imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$GGRM Pahlawan Cukai Negara: Apakah Memang Rela PHK Karyawan Demi Bayar Cukai?

Diskusi hari ini di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Gudang Garam atau GGRM adalah pahlawan cukai negara. Julukan ini bukan berlebihan, karena data resmi menunjukkan kontribusi mereka yang luar biasa besar terhadap APBN. Semester I 2025, GGRM membukukan pendapatan Rp44,37 triliun, turun 11,30% dari Rp50,02 triliun pada 2024. Penopang utama tetap sigaret kretek mesin Rp39,74 triliun atau 89,60% revenue, disusul sigaret kretek tangan Rp3,95 triliun atau 8,90%. Ekspor hanya Rp0,56 triliun atau 1,30%, jelas mayoritas bisnis mereka murni untuk pasar domestik. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di sisi biaya, angka yang paling mencolok adalah cukai. Dari total COGS Rp40,58 triliun, beban pita cukai, PPN, dan pajak rokok mencapai Rp32,80 triliun. Itu artinya 80,90% dari COGS atau 73,90% dari revenue habis hanya untuk cukai. Pada 2024, beban ini bahkan Rp38,18 triliun atau 76,30% revenue. Dengan kata lain, tiga perempat pendapatan GGRM langsung disedot ke kas negara. Bukti ini jelas tercatat di laporan keuangan konsolidasian, catatan 22 biaya pokok penjualan.

Kalau ditarik ke level nasional, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melaporkan penerimaan kepabeanan dan cukai semester I 2025 Rp147,50 triliun, dengan cukai saja Rp109,20 triliun. Dari jumlah itu, Rp32,80 triliun berasal dari GGRM. Artinya kontribusi GGRM 30,00% dari total cukai nasional dan 22,20% dari keseluruhan kepabeanan-cukai. Hampir sepertiga penerimaan cukai negara bergantung pada satu perusahaan swasta. Inilah alasan mengapa GGRM disebut patriot fiskal, pahlawan yang rela mengorbankan margin demi kepentingan negara.Upgrade skill https://cutt.ly/ge3LaGFx

Investor GGRM harus ikhlas menerima fakta pahit ini. Memegang saham GGRM berarti ikut menjadi sacrifice negara. Revenue besar Rp44,37 triliun ternyata tidak berarti profit besar, karena 74% langsung habis untuk cukai, 15% lagi untuk biaya produksi lain, dan hanya menyisakan margin tipis. Perusahaan ini lebih mirip ATM APBN daripada mesin laba murni bagi pemegang saham.

Kalau dibuat perbandingan ekstrem, ada dua versi cerita.

1. Versi ikut aturan
GGRM bayar penuh Rp32,80 triliun dalam enam bulan, setara Rp5,47 triliun per bulan. Negara puas karena penerimaan cukai terjamin. Bukti ada di laporan keuangan, dicatat rapi sesuai PSAK dan IFRS. Investor, karyawan, dan petani mau tidak mau ikut jadi bagian dari pengorbanan, karena margin perusahaan tergerus habis.


2. Versi hipotesis ilegal
Seandainya GGRM tidak membayar cukai Rp32,80 triliun dan cukup mengeluarkan Rp1 triliun untuk “mengurus” pejabat, maka ada penghematan Rp31,80 triliun atau 97% dari beban cukai. Dengan Rp1 triliun itu, bisa "mengurus" 1.000 pejabat dengan tarif Rp1 miliar atau 10.000 anak buah dengan tarif Rp100 juta. Secara hitungan jelas jauh lebih efisien. Tapi sayangnya, GGRM terlalu jujur. Mereka tidak mau main kotor, memilih jalur lurus, dan tetap membayar semua kewajiban fiskal meski konsekuensinya margin habis ditekan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Justru karena terlalu jujur, GGRM sekarang kalah saing melawan rokok ilegal. Rokok ilegal tidak membayar cukai, sehingga bisa menjual jauh lebih murah. Konsumen dengan daya beli rendah otomatis berpaling. GGRM yang terbebani cukai besar tidak bisa menurunkan harga. Akibatnya penjualan resmi tertekan, perusahaan harus melakukan efisiensi, dan yang paling pahit, mulai melakukan PHK karyawan.

Bukan hanya karyawan yang jadi korban, para petani tembakau pun terkena imbas. Selama ini GGRM adalah pembeli utama panen tembakau mereka. Tapi ketika daya serap perusahaan menurun karena kalah bersaing, banyak petani mengeluh hasil panen tidak lagi diserap sebanyak dulu. Bahkan ada yang tidak laku sama sekali. Padahal, tembakau adalah urat nadi ekonomi mereka sehari-hari.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Situasi ini jadi paradoks besar. GGRM tetap pahlawan cukai negara, menyumbang 30% penerimaan nasional, tapi di lapangan mereka kalah lawan produk ilegal. Investor jadi sacrifice negara, karyawan di-PHK, petani kehilangan pasar. GGRM korban kebijakan fiskal dan korban ketidakadilan pasar. Mereka tetap patuh, tetap bayar, tetap catat rapi, dan tetap disebut patriot. Tapi kepatuhan itu kini berubah jadi pedang bermata dua, yang membuat perusahaan, investor, karyawan, dan petani sama-sama harus menanggung beban berat.

Ikhlas kan. Jadi paham kan kenapa GGRM diversifikasi ke bisnis tol dan bandara, bisa jadi itu karena mereka sudah capek jadi pahlawan cukai. 🗿

Kalau nyangkut di saham ini maka tinggal sabar saja menunggu. Semoga tol dan bandaranya cepat cetak laba dan semoga cukai nya tidak lagi mencekik. Siapa tahu di masa depan ada yang mau goreng GGRM lagi. Saham gorengan ndak jelas aja bisa digoreng, masa GGRM ndak bisa digoreng. Malu dong sama tetangga. 🗿🗿🗿

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$HMSP $WIIM

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy