imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Saham Properti dengan Laba Terbesar di IHSG

Sharing lebaran di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Di tengah lesunya sektor properti, ada sembilan saham yang diam-diam jadi raja laba di IHSG. Mereka mencetak keuntungan terbesar dibanding rekan-rekannya yang lain. Tapi seperti pepatah lama: “Tak ada gading yang tak retak,” sembilan saham ini juga tak ada yang benar-benar sempurna. Ada yang sehat tapi mahal, ada yang murah tapi utangnya bikin napas tersengal, dan ada pula yang terlihat bugar padahal isi dompet tinggal bon struk. Di sinilah seni investasi bermain: bukan soal mencari yang sempurna, tapi soal memilih mana yang paling masuk akal untuk dikompromikan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Ambil contoh JRPT. Ini mungkin kandidat paling lengkap. Laba bersih 1,13 triliun, naik 12,53%, dengan revenue yang ikut tumbuh 17,75%. Free cash flow sehat di 763 miliar, utangnya hampir nol (hanya 445 juta), dan kasnya 797 miliar. Bahkan bagi dividen 3,29%. Satu-satunya "dosa" saham ini cuma satu: PBV-nya 1,02—sedikit lebih mahal dari value ideal, tapi kalau dibanding utangnya yang mini dan kinerja stabilnya, itu bisa dimaafkan.

Kemudian ada CTRA, si jagoan diskon. Harga saham turun tajam -42,31%, tapi di balik sentimen negatif, justru tersembunyi fundamental yang solid. Laba bersih 2,13 triliun tumbuh 15,18%, revenue naik 21,01%, free cash flow positif 776 miliar, dan kas 10,2 triliun jauh lebih besar daripada utang 7,45 triliun. PBV-nya 0,64 dan PER 6,54—dua-duanya masuk kategori murah. Bahkan tetap royal memberi dividen 2,8%. Kalau ini masih dihindari pasar, sepertinya pasar memang sedang buta warna.

DMAS adalah definisi hemat pangkal sehat. Laba 1,33 triliun tumbuh 10,24%, kas 1,76 triliun jauh lebih besar dari utang hanya 500 miliar, dan free cash flow positif 663 miliar. Sayangnya, saham ini sepi peminat karena tidak bagi dividen dan harga saham juga ikut lesu -20,47%. Tapi jika tujuannya adalah cari perusahaan properti dengan neraca setajam silet dan utang minimal, DMAS pantas masuk radar.

Lalu ada PLIN, yang diam-diam produktif. Laba 997 miliar naik 62,66%, revenue juga tumbuh, dan free cash flow positif 541 miliar. Kas 704 miliar masih bisa menutup utang 529 miliar. Menariknya, saham ini rajin kasih dividen tebal 6,06%. Sayangnya, tetap diabaikan pasar—harga saham malah turun -8,39%. Mungkin karena namanya bukan bagian dari keluarga properti populer.

$PWON juga tampil dengan keuangan yang sehat. Free cash flow 2,16 triliun dan kas 9,15 triliun lebih dari cukup untuk menutup utang 6,44 triliun. PBV 0,79 dan PER 7,89 tergolong murah, dan tetap menyisihkan 2,65% untuk dividen. Tapi laba bersihnya turun -1,45%, dan harga saham juga terkoreksi -19,43%. Artinya, walaupun neraca bagus, mesin operasinya sedang perlu servis ringan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

$SMRA adalah kebalikan dari PWON: pertumbuhan meledak, tapi dompet bolong. Laba naik 79,3%, revenue melesat 59,54%, tapi utangnya 10,54 triliun sementara kas cuma 3,29 triliun. Free cash flow masih positif di 430 miliar, PBV dan PER masuk akal, dan dividen tetap dibagi. Tapi rasio utangnya membuatnya terlihat seperti atlet marathon yang kehabisan air minum.

Sementara itu, BSDE dan $LPKR menjadi contoh klasik perusahaan dengan laba besar tapi keuangan tak stabil. BSDE mencetak laba 4,36 triliun dengan pertumbuhan 124%, revenue juga naik 19,56%. Tapi free cash flow-nya hanya 87 miliar, dengan utang 14,46 triliun. Kas 8,96 triliun memang besar, tapi tetap belum cukup untuk meredam beban bunga yang mengintai. Lalu LPKR… ini dia jawara laba dengan angka 18,75 triliun. Tapi revenue justru turun -31,71%, dan pertumbuhan laba yang melonjak 37.287% sudah cukup menjelaskan bahwa ada sesuatu yang ‘tidak biasa’. Kemungkinan besar bukan dari bisnis operasional inti. Free cash flow positif 1,57 triliun, tapi utangnya 13,11 triliun. Dengan PBV 0,19 dan PER 0,31, saham ini terlihat super murah. Tapi bisa saja ini murah karena pasar tahu sesuatu yang belum dicetak di laporan keuangan.

Terakhir, MKPI adalah primadona overvalued. Laba 985 miliar, free cash flow 1,21 triliun, kas 2,17 triliun, dan... tidak punya utang. Tapi PBV-nya 3,25 dan PER 24,15 membuatnya seolah sedang dilelang di galeri seni, bukan di bursa efek. Harga sahamnya 25 ribu, tapi malah turun -7,89%. Dividen pun hanya 2,13%. Jadi walau dari sisi operasional sehat, valuasinya membuat banyak investor berpikir dua kali.

Akhirnya, sembilan saham ini membuktikan satu hal penting: tidak ada saham properti yang sempurna. Semua punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Investor perlu pintar-pintar kompromi: mau yang cashflow bagus tapi growth lesu, atau yang growth kencang tapi utangnya tinggi. Mau yang murah tapi riskan, atau yang sehat tapi mahal. Karena pada akhirnya, investasi itu bukan soal menemukan pangeran berkuda putih, tapi memilih mana yang paling mungkin diajak hidup damai di tengah volatilitas pasar. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/5

testestestestes
2013-2025 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy