imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$SOLA Klien Nya Anak Titan Group

Diskusi hari ini di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

PT XOLARE RCR ENERGY TBK atau SOLA ini kalau dilihat dari laporan keuangan per Juni 2025, punya jaringan hubungan bisnis yang rapi tapi cukup kompleks, karena melibatkan pelanggan utama, pemasok, pihak berelasi, sampai ke perjanjian pinjaman bank yang penuh batasan. Dari sisi pelanggan, pendapatan mereka semuanya dari pihak ketiga dan yang jadi bintang tahun ini adalah PT Servo Lintas Raya yang tiba-tiba menyumbang Rp 78,24 miliar, padahal tahun lalu namanya bahkan tidak ada di daftar penyumbang besar. Bukan cuma itu, uang muka proyek mereka melonjak dari Rp 0,97 miliar di akhir 2024 jadi Rp 17,47 miliar, tanda ada proyek besar jalan. Piutang ke Servo juga turun dari Rp 31,04 miliar ke Rp 6,33 miliar, artinya sebagian besar sudah dibayar. Tahun lalu KSO Telogo Argo sempat memberi kontribusi Rp 14,23 miliar tapi kini menghilang dari daftar, menunjukkan pergeseran fokus pelanggan. Ada juga PT Karya Jaya Utama Mandiri yang piutangnya turun dari Rp 9,26 miliar ke Rp 2,41 miliar, dan nama baru PT Asta Rekayasa Unggul dengan piutang Rp 1,43 miliar. Total piutang pihak ketiga anjlok dari Rp 52,90 miliar ke Rp 12,25 miliar, meski piutang macet di atas 90 hari malah naik dari Rp 2,45 miliar ke Rp 4,23 miliar. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau ditarik ke hulu, PT Servo Lintas Raya ini ternyata bukan pemain kecil. Mereka adalah anak usaha dari Titan Infra Energy Group, perusahaan infrastruktur energi dan logistik yang berbasis di Gading Serpong, Tangerang, didirikan tahun 2005 oleh Handoko Anindya Tanuadji yang kini menjabat Komisaris Utama. Servo fokus di logistik batubara, mengoperasikan jalan angkutan khusus sepanjang lebih dari 113 km di Sumatera Selatan yang menghubungkan tambang di Lahat dan Muara Enim ke pelabuhan Swarnadwipa Dermaga Jaya di PALI. Titan Group sendiri punya portofolio lengkap mulai dari infrastruktur hauling, pelabuhan, pelayaran, sampai tambang batubara lewat anak usaha seperti PT Bara Anugrah Sejahtera dan PT Banjarsari Pribumi. Handoko Tanuadji adalah lulusan Universitas Gadjah Mada dan University of Southern California, dan meskipun mengendalikan grup besar, tidak ada indikasi dia atau Titan Group mengelola yayasan atau kampus sebagai bagian dari aktivitas bisnisnya. Fokus Titan murni ke sektor energi dan logistik, tapi Handoko secara pribadi punya kiprah di luar sektor ini.

Selain memimpin Titan Group, Handoko tercatat pernah menjadi Presiden Komisaris PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) hingga 2020 dan masih memegang kepemilikan signifikan sekitar 10,3% saham setara 238,74 juta lembar atau senilai kurang lebih Rp 94,5 miliar. ATIC bergerak di bidang solusi IT dan infrastruktur digital. Di dunia pendidikan, Handoko juga masuk sebagai Dewan Pembina Yayasan Putra Bhakti Sentosa, yayasan yang menaungi Universitas Dinamika. Yayasan ini fokus di pengembangan pendidikan tinggi, dan Handoko bersama sejumlah tokoh lain tercatat sebagai bagian dari tim pendiri. Artinya, meski Titan Group tidak punya yayasan pendidikan, Handoko secara pribadi tetap punya kontribusi langsung di sektor akademik.Upgrade skill https://cutt.ly/ge3LaGFx

Ke pemasok, angka hutang usaha ke pihak ketiga stabil di Rp 424,18 juta, dengan empat pemasok utama yang nominalnya sama persis selama dua periode, misalnya PT Tito Persada Mandiri Rp 267,71 juta, PT Enceha Pacific Rp 90,97 juta, PT Fortuna Petrostar Energi Rp 61,5 juta, dan CV Kencana Rp 4 juta. Ini memberi kesan pola belanja bahan atau jasa mereka konsisten.

Yang lebih dalam ada di pihak berelasi. Pemegang kendali utama adalah PT Energi Hijau Investama (EHDI) dengan 57,85% saham setara Rp 38 miliar. Mereka juga punya kaitan lewat anak usaha PT Bumiraya Energi Hijau (BREH) dan memegang piutang ke SOLA Rp 2,52 miliar berbunga 8% per tahun. Dari histori, banyak transaksi akuisisi dan pelepasan saham antar-entitas yang sama grupnya, seperti pembelian saham PT Aplikasi Bitumen Indonesia (ABI) dan PT Aspal Polimer Emulsindo (APE) dari pihak berelasi, serta pelepasan saham PT Bumi Hidro Lestari (BHL) yang berpengaruh ke tambahan modal disetor di ekuitas. Ada juga PT Xolabit Terminal Bitumen dan PT Asha Raharja Persada yang masing-masing punya 9,37% dan 7,92% saham, keduanya juga tercatat punya piutang ke perusahaan. Presiden Direktur Mochamad Bhadaiwi pegang 3,33% saham, Direktur Imam Buchairi 2,08%, dan ada juga Elvis Subiantoro serta beberapa pihak yang punya piutang ke perusahaan. KSO Arung ABI yang dulu punya piutang Rp 756 juta kini tinggal Rp 50 juta, artinya ada penarikan besar. Semua piutang berelasi ini dianggap bisa ditagih dan terikat bunga 8% per tahun.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari pembiayaan, SOLA mengandalkan fasilitas kredit modal kerja konstruksi dari BRI sebesar Rp 30 miliar untuk membiayai proyek di induk dan anak usaha. Jaminannya cukup lengkap, mulai dari persediaan material Rp 7,15 miliar, piutang Rp 30 miliar, tanah milik anak usaha dan presdir Rp 21,21 miliar, mesin pabrik Rp 5,10 miliar, sampai deposito Rp 1 miliar. Pinjaman ini disertai syarat ketat, misalnya larangan merger, jual aset, tambah utang ke bank lain, atau bagi dividen lebih dari 20%. Ada juga kewajiban jaga rasio seperti DER maksimum 300% dan Interest Coverage Ratio minimum 150%. Sejauh ini semua syarat dipatuhi.

Dari sisi modal, SOLA baru melantai di bursa pada Mei 2024 dengan menjual 656,25 juta saham di harga Rp 110 per lembar, menambah modal disetor cukup signifikan setelah dikurangi biaya emisi. Anak usaha APE punya cerita sendiri, sempat menjual 14% saham di platform crowdfunding Santara pada 2020, lalu buyback seluruhnya di 2022 dan keluar dari status penawaran umum untuk kembali jadi private company.

Kalau dirangkai, jaringan ini menunjukkan SOLA punya kombinasi pelanggan besar yang bisa mengangkat revenue, pemasok stabil yang menjaga biaya tetap terkontrol, hubungan erat dengan pemegang saham dan entitas berelasi yang jadi sumber modal atau aset, plus dukungan bank untuk pembiayaan proyek. Semua ini membuat pergerakan mereka sangat bergantung pada lancarnya proyek dengan pelanggan utama seperti Servo Lintas Raya di bawah Titan Group milik Handoko Tanuadji, disiplin keuangan agar tetap patuh covenant bank, dan solidnya sinergi dengan pihak berelasi. Di sisi lain, keterlibatan pribadi Handoko di sektor teknologi melalui ATIC dan di sektor pendidikan melalui Yayasan Putra Bhakti Sentosa yang menaungi Universitas Dinamika menunjukkan bahwa jaringan pengaruhnya meluas jauh di luar industri tambang dan logistik.Upgrade skill https://cutt.ly/ge3LaGFx

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$ATIC

Read more...

1/9

testestestestestestestestes
2013-2025 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy