Investor Dulu, Baru Jadi Trader: Kenapa Pandangan Fundamental Penting di Meja Bursa
Dulu sebelum terjun ke bursa, kakak saya lebih dulu menyarankan saya belajar investasi, bukan trading. Beliau bilang, belajar fundamental dulu baru teknikal. Awalnya, saya niat jadi investor. Tapi, godaan swing muncul saat melihat volatilitas market sebagai peluang untuk compounding portfolio.
Namun, saya tergelitik saat membaca tulisan di profil Pak Husin: “Investor dulu, baru jadi trader.” Saya jadi berpikir, apakah memang seharusnya begitu? Jadi investor dulu supaya nggak kebablasan trading?
Sampai akhirnya, saya menemukan postingan menarik. Ada seorang trader pemula yang baru satu bulan masuk bursa, dan portofolionya sudah minus 20 jutaan. Dari ceritanya, dia memilih emiten karena FOMO. Sebenarnya cerita seperti ini sering terjadi. Banyak trader-trader baru kehilangan uangnya di pasar saham. Kebanyakan dari mereka paham teknikal, atau FOMO ikut ajakan, tapi mayoritas belum paham fundamental.
Dari situ saya sadar, trader pemula sering nyangkut bukan karena tekniknya salah. Tapi karena kacamata mereka tentang emiten belum utuh. Mereka fokus melihat chart, garis-garis harga, tanpa menyadari bahwa yang mereka beli bukan sekadar grafik, tapi bagian dari bisnis nyata.
Misalnya, saat influencer A bilang $GIAA akan ARA, seorang fundamentalist akan paham kenapa perusahaan yang merugi bisa naik, karena ada katalis seperti proyek Danantara yang menjadi game changer. Atau saat $BCIP disebut-sebut akan ARA, kita paham sektor properti sedang dapat sentimen positif dari penurunan suku bunga dan insentif PPN DTP 100%. Contoh lain, saat ada yang menyebut $MENN akan terbang, kita belajar dari pergerakan insider yang mencurigakan, lalu mengecek struktur kepemilikan sahamnya — berapa porsi publik, berapa porsi Pemegang Saham Pengendali (PSP). Dari situ, kita bisa menakar risiko, bukan hanya ikut-ikutan euforia.
Banyak juga yang memilih menjadi trader karena merasa punya waktu luang. Tapi market bukan soal siapa yang lebih sering buka chart. Market itu tentang siapa yang lebih paham apa yang dia lihat di chart.
Kadang, lebih bijak menghabiskan waktu membaca laporan keuangan, riset bisnis, mengenal jajaran manajemen dan direksi, atau mengamati pergerakan sektoral, daripada sekadar mantengin orderbook sambil berharap “untung cepat”.
Saya bukan anti-trader, scalper, atau swing trader. Tapi saya berharap, siapapun yang masuk ke bursa, baik sebagai investor maupun trader, masuk dengan pemahaman yang utuh tentang dunia saham. Karena di balik angka-angka harga saham yang kita lihat, ada sebab-akibat yang membuat angka itu hidup dan bergerak.
Mau jadi investor yang sabar, atau trader yang gesit, ujungnya tetap butuh pondasi pemahaman bisnis. Chart hanyalah cermin, tapi fundamental adalah isi rumahnya.
Buat yang sedang nyangkut, tetap semangat. Semoga besok bisa cuan. Karena kerugian yang lalu tidak akan berubah menjadi keuntungan sampai kita membenahi kesalahan-kesalahan kita.