seri analisis $BTEK
CHAPTER 2: HISTORI REVERSE AKUISISI, UTANG DAN GOODWILL
PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) awalnya dikenal sebagai perusahaan di bidang kehutanan dan perdagangan hasil hutan. Namun, setelah beberapa tahun aktivitasnya menurun dan tidak lagi punya kegiatan operasional berarti, BTEK berubah menjadi semacam perusahaan cangkang yang hanya eksis di papan bursa tanpa bisnis nyata. Situasi ini berlangsung cukup lama, sampai akhirnya pada tahun 2016 terjadi manuver besar yang mengubah wajah BTEK secara total.
Waktu itu, BTEK mengakuisisi Golden Harvest Cocoa Pte Ltd (GHCL), yang merupakan pemilik GHCI—perusahaan pengolahan kakao dengan pabrik modern di Cikande, Banten, dan kapasitas produksi hingga 120.000 ton per tahun. Proses akuisisinya tidak biasa: dilakukan melalui skema reverse acquisition 🤔, di mana GHCL justru masuk sebagai pemilik baru dengan cara menukar seluruh saham GHCI dengan 81% saham baru BTEK. Nilai transaksi ini mencapai Rp 1,35 triliun, sementara nilai aset bersih GHCI saat itu hanya sekitar Rp 263 miliar, sehingga selisihnya dicatat sebagai goodwill lebih dari Rp 1 triliun di neraca BTEK. 😱
Harapannya, GHCI akan berkembang dan menghasilkan laba besar yang bisa membayar nilai goodwill tersebut. Dan memang, di dua tahun pertama—2016 dan 2018—GHCI sempat mencetak laba: sekitar Rp 2 miliar dan Rp 76 miliar. Pendapatannya juga tergolong stabil, di kisaran Rp 748–890 miliar per tahun. Tapi ternyata, momentum itu tidak bertahan lama. Mulai tahun 2019, performa keuangannya merosot. BTEK mencatat rugi Rp 1,4 triliun di 2019, dan terus berlanjut sampai rugi Rp 719 miliar di 2024. Bahkan margin kotornya sempat negatif. Seluruh goodwill yang dulu dicatat akhirnya harus dihapus secara bertahap karena tidak bisa dibuktikan manfaat ekonomisnya.
Masalah utama ada pada tingginya struktur biaya tetap, margin tipis, volatilitas harga kakao dan beban keuangan yang besar. Utang GHCI yang sudah ada sejak sebelum akuisisi tetap membebani, bahkan harus direstrukturisasi ulang. Bunga utang sempat menumpuk hingga lebih dari USD 11 juta, dan pada awal 2024 GHCI diajukan PKPU oleh salah satu kreditur. Tak hanya itu, perusahaan juga mengalami pembalikan aset pajak tangguhan yang menambah beban akuntansi, meskipun sifatnya non-cash.
Sementara kondisi operasional makin berat, GHCL sebagai pengendali secara perlahan justru mulai melepas kepemilikannya di BTEK. Dari awalnya menguasai 81% saham, kini hanya tersisa sekitar 29%. Saham dilepas secara bertahap ke pasar sejak 2017, dan dengan adanya stock split 1:8 serta momentum pasar saat itu, diperkirakan GHCL bisa mengantongi cuan lebih dari Rp 500–700 miliar dari penjualan saham ke publik 👏. Sebuah skema yang cerdas—masuk tanpa mengeluarkan uang tunai, menguasai perusahaan tercatat, dan kemudian mendapatkan cuan dari pelepasan bertahap.
Meski demikian, kondisi BTEK hari ini tidak sepenuhnya gelap. Dengan semua beban yang ada, tetap harus diakui bahwa BTEK punya pabrik besar yang sudah terbangun, akses ke pasar ekspor yang terbukti berjalan, hubungan komersial dengan pemain global seperti Olam👍👍 dan Sucden👍👍, dan produk yang masuk ke dalam rantai pasok industri cokelat dunia.
Dan yang tak kalah penting: posisi BTEK saat ini sebenarnya sangat sejalan dengan arah kebijakan nasional. Pemerintah Indonesia saat ini secara aktif mendorong hilirisasi hasil sumber daya alam, bukan hanya nikel dan mineral, tapi juga produk perkebunan strategis seperti kakao. Melalui agenda hilirisasi, pemerintah ingin memastikan bahwa ekspor Indonesia tidak hanya dalam bentuk bahan mentah, melainkan produk olahan bernilai tambah tinggi—yang membuka lapangan kerja, menarik investasi lanjutan, dan memperkuat daya saing industri domestik.
Dalam konteks itu, BTEK sebenarnya sudah berada di jalur yang benar. Yang dibutuhkan kini adalah langkah pemulihan struktural: perbaikan neraca keuangan, optimasi utilisasi pabrik, dan strategi kemitraan yang tepat. Jika momentum ini bisa dimanfaatkan, tidak tertutup kemungkinan bahwa BTEK bisa bangkit kembali, kali ini bukan sebagai cerita tentang kegagalan reverse acquisition, tapi sebagai contoh transformasi industri yang berhasil menjawab tantangan zaman.