$CNMA dan Cendana
Lanjutan dari diskusi di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Subentra adalah sebuah simpul besar dalam sejarah bisnis Indonesia yang menjembatani dunia hiburan, keuangan, dan konglomerasi keluarga. Akar kisahnya berawal dari sosok Sudwikatmono atau Pak Dwi, sepupu Presiden Soeharto yang sejak muda terbiasa berada dekat dengan lingkaran kekuasaan. Lahir di Wonogiri pada 28 Desember 1934, Pak Dwi pindah ke Jakarta tahun 1958 dan kemudian bertemu dengan Liem Sioe Liong. Dari titik inilah ia menjadi bagian dari kongsi bisnis yang populer disebut Gang of Four bersama Djuhar Sutanto dan Ibrahim Risjad. Mereka ikut melahirkan raksasa industri seperti Bogasari dan Indocement. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Pak Dwi tidak berhenti di sana. Ia membangun dua kelompok besar. Pertama Dwi Golden Graha yang menaungi Golden Truly, Bank Surya, manufaktur sabun, dan properti. Kedua Subentra, didirikan tahun 1981 bersama Benny Suherman. Nama Subentra sendiri lahir dari singkatan SuDWI dan BenNY SUherman PuTRA. Portofolionya luas, dari kimia melalui Asahimas Subentra Chemical, keuangan melalui Bank Subentra, Multindo, Altamitra, dan Armada Subentra, hingga properti melalui Blok M Plaza yang dibangun bersama Pakuwon $PWON. Di film, Subentra berdiri paling depan. Pada 21 Agustus 1987 mereka meluncurkan Cineplex 21 lewat PT Subentra Nusantara yang kelak menjadi cikal bakal Cinema XXI. Integrasi dari impor film, distribusi, sampai pemutaran layar lebar membuat jaringan 21 dengan cepat menguasai pasar.
Krisis 1997 sampai 1998 mengguncang kokoh bangunannya. Bank Surya dan Bank Subentra dibekukan. Pak Dwi selaku pengendali Bank Surya diwajibkan mengembalikan sekitar Rp1,9 triliun dana bantuan likuiditas. Banyak aset harus dilepas, termasuk bisnis film yang pada 1999 berpindah ke tangan Benny Suherman. Tahun 2004 BPPN menyatakan kewajibannya telah diselesaikan. Sejak itu Pak Dwi lebih banyak di belakang layar, sementara anak-anaknya seperti Agus Lasmono, Martina, Miana, dan Tri Hanurita mengambil estafet.
Subentra Nusantara sendiri berganti nama menjadi PT Nusantara Sejahtera Raya atau NSR pada 1998–1999. Kendali bergeser ke keluarga Suherman dan Harris Lasmana. Dari sinilah lahir CNMA yang kini mengelola jaringan Cinema XXI. IPO digelar Agustus 2023 dan CNMA resmi melantai di BEI. Di sisi keluarga, Benny Suherman menjadi pemegang pengendali melalui PT Harkatjaya Bumipersada dengan porsi sekitar 54%. Anak-anaknya seperti Suryo, Arif, dan Melia aktif di jajaran direksi dan komisaris. Upgrade skill https://cutt.ly/ge3LaGFx
Nama Subentra juga tercatat di perbankan. Bank Subentra berdiri sejak 1989 namun ikut dibekukan pada April 1998 ketika sepuluh bank swasta ditutup operasinya. Saat itu Ongki Wanadjati Dana menjabat Presiden Direktur. Ia kemudian masuk tim pemberesan di bawah BPPN dan kini duduk sebagai Presiden Komisaris independen CNMA sejak 2024.
Sejarah hukum pun mencatat jejak Subentra. Putusan KPPU tahun 2002 menyatakan NSR terbukti melanggar Pasal 27 tentang kepemilikan silang di beberapa perusahaan sejenis namun tidak terbukti melanggar pasal lain. Perusahaan diperintahkan mengurangi kepemilikan silang tertentu. Tahun 2011 muncul polemik pajak impor film. Importir seperti Amero Mitra Film yang berafiliasi dengan jaringan 21 menyelesaikan kewajiban pajak sekitar Rp9 miliar. Meski ramai di media, ini adalah perkara korporat, bukan pidana personal.
Kini CNMA hidup dengan model bisnis ritel jasa padat modal. Semester pertama 2025 mencatat pendapatan Rp2,88 triliun, turun 2,63% dari tahun sebelumnya. Tiket menyumbang Rp1,80 triliun atau 62,4% dan F&B Rp968 miliar atau 33,6%. Gross margin bertahan di 59,5% karena skema bagi hasil dengan pemilik film stabil, tetapi operating margin turun ke 15,28% dan net margin ke 11,25% karena biaya perbaikan dan pemeliharaan naik tajam. Laba usaha menyusut ke Rp439,9 miliar, laba bersih Rp324 miliar, dan laba pemilik Rp288,6 miliar. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Meski laba akuntansi turun, arus kas tetap tebal. CFO Rp763,7 miliar, free cash flow Rp490,6 miliar, naik 19,55% dibanding tahun lalu. Kas akhir Rp1,93 triliun meski berkurang Rp96 miliar karena pembayaran dividen Rp371,8 miliar dan buyback saham Rp101,7 miliar. Struktur keuangan konservatif, dengan total aset Rp6,83 triliun, liabilitas Rp2,38 triliun, dan DER 0,53 kali. Mayoritas kewajiban berupa liabilitas sewa jangka panjang Rp1,65 triliun atau 69,5% dari total liabilitas.
Valuasinya di harga Rp119 per saham membuat kapitalisasi pasar sekitar Rp9,92 triliun dengan net cash Rp275 miliar sehingga enterprise value Rp9,64 triliun. Jika angka semesteran digandakan, PER sekitar 17,2 kali, EV terhadap EBITDA 5,7 kali, P terhadap CFO 6,5 kali, P terhadap FCF 10,1 kali, dan PBV 2,34 kali. Rasio ini menunjukkan meski PER relatif mahal, valuasi berbasis arus kas cukup menarik untuk market leader. Dividen Rp9 per saham memberi yield sekitar 7,6%.
Jajaran direksi dan komisaris CNMA kini kombinasi keluarga dan profesional. Suryo Suherman sebagai Presiden Direktur, Arif Suherman di operasi, Dody Suhartono mengomandoi bioskop dan F&B, Tri Rudy Anitio di keuangan, serta Melia dan Harris Lasmana di kursi komisaris. Komisaris independen diisi Ongki Wanadjati Dana, Mohammad Noor Rachman Soejoeti, dan Ariani Vidya Sofjan, dengan tambahan figur seperti Edwin Surya Winarta dan Sacheen Harris Lasmana.
Sementara itu estafet keluarga Sudwikatmono berlanjut lewat Agus Lasmono yang lahir 6 April 1972. Lulusan Pepperdine University dan West Coast University ini mendirikan Indika bersama Arsjad Rasjid dan Wishnu Wardhana pada 1995. Indika $INDY berawal dari media lalu ekspansi ke energi, melantai di bursa pada 2008, dan kini masuk transisi energi serta kendaraan listrik lewat ALVA. Agus juga ikut mendirikan NET bersama Wishnutama. Istrinya Joanna Nalapraya dan anak-anaknya Savanna Odelia serta Danno Stasio kerap muncul di liputan gaya hidup. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jadi Subentra adalah pangkal jejaring yang lahir dari kombinasi modal politik dan bisnis keluarga. Dari Sudwikatmono lahir arsitektur awal jaringan bioskop dan bank. Dari Benny dan Harris jaringan itu berlanjut menjadi Cinema XXI. Dari Agus Lasmono, jalurnya melebar ke energi dan konten digital. Kini CNMA berdiri di pasar modal dengan mesin kas tiket dan F&B, sedangkan Indika bergerak di energi dan kendaraan listrik. Dua jalur ini berangkat dari akar yang sama, yaitu Subentra, dan terus beradaptasi mengikuti zaman.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10









