imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BTC $BBCA $AADI

'Badut Tanpa Malu'

Di dunia investasi, ada seorang influencer bernama Dewa Portofolio. Setiap kali dia membuka mulut di podcastnya, nada suaranya penuh dengan aura sok bijak, seakan-akan ia adalah reinkarnasi Warren Buffett yang lahir di timeline TikTok.

Awalnya, dengan dada membusung dan tatapan meremehkan audiensnya, ia berkata:
"Orang kaya itu cash di rekeningnya selalu mendekati nol. Saya sendiri? Posisi cash saya hanya 0,01%. Ingat, hanya orang miskin yang senang melihat saldo besar di tabungan. Itu mental kuli, bukan mental investor!"

Penonton bertepuk tangan, ada yang sampai mencatat serius seolah sedang mendengarkan wahyu.

Namun, beberapa bulan kemudian, di podcast yang sama, dengan wajah yang sama percaya dirinya, Dewa Portofolio tiba-tiba berkata:
"Sejak dulu posisi cash saya itu selalu 30%. Kenapa? Karena saya orang yang berhati-hati, saya selalu mempersiapkan diri menghadapi krisis yang bisa datang kapan saja. Orang yang tidak pegang cash itu konyol. Itu bunuh diri finansial!"

Tidak ada rasa salah, tidak ada rasa malu. Bahkan ketika ada penonton yang berani mengingatkan di kolom komentar, ia dengan enteng menjawab:
"Mungkin kalian salah dengar. Atau kalian kurang pintar untuk mengerti strategi saya."

Sampai akhirnya, drama makin menjijikkan ketika ia bicara soal industri masa depan.
Dulu, dengan semangat koboi, ia berkata lantang:
"AI adalah masa depan! Tidak ada industri yang bisa menyainginya. Semua yang melawan AI akan dilindas seperti semut di jalan tol!"

Namun, ketika saham-saham fintech seperti Robinhood tiba-tiba meroket, ia langsung bermetamorfosis lebih cepat dari bunglon di atas lampu disko:
"Saya sudah bilang sejak dulu, fintech itu jauh di atas AI. Cuma orang bodoh yang tidak sadar. Industri fintech itu tulang punggung masa depan dunia, AI hanyalah pelengkap!"

Seakan-akan dia yakin seluruh audiensnya mengalami amnesia kolektif, atau lebih tepatnya:
Ia yakin audiensnya adalah kumpulan sapi yang rela diberi makan omong kosong tiap minggu.

Semakin lama, gaya bicaranya membuat orang mual. Ia tersenyum sok karismatik, tapi wajahnya memantulkan sesuatu yang busuk: kebohongan yang terus ia daur ulang, dilapisi confidence palsu.

Lama-lama, orang yang menonton podcastnya hanya terbagi dua:

Mereka yang benar-benar sudah terhipnotis dan menuliskan komentar seperti: Wah, makin tercerahkan, Bang 🙏🔥

Mereka yang menonton hanya untuk menertawakan, lalu muntah karena jijik dengan fleksibilitas moral sang influencer.

Dewa Portofolio akhirnya memang sukses: bukan sebagai legenda investasi, tapi sebagai badut investasi, yang keahliannya bukan membaca grafik saham, melainkan membaca arah angin opini publik lalu memutarnya 180° dengan wajah tanpa dosa.

Kalau badut sirkus memakai hidung merah, maka badut investasi ini memakai mikrofon podcast.

Dan yang paling ironis? Ia tetap punya followers jutaan. Karena ternyata, di dunia ini, kebohongan yang diucapkan dengan percaya diri akan selalu lebih laku daripada kebenaran yang diucapkan dengan rendah hati.

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy