imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BSSR LK Q2 2025: Strategi Setelah Pesta Usai

Rasanya seperti pesta besar yang baru saja usai. Itulah gambaran laporan keuangan PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) untuk semester pertama 2025. Angka-angkanya memang terlihat lesu. Penjualan turun dari $482 juta ke $326 juta, dan laba bersih juga anjlok dari $80,3 juta menjadi $49,6 juta. Bagi pasar yang biasanya hanya melihat jangka pendek, cerita ini simpel saja, yaitu masa emasnya sudah lewat dan waktunya pergi. Gampang sekali berpikir seperti itu. Tapi, kalau kita lihat lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi, ceritanya ternyata lebih seru.

Untuk paham BSSR, kita tidak bisa cuma lihat angka, tapi juga harus tahu siapa pemiliknya. Perusahaan ini dikendalikan oleh keluarga Ghan Djoe Hiang melalui PT Wahana Sentosa Cemerlang. Tapi yang membuatnya unik adalah adanya dua nama besar dari luar negeri sebagai pemegang saham penting, yaitu Tata Power dari India dan GS Energy dari Korea Selatan. Kehadiran mereka bukan sekadar pajangan. Artinya, cara berpikir perusahaan ini jadi berbeda. Tata Power butuh pasokan batu bara yang stabil, dan GS Energy adalah pemain energi kelas dunia. Tujuan mereka bukan keuntungan jangka pendek, tapi keamanan pasokan untuk jangka panjang. Mungkin inilah yang membuat BSSR berani berpikir 10 tahun ke depan, bukan cuma tiga bulan. Jadinya, ini perusahaan keluarga yang didukung kekuatan global, membuatnya jadi lebih tahan banting.

Keberanian BSSR terlihat jelas dari cara mereka memakai uang. Walaupun laba turun, arus kas dari operasi masih sangat kuat, mencapai $87,7 juta. Di sinilah letak keunikannya. Saat perusahaan lain mungkin akan menyimpan uang rapat-rapat, BSSR justru melakukan hal sebaliknya. Mereka tetap membayar utang bank, membagi dividen $25 juta, dan yang paling penting, mengeluarkan $18 juta untuk mencari cadangan baru. Ini adalah pesan yang sangat jelas. Mereka tidak sedang tiarap, tapi sedang membangun untuk masa depan. Seakan-akan mereka bilang, ”Kami siap hadapi tantangan, makanya kami perkuat diri sekarang, bukan malah sembunyi.”

Langkah berani ini ada alasannya. Sumber utama pendapatan BSSR, yaitu tambang PT Antang Gunung Meratus (AGM), izinnya akan habis pada tahun 2029. Cadangannya juga makin sedikit. Jadi, mencari cadangan baru bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Mereka seperti berpacu dengan waktu untuk menemukan sumber pendapatan baru sebelum yang lama habis. Di sisi lain, cara kerja mereka banyak dibantu oleh perusahaan-perusahaan lain yang masih satu grup. Ini memunculkan pertanyaan. Apakah ini cara kerja yang sangat efisien? Atau justru ada biaya yang tidak perlu karena semua dikerjakan oleh ”teman sendiri”? Mungkin keduanya, tapi inilah cara mereka mengatur biaya selama ini.

Di tengah semua langkah-langkah perusahaan ini, ada aturan baru dari pemerintah yang disebut Devisa Hasil Ekspor atau DHE. Aturan ini mengharuskan BSSR menyimpan $13,5 juta dari hasil ekspornya di bank dalam negeri selama minimal satu tahun. Inilah kenapa di laporan keuangan muncul rekening baru ”Bank yang dibatasi penggunaannya”. Ini pengingat bahwa di bisnis tambang, pemerintah juga ikut menentukan. Aturan ini membuat pengelolaan uang perusahaan menjadi sedikit lebih rumit.

Jadi, apa cerita BSSR semester ini? Sebenarnya ada dua cerita yang berbeda. Cerita pertama datang dari laporan laba rugi, yang seolah bilang kalau masa sulit sudah di depan mata. Cerita kedua datang dari neraca dan arus kas, yang justru menunjukkan ada awal yang baru karena perusahaan terus berinvestasi. Pasar seringnya hanya mau mendengar cerita pertama yang buruk. Pertanyaannya untuk kita sebagai investor, cerita mana yang mau kita percaya? Pilihan kita itu sebenarnya lebih menunjukkan siapa diri kita, bagaimana cara kita memandang waktu dan risiko, bukan sekadar tentang BSSR.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Tag : $ADRO $ITMG

Read more...
2013-2025 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy