NILAI SEBUAH TRUST ....

Seberapa berhargakah kepercayaan (Trust)? Ijinkan Mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US ini bercerita. Kebeneran hari Sabtu kemarin saya dan istri ke Gandaria untuk beli HP pengganti HP Oppo saya yang sudah berusia 5 tahun. Hp lama tersebut masih bagus, berfungsi, dan sebenernya masih bisa digunakan. Hanya karena sudah 5 tahun maka waktunya diganti saja supaya update dengan beragam teknologi terkini yang ada AI nya. Siapa tahu saja perut buncit saya bisa langsung six pack ketika difoto. Walau cuma foto tapi gpp lah dari pada tidak hehehe.

Nah singkat cerita kami pun ke gerai OPPO dan beli seri Find N3 yang bisa dilipet. Jaman canggih bukan baju aja dilipet, hape juga bisa rupanya. Di gerai OPPO hape tersebut dijual 19,9 JT padahal di Tokopedia HP yang sama dijual 16 jutaan. Tapi karena beli hape lumayan mahal dan harus bersama istri maka istri selalu maunya membeli di Gerai resmi. Katanya lebih "terpercaya". Memang sih kami dikasih ngopi gratis ... dan itu kopi termahal karena harganya hampir 4 juta lebih sesuai selisih harga hape di Gerai dan di Toped.

Cerita nyata dari Mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US diatas jadi bukti kuat arti dari sebuah "Kepercayaan" bagi setiap kita. Bagi kebanyakan orang harga murah belum tentu jadi pilihan karena mereka tidak percaya terhadap barang tersebut. Sebaliknya untuk sebuah sesuatu yang mereka percayai bagus maka setiap orang pasti mau beli yang bagus walaupun harga mahal selangit. Coba saja misalnya kalau ada dana unlimited bukankah setiap kita mimpinya punya mobil BMW atau Mercy? Padahal kalo secara fitur dll masih banyak yang sama "seperti" BMW dan Mercy dengan harga jauh lebih murah.

Sama dengan pasar keuangan dan pasar modal. Tanpa Kepercayaan uang apapun di dunia ini hanyalah kertas semata yang di print. Nilai intrinsik dari mata uang hanya bisa muncul ketika uang tersebut "Dipercaya" dalam kegiatan menghasilkan barang maupun jasa. Tanpa Kepercayaan yah kita balik ke jaman bayar gaji pake garam atau pakai emas atau bahkan dengan cara barter.

Sayangnya sekarang pasar modal Indonesia sedang tidak dipercaya oleh investor. Yang mungkin awalnya tidak dipercaya investor asing sekarang merambah investor publik juga mulai tidak percaya. Belum lagi pernyataan pasar saham adalah judi ditarik oleh pemerintah, muncul lagi Video yang meremehkan pasar modal bagi ekonomi Indonesia. Seolah olah pasar modal dan pasar kelontong dua hal yang tidak berhubungan. Bukannya membangun kepercayaan pihak regulator pun terpancing dalam upaya cepat dengan kebijakan "Buy-back tanpa RUPS" yang tergesa gesa. Seolah olah kepercayaan mau digantikan atau bahkan dilawan dengan uang semata. Bisakah?

Tidak bisa. Saya sebagai Mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US paham betul tidak ada uang seberapapun yang bisa membeli atau mengganti arti dari kepercayaan. Tidak semua soal uang, Boby Saputra aja gak bisa beli acara Indonesia Idol walaupun bapaknya orang terkaya ke 7 di dunia, padahal dia mau ngetop. Aksi Buy-back tanpa RUPS hanya akan menjadi sentilan kecil saja bagi pasar modal yang tidak ada artinya.

Bayangkan jika saya pemilik perusahaan dengan misal uang Rp 5T lalu direksi dengan seenaknya memutuskan uang yang ada dipakai untuk beli balik saham perusahaan, apakah saya tidak marah? Bukankan kalo punya uang sebanyak itu mendingan dia bagi Deviden ke saya sebagai pemilik perusahaan? Urusan saya mau nambah saham atau mau pake liburan atau beli mobil Konig itu urusan saya. Masa uang investor dipakai beli saham yang harganya bisa naik turun? Ini di perusahaan swasta.

Di BUMN lebih parah lagi, kalo ada uang misalnya di $BBRI lalu direksi main pake itu uang untuk beli saham dan masuk saham treasury apakah anda tidak marah? Kalo itu saham turun lalu saham treasury mencatatkan kerugian bukankah itu sudah merugikan negara? Korupsikah? Dirut Pertamina aja masuk penjara gara gara jual gas "katanya" kemurahan dibawah harga pasar. Padahal harga pasar yang dipake jauuh berbeda periode. Jadi tidak semudah itu Ferguso membangun kepercayaan hanya dengan kebijakan Buy-back tanpa RUPS.

Sementara efek dari kebijakan Buy-back tanpa RUPS masih diragukan namun efek dari hilangnya kepercayaan sudah nyata. Sejak Oktober sampai saat ini yield SUN pemerintah RI sudah naik hampir 1,5%. Itu artinya untuk membayar bunga dari total hutang pemerintah yang sebesar 550 Milyar Dollar APBN kita harus merogoh 8,25 Milyar Dollar lebih banyak dari sebelumnya. Itu setara hampir 140 T rupiah loh. Kalo suku bunga naik lebih tinggi bisa bisa program MBG andalan Pak Presiden Prabowo terancam karena habis untuk bayar kenaikan bunga semata.

Itu nilai kepercayaan kalo dirupiahkan dan semoga bisa kasih pandangan lebih menyeluruh. Tapi ahhh itu kan hanya tulisan seorang Mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US saja. Mungkin banyak yang lebih pinter punya pandang yang lebih hebat dan malah melihat keuntungan dari kejadian sekarang. Hanya kok terlalu beresiko yah main di tepian jurang resesi.

Oh iya, Turki sudah resesi parah bulan ini.

Salam dari Mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US


JV
$IHSG $BBCA

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy