyak asset manager yg kena pecat krn gak perform dan gak jump into dot com bandwagon. Buffett aja sampe dikata2in katanya too old school.
Jadi setiap kali koreksi/profit taking masih ada yang memanfaatkan sebagai titik entry to buy.
.
.
.
When it actually crashed?
Pucuk dari bubble terjadi ketika last bear capitulate dan last bull enter.
Bukan karena profit taking. Orang setelah profit taking, masih bisa beli lagi.
Kalo last bull udah enter, abis itu ya ga ada yg beli lagi.
Ketika semua demand sudah priced in yang tersisa hanya supply. Alias downside.
Demand dari avg down tidak ngaruh karena jomplang dibandingkan supply dari pihak2 yang mau exit ketika sadar pestanya selesai. Dan kalo kamu average down di saham yang sudah -50%, sementara saham itu sudah rally +1.000%, artinya ada pihak lain yang masih bisa profit taking 500%... Ke dirimu.
That's why, never ever average down.
Then again, balik ke penyebab crash market kita, yaitu konglo stocks.
XAU stocks fine2 aja. Commod? ADMR NCKL CPO masih mahal tuh? Banking? Udah dari kapan2 kayak gitu dan as far as I see, banking officially masih sideways di harga historical undervalued. Apalagi kalo Danantara beneran masuk, defend IHSG supaya > 8.000.
Jadi pertanyaannya. Di antara saham2 Prajogo, Hapsoro, Salim, Aguan, Elang, Haji, yang semua sudah naik banyak, kira2 yang mana yang masih ada demand?
Hint : demand itu tidak selalu harus tercipta secara organic dari sifat greed dari pelaku pasar. Kadang demand itu bisa dipicu dari konglonya sendiri yang masih berkepentingan.