imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Ekspansi bisnis tidak selalu menjadi keputusan yang baik

Perusahaan yang berencana untuk ekspansi biasanya akan mendapatkan sambutan yang baik dari investor. Ekspansi memberikan sinyal bahwa perusahaan akan terus tumbuh ke depannya.

Namun sayangnya tidak semua ekspansi akan menguntungkan, khususnya bagi investor.

Seperti apa contohnya?

1. Ekspansi yang gagal total

Hal ini sering terjadi pada perusahaan yang membuka lini usaha baru. Kemungkinan gagal akan semakin besar jika perusahaan sebelumnya tidak memiliki core competence di bidang usaha tersebut.

Salah satu yang pernah saya perhatikan adalah kegagalan MDRN ketika membuka bisnis ritel 7-Eleven. Awalnya memang terlihat prospektif dan mendapatkan sambutan yang baik dari konsumen. Sayangnya kebutuhan modal untuk membangun gerai baru sangat besar. Belum lagi biaya operasional yang tinggi dan belum bisa ditutup dengan baik oleh penjualannya.

Dan pada akhirnya, MDRN terpaksa menutup bisnisnya tersebut.


2. Ekspansinya sebenarnya bisa membuat penjualan tumbuh. Sayangnya modal (biasanya capex) yang digunakan terlalu besar. Ujung-ujungnya kenaikan laba tidak memberikan imbal hasil yang memuaskan terhadap modalnya.

Salah satu indikator yang bisa menjadi referensi kita adalah ROE walaupun terlihat masih cukup tinggi namun cenderung terus menurun dari tahun ke tahun.
Note:

Ketika kondisi ekonomi sedang memburuk, biasanya sebagian besar emiten mengalami penurunan ROE. Hal tersebut bisa kita maklumi.

Namun kita harus waspada jika ekonomi normal-normal saja namun ROE suatu perusahaan terus menurun. Apakah produk barunya tidak mendapatkan sambutan yang bagus? Apakah toko barunya tidak laku?


Apakah kalau ada dana, ekspansi menjadi keharusan?

Bisnis yang tumbuh adalah sesuatu yang baik. Namun ada satu hal yang lebih penting dari itu.

Ekspansi yang dilakukan harus bisa memberikan nilai tambah bagi investornya.

Bahkan akan lebih baik bagi investor jika mendapatkan nilai tambah walaupun bisnis perusahaan tidak tumbuh.

Lho maksudnya bagaimana?

Jika memang ekspansi tidak memberikan imbal hasil terhadap modal yang memuaskan, akan lebih baik jika modal tersebut dibagikan ke .investor sebagai dividen. Dengan demikian, investor akan memiliki kebebasan untuk menginvestasikan lagi dividen yang diterimanya ke tempat yang lebih menguntungkan.

Contohnya:

Setelah ekspansi, laba bersih meningkat dari 20 miliar menjadi 21 miliar per tahun. Sayangnya, untuk meningkatkan laba bersihnya, perusahaan membutuhkan modal 40 miliar.

Artinya ekspansinya memberikan imbal hasil hanya 2,5% terhadap modalnya (1/40).

Akan lebih menguntungkan bagi investor jika modal yang digunakan untuk ekspansi dibagikan saja menjadi dividen. Investor akan dengan mudah mendapatkan return yang lebih baik dengan menempatkan dividen yang diterimanya ke dalam ORI yang bisa memberikan return sekitar 6% per tahun.


Alternatif lain yang cukup feasible juga pada kondisi tersebut adalah melakukan buyback sahamnya. Buyback akan membuat jumlah saham beredar berkurang sehingga investor akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar untuk setiap saham yang dimilikinya.

Tentu saja tidak semua buyback akan menguntungkan. Buyback yang dilakukan pada harga yang terlalu tinggi akan menguras kas perusahaan lebih dalam.

Buyback hanya akan menguntungkan jika dilakukan ketika sahamnya berada di bawah nilai wajarnya. Dengan demikian, kas yang dikeluarkan untuk buyback akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

Jadi, jangan terlalu eforia ketika mendengar perusahaan berencana untuk ekspansi. Cermati baik-baik detail ekspansinya seperti apa. Ekspansi yang ceroboh hanya akan merusak value bisnisnya.

$IHSG

Read more...
2013-2025 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy