imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Coal belum akan kiamat, tapi utk sementara blm akan manggung

Bbrp bulan terakhir coal terus turun sampai sekarang di sekitar $100. Jauh bgt dari tinggi2 nya wkt 2022 di $400. Waktu itu sempat cuan kotos2 dari emiten2 coal.

Menurut https://cutt.ly/NrylLvit harga coal masih akan tertekan utk bbrp waktu ke depan. Penyebabnya adalah musim dingin 24/25 yg tidak terlalu dingin (green house effect?), sehingga tidak memerlukan coal terlalu banyak. Padahal negara2 di utara sudah sedia coal banyak2 utk persiapan musim dingin. Akibatnya sekarang persediaan coal luber2.

Tetapi utk jangka waktu panjang, kebutuhan coal akan terus meningkat. Kebutuhan energi dunia akan terus meningkat. Apalagi dengan maraknya EV dan AI yg perlu listrik banyak. Dan selain nuklir, coal adalah sumber tenaga listrik yg paling murah. Listrik dari EBT (solar panel, win, etc) memang naik tajam tapi blm mampu memenuhi peningkatan kebutuahan listrik.

Sementara investasi pada tambang coal banyak terhambat, banyak yg tidak mau membiayai karena dianggap energi kotor atau karena dianggap suah mau sunset. Akibatnya peningkatan produksi terbatas. Demand naik supply stagnant berarti harga coal naik. Ini sejalan dengan pola harga commodity yg cyclical. Cyclicalnya harga coal ini yg jadi kesempatan kita utk cuan banyak2. Mesti cermat perhitungkan kapan di bottom utk masuk, kapan di top utk keluar. Kalau pas bisa seperti di tahun 2022.

Poin2 penting artikel sbb:
- Investment in new coal production has dwindled in much of the world as shareholders and banks increasingly refuse to approve new spending on projects 😎
- Banks have cut back on coal lending, either on ethical grounds or because of financiers’ concerns they’ll be funding assets that will be shut long before they can generate a profitable return
- Demand, however, continues to rise in India and China, outpacing breakneck rates of expansion in solar and wind, while even developed countries look to coal to help power the artificial intelligence boom 😎
- With scant new capacity coming in the market is looking tighter over the medium to long term
- "Biasanya harga tinggi akan membuat produser invest utk menambah produksi, tapi utk coal bahkan harga tinggi di 2022 tidak mencipatkan investasi. Justru banyak yg ingin keluar dari coal"
- while supply has been constrained, demand has kept rising, as millions more homes are electrified, cars are charged and factories are built
- Tech companies are building data centers to support cloud computing and AI (makan listrik banyak)
- Surging green energy is reducing the need for fossil fuels — but not enough
- In the US, Germany, and Japan, they’re extending the life of coal plants that had been scheduled to close
- China is facing swelling inventories since the start of last year
- China Coal Resource estimated total inventories up 21% from the previous year
- China Shenhua Energy Co., a unit of the nation’s biggest coal firm, has stopped buying foreign coal
- China’s largest coal associations have called for companies to adjust in order to prevent “severe” oversupply
- "now coal stockpiles are full everywhere.”

Kelihatannya sekarang belum wkt nya masuk emiten coal. Utk sementara coal masih melimpah ruah di pasar. Harga masih akan tertekan. Harga saham akan mengikuti turun. Tapi nanti2 pasti harga coal naik lagi, mengikuti demand-supply yg tidak seimbang. Itu waktunya utk masuk.

Sekarang fokus dulu sama masalah tarif di AS yg berpotensi menimbulkan perang dagang global. Sudah ada yg bilang ini keadannya mirip dengan great depression 1930an di AS dulu. Dipicu tarif yg menyebabkan perang dagang global. Kalau ini sampai terjadi, tewas dah.

Semoga bermanfaat 🙂

$ITMG $BSSR $PTBA

Read more...
2013-2025 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy