imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$TUGU: Asuransi Apa Yang $CUAN?

Lanjutan dari postingan sebelumnya tentang TUGU yang sudah saya bahas di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Kalau kamu baca laporan keuangan TUGU 2024 dan cuma lihat klaim bruto turun 3%, mungkin kamu bakal bilang, “Wah, mantap! Klaimnya berkurang, nih.” Tapi tunggu dulu, jangan terlalu semangat. Karena begitu kamu bongkar isinya, kamu bakal nemuin kenyataan yang agak pahit—klaim yang mereka tanggung sendiri justru naik. Jadi kalau kamu pikir ini kabar baik, ya… selamat datang di dunia akuntansi asuransi, tempat segala sesuatu bisa terlihat sehat dari luar, tapi dalamnya lagi ngos-ngosan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Jadi begini: total klaim bruto turun tipis dari Rp2,785T ke Rp2,690T, dan itu kelihatan kayak perbaikan. Tapi ternyata klaim neto alias yang benar-benar ditanggung TUGU malah naik dari Rp2,29T ke Rp2,53T, alias naik +11%. Loh, kok bisa gitu? Jawabannya sederhana: reasuransi makin pelit. Tahun lalu TUGU bisa lempar 49% klaim ke reasuradur (Rp1,36T dari Rp2,78T), tapi tahun ini cuma dapet 33% kompensasi (Rp885M dari Rp2,69T). Jadi, kalau dulu mereka punya “teman” buat bantuin bayar, sekarang teman itu mulai pura-pura sibuk. Makanya, meskipun klaim total turun, cashflow mereka tetap megap-megap karena harus keluarin duit lebih banyak.

Dan di sinilah tragedi bermula. Pas kamu bongkar per segmen, kelihatan jelas luka-lukanya. Misalnya segmen “lainnya”—ini beneran ajaib. Premi yang dikantongi Rp477 miliar, tapi klaim neto yang dibayar Rp707 miliar. Artinya, dari tiap seribu yang masuk, TUGU harus bayar seribu lima ratus. Rasio klaim netonya 148%. Ini bukan bisnis, ini donasi. Bahkan lebih rugi dari bakar duit di startup logistik.

Lanjut ke segmen onshore yang juga gak kalah menyakitkan. Premi Rp181 miliar, klaim neto Rp136 miliar, alias rasio klaim 75%. Dan yang bikin lebih pedih: klaim brutonya cuma Rp36 miliar. Jadi sisanya muncul dari cadangan klaim masa lalu atau estimasi IBNR yang mendadak meledak. Gak heran, aset reasuransi mereka naik Rp951 miliar tapi manfaat riilnya nggak terasa. Ibarat nabung buat hari hujan, tapi pas hujan datang, tabungannya gak bisa dicairin.

Kita belum bahas segmen offshore dan penerbangan. Offshore sih, cukup stabil kalau kita bicara angka kasar: premi Rp180M, klaim neto Rp106M—rasio 59%. Tapi kalau lihat trend-nya, ini segmen yang dulunya profitable sekarang mulai gigit margin. Penerbangan lebih parah: premi Rp50M, klaim neto Rp32M, rasio klaim 63%. Mungkin TUGU harusnya fokus asuransi drone aja, bukan pesawat. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Sekarang, ada gak segmen yang masih waras? Syukurlah, ada. Rekayasa, kebakaran, dan pengangkutan tampil sebagai pahlawan diam-diam. Rekayasa cuma punya rasio klaim neto 44.8%, kebakaran 54.8%, dan pengangkutan 50.7%. Ini segmen yang layak dibela, bahkan dinaikin budget promosinya. Setiap seribu yang dikumpulin dari pelanggan, cuma Rp500 yang dipakai buat bayar klaim—sisanya bisa disimpan, diinvestasikan, atau ya… dibagiin dividen.

Tapi lucunya, di segmen rekayasa dan onshore, nilai reasuransi kadang lebih besar dari klaim brutonya. Di rekayasa, misalnya, klaim bruto Rp196M tapi reasuransi diakui Rp1,18T. Wow. Bukan cuma over-covered, ini kayak dapet cashback dari banjir. Bisa jadi karena ini efek akuntansi dari cadangan klaim tahunan atau polis yang bersifat multiyear. Tapi tetep aja bikin orang mikir: kok rasanya kayak menang lotre, tapi duitnya gak kelihatan di cash flow?

Di sisi lain, pembayaran kas ke tertanggung, reasuradur, pemasok, dan karyawan melonjak dari Rp7,30T ke Rp9,09T. Dan ini salah satu penyebab kenapa arus kas operasional TUGU anjlok dari Rp2,13T ke Rp410M, padahal loss ratio-nya turun. Gak aneh kalau margin cash flow mereka jeblok. Tahun lalu CFO Margin 69.2%, sekarang tinggal 10.9%. Dan Free Cash Flow Margin? Dari 67.6% jadi 9.5%. Ini bukan pelemahan biasa, ini udah level dibanting.

Jadi kesimpulannya? TUGU kelihatan sehat secara headline: premi tumbuh, loss ratio turun, underwriting profit naik. Tapi begitu kamu kulik lebih dalam, banyak luka dalam yang harus cepat dijahit. Segmen tertentu seperti “lainnya”, onshore, offshore, dan penerbangan bukan cuma gak ngasih untung, tapi secara aktif ngurangin profit. Dan parahnya, bantuan dari reasuransi juga makin minim, jadi TUGU harus bayar lebih banyak dari kocek sendiri.

Kalau dibiarkan terus, bisa-bisa segmen yang untung selama ini dipakai buat subsidiin segmen rugi. Dan itu bahaya. Karena sekuat-kuatnya core bisnis, kalau kamu terus dipaksa nutup lubang bocor yang gak ditambal, suatu saat kamu sendiri yang tenggelam. Jadi mau gak mau, TUGU harus mulai seleksi: mana segmen yang layak dipertahankan, dan mana yang harus dibatasi atau bahkan ditinggalkan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Karena di akhir hari, ini bukan soal klaim turun atau naik. Ini soal siapa yang nanggung, berapa banyak, dan kenapa itu terus kejadian di lini yang sama. Kalau gak segera dibenahi, ya tinggal nunggu waktu sebelum margin mereka beneran habis dibakar dari dalam.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
2013-2025 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy