Kondisi Likuiditas Global
Artikel sangat panjang.
Kondisi likuiditas global saat ini berada dalam fase transisi yang menarik. Di satu sisi, bank sentral utama seperti Federal Reserve (Fed) dan European Central Bank (ECB) telah melakukan pengetatan kebijakan moneter selama satu tahun terakhir walaupun ECB sudah mulai melakukan QE. Namun, di sisi lain, ada indikasi bahwa tren ini mulai berubah. Indeks ISM sudah berada di atas angka 50, yang menandakan bahwa ekonomi mulai memasuki fase ekspansi. Secara historis, ketika ISM mulai meningkat, likuiditas cenderung mengikuti, yang kemudian mendorong apresiasi harga aset berisiko seperti Bitcoin dan ekuitas (saham).
Salah satu faktor utama yang akan mempengaruhi likuiditas global ke depan adalah siklus refinancing utang. Pemerintah di seluruh dunia memiliki beban utang yang besar, dan ketika utang tersebut jatuh tempo, bank sentral kemungkinan harus turun tangan dengan menyediakan likuiditas tambahan agar sistem keuangan tetap stabil. Hal ini sangat relevan di Amerika Serikat, di mana Departemen Keuangan AS (U.S. Treasury) telah menggunakan strategi pembiayaan jangka pendek yang meningkatkan likuiditas dalam sistem. Namun, strategi ini mulai berkurang, yang dapat memaksa Fed untuk kembali memperluas neraca keuangannya. Apakah kebijakan ini akan disebut Quantitative Easing (QE) atau tidak, sebenarnya tidak terlalu penting—yang lebih relevan adalah bagaimana kebijakan tersebut akan berdampak pada pasar. Atau yang bisa kita ukur adalah bagaimana uang bergerak, yang terlihat dalam supply uang M2.
Selain AS, China juga menjadi faktor penentu dalam dinamika likuiditas global. Jika pemerintah China meluncurkan paket stimulus besar-besaran, maka ini akan menginjeksi likuiditas yang signifikan ke dalam sistem keuangan global, yang pada akhirnya dapat mendorong apresiasi aset berisiko. Jepang juga menjadi pemain yang patut diperhatikan, karena bank sentralnya terus memperluas neraca keuangan secara diam-diam. Semua faktor ini menunjukkan bahwa likuiditas global kemungkinan akan semakin meningkat dalam beberapa bulan mendatang, yang dapat menandai awal dari siklus apresiasi harga aset baru.
Namun, penting untuk dicatat bahwa likuiditas tidak bergerak dalam garis lurus. Selalu ada fase fluktuasi, dan pasar sering kali mengalami volatilitas dalam jangka pendek sebelum menemukan arah yang lebih jelas. Saat ini, aset berisiko berada dalam periode konsolidasi, di mana investor mencoba menavigasi pergerakan pasar selanjutnya. Kadang volatilitas yang dalam jangka besar ini, menyebabkan kapitulasi di pasar saham dan crypto. Karena bagi trader atau investor amatir, loss 30% saja sudah dianggap sebagai titik untuk menyerah. Dan bagi mereka yang melacak metrik likuiditas seperti Fed net liquidity atau M2 global, saat ini tampaknya kita berada di titik reversal. Pertanyaannya adalah, seberapa cepat bank sentral akan merespons tekanan akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya beban utang?
Federal Reserve menghadapi dilema besar. Kebijakan QE—atau apapun istilah yang digunakan karena "QE" kini memiliki konotasi negatif—kemungkinan akan kembali lebih cepat dari yang diperkirakan. Diperkirakan, kebijakan ini bisa mulai terjadi pada pertengahan hingga akhir 2025, tetapi jika kondisi makroekonomi memburuk lebih cepat, Fed bisa dipaksa bertindak lebih awal.
Alasan utama di balik potensi kembalinya QE adalah siklus refinancing utang yang sangat besar. Departemen Keuangan AS harus menggulirkan sekitar 30% dari total utangnya tahun ini. Ini adalah angka yang sangat besar, dan pasar kemungkinan tidak memiliki kapasitas untuk menyerap semua penerbitan obligasi tersebut tanpa intervensi dari bank sentral. Pembeli asing tidak lagi berperan sebesar sebelumnya, dana pensiun juga mulai enggan menambah kepemilikan obligasi, dan hedge fund hanya tertarik pada jangka pendek. Jika tidak ada pembeli yang cukup, maka Fed kemungkinan besar akan menjadi pihak yang menyediakan likuiditas melalui QE atau mekanisme serupa dengan nama berbeda.
Selain itu, indeks ISM yang masih di awal zona ekspansi menjadi indikator penting. Secara historis, ketika ISM mulai naik, Fed biasanya merespons dengan meningkatkan likuiditas dalam kurun waktu sekitar 6 hingga 7 bulan setelahnya. ISM mulai pulih pada kuartal pertama tahun ini, maka ini akan mengarah pada kemungkinan ekspansi neraca Fed pada tengah tahun 2025.
Faktor lain yang dapat mendorong Fed untuk kembali meningkatkan likuiditas adalah tren penurunan inflasi dan meningkatnya tingkat pengangguran. Seiring dengan melambatnya ekonomi, tekanan terhadap pasar tenaga kerja akan meningkat, memberikan Fed alasan untuk mengubah arah kebijakan. Selama ini, Fed telah melakukan kenaikan suku bunga secara agresif, tetapi ada indikasi bahwa mereka sengaja melakukan overshooting agar memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga dan kembali menginjeksi likuiditas saat dibutuhkan. Dengan meningkatnya biaya pelayanan utang, Fed kemungkinan harus mulai melakukan monetisasi utang guna memastikan sistem tetap berfungsi.
China juga menjadi faktor kunci dalam perhitungan kebijakan moneter global. Jika Bank Sentral China (PBOC) meluncurkan paket stimulus besar, which might be sudah terjadi diam diam, maka ini bisa memicu Fed untuk bertindak lebih cepat guna menjaga likuiditas dolar dan menghindari tekanan likuiditas global. Dunia saat ini sedang berada dalam siklus inflasi moneter jangka panjang, dan Fed sangat menyadari bahwa perannya dalam menjaga stabilitas keuangan global tetap penting.
Overall, secara makro global, we are in the end of trasition period. Periode dimana volatilitas sangat tinggi, periode risk off. But seperti pada periode akhir yang sudah - sudah, harusnya ini menjadi periode dimana bottom bisa kita lihat. Ini bukan berarti kita harus menjual aset, tetapi lebih agresif dalam melakukan pembelian aset - aset berfundamental baik.
Soal urusan, apakah QE tahun ini akan memicu bubble adalah urusan di lain waktu, dimana kita harus mengukur apakah produktifitas sebanding dengan modal (uangnya). Jika sebanding maka bisa jadi tidak akan ada bubble risk yang memicu great depression yang orang bilang di 2030.
Berikut Global Macro Outlook Goinvest saya berikan di attachment.
$PTRO $WIFI $BBRI