109 Juta Pekerja di Indonesia Dibayar di Bawah UMR?
Diskusi hari ini di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Bayangkan sebuah negara yang ekonominya tumbuh tiap tahun, grafik PDB-nya terus naik, bursa sahamnya makin digital, investor retailnya makin banyak, dan angka kemiskinannya, menurut statistik resmi, terus menurun. Tapi saat kita masuk ke dapur rumah tangga rakyat biasa, yang kita temukan bukan kemakmuran, tapi mie instan, utang pinjol, saldo e-wallet nol koma sekian, dan anak-anak yang masih belajar daring pakai ponsel retak milik ibunya. Itulah potret Indonesia 2025. Negara yang rajin pamer angka, tapi pelit mengakui kenyataan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Mulai dari data paling fundamental yang selalu dibanggakan pemerintah, Produk Domestik Bruto (PDB). Tahun 2024, menurut BPS, Indonesia mencatatkan PDB sebesar Rp22.139 triliun, dengan pertumbuhan 5,03%. Bahkan jika dibagi rata ke seluruh populasi, menghasilkan PDB per kapita Rp78 juta per tahun atau sekitar Rp6,5 juta per bulan. Tapi itu hanya distribusi matematis, bukan realitas. Karena ketika kita tanya berapa gaji mayoritas rakyat Indonesia, jawabannya jauh dari angka itu.
Masih dari sumber yang sama, rata-rata Upah Minimum Provinsi (UMP) di Indonesia hanya sekitar Rp3,1 juta per bulan. Lalu datang laporan dari CELIOS yang bikin kita lebih mencelos, yakni 109 juta pekerja Indonesia, alias 84% dari tenaga kerja, menerima upah di bawah UMP. Artinya, di atas kertas negara ini kaya, tapi kekayaan itu tidak menetes ke mayoritas penduduk. Bahkan bisa dibilang, air kemakmuran itu hanya menguap sebelum sempat jatuh ke bawah. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ironisnya, di tengah kesenjangan ini, semua calon presiden dalam Pilpres 2024 datang membawa mimpi besar.
1. Prabowo-Gibran: janji menciptakan 19 juta lapangan kerja baru
2. Ganjar-Mahfud: menargetkan 17 juta
3. Anies-Muhaimin: menyuarakan kerja yang adil dan inklusif
Semua kedengaran manis di podium kampanye. Tapi realitanya, dunia kerja kita sedang berubah. Bukan karena manusia yang makin malas, tapi karena AI dan otomatisasi sudah mengambil alih perlahan-lahan. Pekerjaan seperti kasir, CS, admin, bahkan sopir logistik sudah mulai digantikan mesin. Jadi pertanyaan besarnya adalah kerja 19 juta orang itu bakal di sektor apa? Kalau jenis kerjanya itu-itu saja, gajinya tetap rendah, dan posisinya mudah digantikan teknologi, maka itu bukan solusi. Itu hanya pengalihan isu. Mungkin semua akan kerja goyang Tiktok seperti goyang sadbor yang bosan jadi petani jagung lalu akhirnya goyang sadbor dan nyambi jadi karyawan BudiDolDol bin Judd Old Kamboja.
Sementara rakyat bingung cari kerja, banyak yang memilih jalan modern yaitu jadi investor saham biar kelihatan mentereng. Menurut data dari IDX dan Infobank, jumlah investor pasar modal Indonesia per April 2025 sudah tembus 16,2 juta SID, dengan 6,87 juta investor saham aktif. Mayoritas anak muda. Tapi jangan bayangkan mereka trader profesional dengan laptop 3 layar, yang banyak justru pegawai honorer yang beli saham pakai sisa gaji, berharap cuan dari rekomendasi Telegram dan pom-poman TikTok. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sayangnya, dunia pasar modal bukan surga.
Nilai transaksi saham Februari 2025 turun ke Rp248,95 triliun (Databoks Katadata)
Kapitalisasi pasar sempat anjlok 11,68% + IHSG sempat longsor 7,1% dalam satu hari di Maret 2025 + Net sell asing: Rp29,41 triliun sejak awal tahun
Pasar volatile, investor asing kabur, dan ritel makin nyangkut. Tapi pemerintah tetap kutip pajak = PPN 12% untuk jasa bursa + PPh Final 0,1% tiap jual saham
Cuan belum tentu, pajak pasti. Kalau kamu rugi, negara tetap minta jatah. Ini bukan pajak berkeadilan, ini pungutan rutin dari mereka yang sedang belajar bertahan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lalu kita bicara tentang jantung fiskal negara yakni utang. Menurut CNBC dan Kompas, utang pemerintah per Januari 2025 tembus Rp8.909 triliun. Dalam 3 bulan pertama tahun ini saja, pemerintah sudah narik Rp250 triliun utang baru, atau 40% dari target tahunan. Yang paling mencengangkan, Rp800 triliun jatuh tempo tahun ini, dengan cicilan bulanan tertinggi di bulan Juni sebesar Rp178,9 triliun.
Bukan cuma domestik, dari sisi luar negeri, menurut Bloomberg Technoz, total utang luar negeri Indonesia sudah mencapai US$430,4 miliar. Rinciannya = US$206,9 miliar utang pemerintah (naik 7,6% yoy) + US$195,5 miliar utang swasta (malah turun 1,2%)
Swasta mulai ngerem, negara tancap gas. Pertanyaannya adalah untuk apa utang segede itu? Kalau jawabannya infrastruktur dan bansos, mari kita cek ke lapangan adalah apakah jalan di desamu membaik? Apakah kualitas RSUD meningkat? Apakah kamu menerima bansos?
Tentang bansos, data dari Kemensos menyebut bahwa penerima BPNT turun dari 22 juta KPM (2024) jadi 16,5 juta KPM (2025). PKH naik dari 10 juta ke 16,5 juta KPM. Tapi ingat bahwa
⏩Besaran BPNT per bulan: Rp200.000
⏩Total setahun: Rp2,4 juta
⏩Dibandingkan UMP nasional: Rp3,1 juta per bulan
Jadi bansos setahun bahkan belum cukup untuk menyamai 1 bulan UMP.
Dan jumlah pekerja bergaji di bawah UMP adalah 109 juta orang. Artinya bahwa
⏩Yang dapat bansos: 16,5 juta
⏩Yang tidak dapat tapi tetap miskin: lebih dari 90 juta orang
Dan untuk menutup ironi ini, mari kita buka data kemiskinan. Menurut BPS:
⏩Maret 2014: 28,28 juta orang (11,25%)
⏩September 2024: 24,06 juta orang (8,57%)
Tapi, garis kemiskinan cuma Rp595.242 per bulan. Jadi kalau kamu bisa menghabiskan Rp600 ribu sebulan, kamu tidak termasuk miskin menurut negara. Walaupun kamu tinggal di kamar kontrakan sempit, beli makanan diskon, dan anakmu belum punya seragam sekolah baru.
Sementara itu, menurut standar Bank Dunia (US$6,85 PPP/hari), Indonesia masih punya 171 juta orang miskin atau 60,3% populasi. Jadi sebenarnya, penurunan angka kemiskinan versi pemerintah bukan berarti kemiskinannya hilang, cuma beda definisi kemiskinan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Indonesia bukan sedang krisis angka, tapi angka kita indah. Indonesia sedang krisis kejujuran narasi.
Ekonomi tumbuh, tapi rakyat mengecil.
Pemerintah ambil utang besar, tapi rakyat dibilang cukup hidup dengan Rp600 ribu per bulan.
Rakyat disuruh inovatif, tapi gajinya stagnan.
Investor disuruh melek finansial, tapi malah makin banyak nyangkut dan tetap dipajakin.
Ini bukan negara gagal. Ini negara yang berhasil meyakinkan dirinya sendiri dengan angka cantik.
Dan selama itu terus berlangsung, kita bukan sedang bergerak ke masa depan, kita hanya berputar di tempat, di dalam lingkaran narasi, dengan musik latar ekonomi kita kuat.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$BBRI $BMRI $BBNI
1/10









