Fed sudah memangkas suku bunga USD melemah, rupiah mendapat sentimen positif.
Arah ke BRICS membuka peluang kerja sama non-USD, sehingga cadangan devisa Indonesia lebih aman.
Investor global melihat langkah ini sebagai sinyal stabilitas geopolitik baru, apalagi setelah Presiden melakukan pertemuan dengan Xi Jinping dan Vladimir Putin.

Kesimpulan: nggak perlu bingung dengan nilai tukar rupiah. Kombinasi Fed cut + deal Presiden berpotensi memperkuat rupiah, atau minimal menahan pelemahan.

Menteri pada dasarnya hanya menjalankan tugas dan masukan sesuai arahan Presiden. Mereka bertugas melaksanakan kebijakan serta mengambil keputusan teknis di bidangnya, dengan tanggung jawab penuh agar program bisa berjalan.

Tambahan konteks: indeks Caixin China kembali pulih, menandakan pemulihan ekonomi Tiongkok. Hal ini memberi sinyal positif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dengan begitu, waktunya saham Indonesia mulai bergerak.

Sektor yang patut dicolek:

Properti diuntungkan dari suku bunga lebih rendah, kredit perumahan lebih terjangkau.

Bank digital diuntungkan dari pertumbuhan transaksi digital dan sentimen likuiditas longgar pasca-Fed cut.

Manufaktur permintaan dari Tiongkok meningkat, khususnya bahan baku industri seperti baja, nikel, alumunium, karet, dan tekstil. Emiten Indonesia yang bergerak di smelter, kimia dasar, hingga otomotif berpotensi kecipratan order tambahan.

Sektor berutang dolar (pelayaran, energi, infrastruktur) terbantu karena beban pembayaran bunga/utang valas berkurang seiring melemahnya USD dan penurunan suku bunga global.


#$IHSG

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy