$DEWA
https://cutt.ly/Hr3GgDrK, JAKARTA — PT Madhani Talatah Nusantara, pemegang saham pengendali PT Darma Henwa Tbk. terpantau terus menjual saham emiten Grup Bakrie berkode DEWA tersebut.
Madhani Talatah Nusantara yang masuk sebagai pemegang saham mayoritas DEWA lewat skema private placement pada 27 Feburari 2025, ketika itu menggenggam sebanyak 10,93 miliar lembar atau 24,81% saham DEWA.
Namun, per 10 Oktober 2025 jumlah saham DEWA yang dikoleksi Madhani Talatah Nusantara turun drastis menjadi 2,46 miliar atau 6,07%. Madhani Talatah Nusantara yang dimiliki oleh David Ronaldson (90%) dan Dwi Hartanto (10%) itu tercatat terus melego saham DEWA.
Menariknya, dalam beberapa kali transaksi Madhani Talatah Nusantara menjual saham DEWA dengan harga Rp75 per lembar.
Di sisi lain, pergerakan harga saham DEWA pada perdagangan hari ini, Jumat (17/10/2025) tercatat meningkat 154% sejak awal tahun (year-to-date/YtD) 2025 dan melesat 177,78% dalam 6 bulan terakhir dengan level harga Rp300 per lembar dan kapitalisasi pasar tercatat Rp12,21 triliun.
Jika dicermati lebih lanjut, sejak awal Januari 2025 hingga kini harga saham DEWA paling rendah berada di level Rp86 per lembar pada 9 April 2025 dan paling tinggi di harga Rp362 per saham pada 13 Oktober 2025.
Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 2 Mei 2025, Madhani Talatah Nusantara tercatat melakukan transaksi penjualan saham DEWA pada 29 April 2025 dengan harga Rp75 per lembar.
Baca Juga : Semarak Aksi Jual Saham Konglomerat, dari CUAN, DEWA, RATU, AMMN, SSIA, Hingga TAPG
Transaksi tersebut menjadi yang pertama sejak Madhani Talatah Nusantara masuk sebagai pemegang saham mayoritas DEWA lewat skema private placement. Ketika itu, Madhani Talatah Nusantara menjual sebanyak 493,33 juta lembar saham DEWA dari sebelumnya mengoleksi 10,09 miliar (24,81%), sehingga kepemilikannya tergerus menjadi 9,59 miliar (23,59%).
Terbaru, Madhani Talatah Nusantara tercatat kembali menjual saham DEWA sebanyak 816 juta lembar pada 10 Oktober 2025. Dengan harga transaksi Rp75 per lembar, Madhani mengantongi dana segar senilai Rp61,2 miliar.
Dalam keterbukaan informasi, Corporate Secretary DEWA, Mukson Arif Rosyidi menyebut bahwa transaksi jual sebanyak 816 juta lembar saham DEWA oleh Madhani Talatah Nusantara dilakukan dalam satu kali transaksi.
Setelah transaksi, kepemilikan Madhani Talatah Nusantara di DEWA menyusut menjadi 2,46 miliar atau setara 6,07% dari total hak suara. Sebelumnya, Madhani menggenggam 3,28 miliar saham atau setara 8,07% hak suara.
“Persentase saham yang ditransaksikan Madhani Talatah Nusantara 2%, status kepemilikan saham langsung,” kata Mukson, dikutip Jumat (17/10/2025).
Dalam catatan Bisnis, Madhani Talatah Nusantara sebelumnya juga terekam melepas kepemilikannya di DEWA sebanyak 606 juta lembar pada 4 Agustus 2025, dengan harga juga Rp75 per lembar. “Tujuan dari transaksi tersebut adalah untuk divestasi saham,” kata manajemen DEWA dalam keterbukaan informasi, Kamis (7/8/2025).
Sebagai gambaran, pada Februari 2025 DEWA menerbitkan 18,83 miliar saham Seri B dengan harga pelaksanaan Rp75 atau total Rp3,12 triliun melalui private placement.
Darma Henwa Tbk - TradingView
Tujuan private placement tersebut adalah untuk mengonversi utang DEWA kepada tiga krediturnya, yakni PT Madhani Talatah Nusantara, PT Andhesti Tungkas Pratama, dan PT Antareja Mahada Makmur.
Ketika itu, Madhani Talatah Nusantara mengempit 10,93 miliar (24,81%), Andhesti Tungkas Pratama 4,78 miliar (11,76%), dan Antareja Mahada Makmur 3,95 miliar (9,72%).
Namun, berdasarkan data registrasi pemegang saham di atas 5% per akhir September 2025, Madhani Talatah Nusantara tercatat memegang 3,28 miliar saham (8,07%), PT Andhesti Tungkas (11,76%), PT Antareja Mahada (9,72%), Goldwave Capital Limited (9,38%), dan Zurich Asset International (6,18%). Sementara itu, porsi saham publik mencapai 48,51%.
Adapun, Madhani Talatah Nusantara seperti dikutip dari laman resmi perusahaan, sejak pertama kali didirikan pada Oktober 2001 telah berkembang menjadi penyedia layanan utama dalam industri konstruksi dan pertambangan di Indonesia.
DEWA Raih Tambahan Modal Kerja dari Sindikasi
Sebelumnya, DEWA mengumumkan telah menandatangani perjanjian fasilitas kredit sindikasi senilai Rp350 miliar bersama PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR).
Corporate Secretary DEWA, Mukson Arif Rosyidi menyampaikan bahwa penandatanganan perjanjian dilakukan pada 29 Juli 2025, dan fasilitas tersebut akan digunakan untuk mendukung kebutuhan modal kerja perseroan.
“Penandatanganan Perjanjian Fasilitas Kredit Sindikasi berdampak positif terhadap kegiatan operasional dan kondisi keuangan perseroan. Fasilitas pinjaman ini akan digunakan untuk mendukung kebutuhan modal kerja, sehingga memungkinkan perseroan untuk menunjang kegiatan bisnis dan kelancaran operasional,” ungkap Mukson dalam keterbukaan informasi, dikutip Rabu (30/7/2025).
Baca Juga : Aksi Investor Asing Borong Saham BRMS, BUMI, ANTM, DEWA, Hingga ENRG
Fasilitas pinjaman tersebut memiliki tenor dua tahun sejak tanggal penandatanganan dengan bunga efektif sebesar 8,3% per tahun. Nilai awal pinjaman senilai Rp350 miliar juga disertai dengan opsi peningkatan komitmen hingga maksimal Rp500 miliar.
Adapun, jaminan atas fasilitas pinjaman ini mencakup mesin dan peralatan, piutang, serta persediaan perseroan. Perseroan juga menegaskan bahwa tidak terdapat dampak hukum maupun gangguan terhadap kelangsungan usaha akibat aksi korporasi ini.
DEWA optimistis bahwa dukungan likuiditas baru tersebut akan memperkuat struktur keuangan dan mendukung ekspansi usaha ke depan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. https://cutt.ly/hr3GgDp2 tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.